Tentang Mamaku

Gak banyak cerita yang bisa diambil dari kita berdua, ma. Mungkin karena sejak kecil kita nggak dekat.  Sepanjang aku dan mama hidup di dunia, mungkin hanya 1/5 waktu yang kita habiskan bersama. Meski begitu, hubungan ibu-anak nggak akan pernah membuat kasih sayang jadi menghilang.

Kalau aku bisa deskripsikan mama dalam satu kata, mungkin aku akan bilang "perjuangan". Kalau mama ditanya aku anak seperti apa, mungkin mama akan jawab "yang gak suka angkat telepon". Meski awalnya mama marah dengan kebiasaanku, tapi kelamaan mama nerima dan menyesuaikan keinginan mama terhadap anak pendiam seperti aku. Aku pun yang sadar bahwa ibu adalah segalanya, mencoba mengeluarkan diri dari zona nyaman dengan membiasakan diri menelepon mama secara rutin. Kita saling menyesuaikan, ma.

Akhir dari kebersamaan kita, chat terakhirku mama gak balas. Telepon terakhir dari mama gak keangkat. The last call. Setelah mama nggak ada, jujur aku merasa cukup kuat karena terbiasa ditempa untuk belajar hidup mandiri, sendiri. Aku juga meyakini kepergian mama dengan cara seperti ini adalah takdir dari Allah. Takdir yang tidak bisa ditolak, takdir yang telah tertulis sejak kita semua belum ada di dunia ini. Aku nggak pernah ingin bersedih di balik kata 'seandainya', karena bagaimanapun, takdir ini pasti terjadi dan waktu tidak akan pernah kembali. Meratapi pun bukan hal yang bisa membantu mama setelah mama pergi.

Aku hanya sedih karena kita gak sempat kumpul, aku belum sempat bahagiakan mama. Mungkin aku gak bagus dalam berkata-kata, pun juga dalam menyampaikan perhatian. Tapi selalu tertanam dalam lubuk hatiku yang terdalam, kalau aku harus membuat mama senang, terutama nanti kalau mama pulang. Aku pengen manjakan mama dengan kebahagiaan dan harta. Kalau diuraikan dalam kata-kata, mungkin begini, "ini loh ma hasil kerja mama capek capek di luar negeri. Anak mama bisa kasih mama semua kebahagiaan dan kenyamanan yang sebelumnya belum mama dapatkan."

Tapi, kepergian mama memutus itu semua. Memutus harapanku di masa depan untuk membahagiakan mama dengan hasil kerja kerasku. Mama pergi ketika tanggung jawab mama sudah selesai, tapi hak mama belum benar-benar tercapai. Hak untuk mendapat kasih sayang dan service dari anak-anak yang mama besarkan. Ini menyakiti hatiku, ma.

Beberapa hari ini, aku mencari tahu, cara membalas budi dan menebus dosa pada orang tua yang telah tiada, terutama ibu. Satu-satunya cara adalah doa. Hanya doa yang mama bisa dengar di alam sana. Tulisan ini pun tiada berarti karena mama gak akan tau aku lagi nangis disini. Rintihan doa memohon kebaikan dan ampunan untuk mama lah yang hanya akan sampai. Atas hal ini, aku berterimakasih sama Allah karena setelah kepergian mama pun, masih ada hal yang bisa aku lakukan buat mama sebagai anak. Biasanya aku yang minta doa, sekarang aku yang akan berdoa buat mama.

Semoga mama bahagia di sisi Allah SWT.

Aamiin.

Quality Gap Manusia Indonesia

          

          Bukan Kerjaannya yang Gak Ada, Tapi Quality Gap yang Besar Banget di Manusia Indonesia

          Emang Iya?

          Tadi siang aku baru aja nonton videonya ci Feli di channel Youtubenya, Felicia Putri Tjiasaka. Di video dengan judul 'Cerita 100Juta/Bulan Pertama' itu, ada satu kalimat yang dimention ci Feli dan menjadi salah satu 'point of interest' aku disitu.

          "Aku ngobrol dan ketemu sama teman-teman, dan mereka cerita kalo aset dan penghasilan mereka segitu-segitu aja. Mana cari kerjaan susah!

          Padahal di sisi lain, aku secara personal dan juga di Ternak Uang lagi nyari banyak orang, tapi susah banget nyari yang kualitasnya sesuai. Dari sini aku berpikir, mungkin bukan kerjaannya yang gak ada, tapi quality gap yang besar banget di manusia Indonesia."

              Hmm..

          Bener gak sih? Padahal.. banyak banget kan lulusan sarjana di Indonesia yang tentunya gak sembarang orang bisa lulus dan meraih gelar sarjana tersebut, dalam artian, mereka ini orang-orang berkualitas lho. Tapi kenapa, yang namanya mencari kerja itu susah ya, di Indonesia?

          Aku juga jadi keinget sama obrolanku dengan atasanku beberapa hari ke belakang. Konteks obrolan kita ini obrolan santai ya, jadi kita lagi ngobrolin hal secara umum, lalu masuk ke topik tentang sumber daya manusia. Kenapa ya, ada orang-orang tertentu yang susah cari kerja, yang level pekerjaannya 'stuck', dan yang bisa terus menerus berkembang? Hal itu kan berpengaruh banget terhadap perjalanan karir, ilmu pengetahuan, juga level keuangan mereka di masa depan. Sebenernya, kondisi apa yang bisa menyebabkan terjadinya gap antara orang yang terus melangkah maju dan orang yang berdiri di tempat?

          "Mungkin itu perpaduan antara kesempatan dan keberuntungan." ucapku waktu itu, menyimpulkan sementara. Tapi sesaat setelah mengucapkan itu, aku merasa kalo, "loh tapi kok gak adil ya. Dua hal di atas kan masuknya ke faktor eksternal. Masa keberhasilan kita ditentukan oleh faktor eksternal aja sih?"

          Dari situ aku berpikir berdasarkan fakta di lapangan. Beberapa waktu lalu, ada beberapa orang kandidat yang dipilih untuk mengisi sebuah posisi di perusahaanku. Mereka berasal dari latar belakang pendidikan yang sama, non-experienced, dan bahkan mungkin bisa dibilang, latar belakang keluarga dengan strata sosial yang sama. Tapi diantara mereka, ada yang dapat belajar sangat cepat dan sangat berinisiatif, bahkan dipromosikan untuk menjadi pemimpin, dan ada yang tetap pada pekerjaannya saja, sekedar mengerjakan sesuai SOP. Gak ada yang salah dari mengerjakan sesuai SOP, tapi melihat sebagian orang yang bisa bereffort lebih sampai dapat membuat atasan melirik, tentu saja bekerja ala kadarnya membuat orang-orang tersebut berpotensi stuck dengan posisinya saat itu.

          "Nah, orang yang kayak gitu tuh emang gak banyak." kata atasanku.

          Hmm iya juga. Gak banyak orang yang memiliki kesadaran untuk mengembangkan dirinya sendiri, entah dengan cara apa. Ada yang memiliki kualitas seadanya, hanya bekerja sesuai kadarnya, tapi menginginkan gaji orang yang bekerja dengan effort luar biasa. Orang-orang seperti itu, jujur saja aku banyak melihat juga contoh nyatanya. Mungkin faktor kesempatan dan keberuntungan juga berpengaruh bagi orang-orang yang berkualitas namun tempat mereka bekerja tak memberi mereka 'lahan' untuk berkarya. Setidaknya orang-orang berkualitas itu pada akhirnya akan menyadari kesempatan yang tidak mereka dapatkan tersebut dan melakukan sesuatu hal lain untuk meraihnya. Beda lagi dengan orang-orang yang merasa tidak diberi kesempatan, kemudian mengeluh dan tidak melakukan apa-apa. Dalam hal ini, 'keinginan' dan 'keingintahuan' menjadi sebuah gap yang amat besar diantara sumber daya manusia yang ternyata sebegitu berpengaruhnya terhadap karir atau masa depan seseorang. Padahal, dari sebuah keinginan dan keingintahuan saja, dapat membuat seseorang menjadi manusia berkualitas yang ternyata dibutuhkan industri yang selalu berkembang.

          Mungkin pembentukan karakter dalam keluarga, akses informasi dan ilmu pengetahuan, sistem pendidikan yang tidak tepat, atau banyak hal lain juga menjadi faktor mengapa seseorang nggak bisa memiliki kesadaran untuk mengembangkan dirinya. Tapi kalau ditelaah lebih dalam,

Orang yang ingin maju akan selalu menemukan solusi dalam setiap masalah yang dimiliki,
tapi orang yang suka mengeluh akan selalu menemukan masalah dalam setiap solusi yang ada.

          Artinya, kualitas seseorang sebagian besar ditentukan oleh orang itu sendiri. Teman-teman Blogger, setuju pendapat ini?

Mencintai

           Setelah perjalanan panjang yang memberi aku banyak pelajaran, sekarang aku sedikit lebih mengerti makna mencintai. Aku bukan orang yang tumbuh dengan cinta dan kasih sayang, dan mungkin itu kenapa aku nggak pernah benar-benar ngerti apa itu mencintai dan dicintai. Tapi ketika aku ngerasain itu, perlahan aku tahu mencintai yang sebenarnya itu ternyata begini.

          Aku nggak pernah tahu gimana caranya mencintai seseorang sepenuhnya, begitu juga gimana cara mencintai diriku sendiri sepenuhnya. Mungkin latar belakangku yang nggak 'penuh' membuat aku jadi orang yang jiwanya bolong-bolong. Aku belum pernah mencintai diri aku sendiri dengan benar-benar.

          Sampai ketika dimana aku mencintai orang lain, dan dihadapkan dengan berbagai persoalan yang sebelumnya aku gak pernah tahu, aku belajar banyak. Aku ingin melihat semua hal yang terjadi dari sudut pandang yang positif. Aku yang dulu terlalu menyikapi segala hal dengan 'seharusnya kehidupan begini kepada aku' bukan dengan 'seharusnya aku begini menyikapi kehidupan'. Tapi aku yang seperti itu dulu aku bisa pahami kenapa, itu proses belajarku dan pendewasaan menuju aku yang lebih baik di masa depan.

          Uniknya, pembelajaran itu aku dapat dari perasaan sayang yang kandas. Aku gak pernah tahu kalau mencintai seseorang bisa bikin aku jadi seseorang yang berpikir dan bersikap dari sudut pandang yang gak pernah aku sangka sebelumnya. Dari situ juga aku belajar cara mencintai diri sendiri.

          Aku gak pernah tahu juga kalau aku bisa bersikap sangat dewasa dan bersikap sangat kekanakan ketika ada di fase mencintai orang lain. Aku gak tau kalau aku bisa nangis gara-gara orang yang kusayang dinegativethinking-in sama orang lain. Aku gak tau kalau aku bisa mengalahkan egoismeku untuk nggak menceritakan hal-hal tentang orang yang aku sayang yang padahal sangat menyakitkan bagi aku. Aku gak tahu kalau aku dibalik cover judes dan dingin ini bisa jadi kekanakan juga ketika dihadapkan dengan masalah-masalah tertentu sama orang yang aku sayang. Semua hal yang aku gak pernah tahu bisa aku alami hanya karena mencintai seseorang.

          Dan yang paling berkesan buat aku, aku bisa menjadi sangat jauh dengan Tuhanku dan aku juga bisa kembali sangat dekat dengan Tuhanku, karena mencintai seseorang. Aku bersyukur dikasih pembelajaran seperti ini di usia sekarang ini. Bagi aku ini memang tepat untuk aku yang memang ada di usia dewasa muda menuju ke dewasa matang.

          In the end of time, aku ingin dan akan selalu menjadi orang yang berpikir dan bersikap positif serta dewasa ketika menghadapi berbagai persoalan hidup. Terimakasih Tuhan karena perkara mencintai dapat mengajari aku banyak hal di berbagai aspek kehidupan.

You've Gone This Far, Sarah

2020.

Tahun yang penuh kejutan. Tiba-tiba ada yang namanya Corona, tiba-tiba dunia berpihak sama orang introvert, karena seluruh dunia disuruh diam di rumah, gak boleh ngumpul-ngumpul. Tahu nggak gimana rasanya hal ini membawa kedamaian buat para introvert? hahaha. Dunia yang berisik tiba-tiba harus berdamai dengan sunyinya rumah, mal, dan tempat-tempat yang dulunya penuh hiruk pikuk.

Di 2020 ini, setelah aku baca-baca lagi apa yang aku tulis di blogku ini belakangan kemarin, aku jadi mikir..

Ternyata udah sejauh ini ya..

Dari aku yang hidupnya kacau balau beberapa tahun kemarin, ternyata aku masih bisa hidup dengan aman sampai hari ini. Allah baik banget udah bantu aku. Aku merasakan banget pendewasaan dari tahun-tahun dimana aku struggling. Aku merasakan perubahan pola pikir, sebagai manusia. Dari aku yang umur 19, 20, 21, sampai sekarang 22, aku tahu betul kalau setiap tahun pola pikir aku berubah. Aku juga merasakan hidup itu bener-bener berubah-ubah, dan aku sedikit demi sedikit mulai mengenal gimana manusia itu sebenarnya.

Dibilang semua badai udah selesai, nggak juga. Hidup itu ada di atas, ada di bawah. Tinggal bagaimana cara kita melaluinya aja. Gimana cara kita menyikapi. Gimana sudut pandang kita. Kalau mau dijabarkan, rasanya sulit. Aku aja bingung gimana aku bisa ngerangkak, ngelaluin hal-hal sulit sampai hari ini. Yang aku yakini, setelah kesulitan, akan ada kemudahan. Bertahun-tahun aku kesulitan, aku yakin Allah lagi nyiapin sesuatu yang baik dan besar untuk aku setelah ini. Sebaik-baiknya berharap hanya kepada Allah, kan?

Setiap kesulitan datang, aku cuma penasaran, hal baik apa ya, yang Allah siapkan buat aku setelah aku melewati ini? itu pola pikir yang aku tanamkan supaya aku memandang hal berat sebagai suatu yang positif. Yah.. bohong sih kalo aku sepositif itu. Kalo ngadepin masalah, mau nangis ya nangis, mau marah ya marah. Aku juga masih belajar buat menyikapi segala hal dengan dewasa. Cuma setelah bisa kembali tenang, aku mikirin itu lagi, hal baik apa yang Allah siapin buat aku setelah ujian ini terlewati.

Aku mulai terbiasa dengan hal-hal yang gak sesuai ekspektasi. Aku mulai terbiasa menghadapi diri aku yang lagi emosi. Aku mulai terbiasa menyikapi perasaan aku yang suka meledak-ledak. Aku semakin kenal diri aku sendiri, dan aku seneng, karena semakin kenal dengan diri sendiri, aku semakin tau gimana cara berdamai dengan diri sendiri. Aku jadi sadar, kedamaian itu mahal harganya.

Volunteering at Jouska Indonesia

          


          Sebagai anak kelas karyawan yg punya keterbatasan untuk bernetworking melalui kegiatan BEM, UKM, dan sejenisnya, hal yang bisa gue lakukan adalah mencari kegiatan volunteering di luar kampus. Gue terhitung sering bgt apply buat jadi volunteer, dan sering banget gagal. Udah gak keitung lagi berapa kali gue gagal apply di event-event yang gue pengen banget. Asian Games, Asian Para Games, Java Jazz Fest, Djakarta Warehouse Project, Jabar Future Leaders, anjir banyak bat gue gagal gatau lagi dah. Pas Asian Games gagal di tahap FGD, Asian Para Games udah lolos malah lupa cek email, Jabar Future Leaders 2x daftar 2x gagal, Java Jazz Fest umur udah gakmasuk lagi. Hah udah gila lah gue kalo ngomongin kegagalan-kegagalan jadi volunteer. Duh kenapa jadi curhat yang lain-lain sih!

          Trus, kali ini gue nyoba apply jadi volunteernya Jouska. Gue kirim lah CV gue plus semacam motivation letter berbahasa Inggris yang gue susun khusus dari hati gue. Harap-harap cemas, antara ingin banget tapi gamau ngarep karna takut ga masuk, setelah kirim application gue gak nginget2 lagi ngecek email balesan.

          Tau tau, gue dikontak via whatsapp sama kak Farah Dini! Waaa! Gue diminta ceritain diri gue lagi lewat whatsapp. Langsung lah gue bikin cerpen bhahaha. Abis itu gue ditanya apakah bersedia bantu temen-temen Jouska di acara J-Talks Bandung tgl 15 Februari? HUAAAA SAYA BERSEDIA KAKAK! (tapi balesnya gak gitu ya wkwk)

          Singkat cerita, kegiatan volunteering gue dimulai. Sabtu, 15 Februari, gue ikut preparation buat J-Talks Bandung. Gue sama satu volunteer lainnya, kak Cliff, prepare dari sebelum hari H sampe hari H.

          Kita prepare dari jam 7 di daerah Ciumbuleuit, dan koordinasi sama pihak venue buat nyiapin roomnya. Gue jadi FOH dan deg-degan banget. Takut tiba-tiba ada error dan gue gatau mesti gimana. Alhamdulillah, berjalan lancar, dan gue bisa dengerin langsung isi J-Talksnya. Kebetulan gue sempet niat mau ikutan J-Talks, tapi gue masih mikir mikir mending pake J-Talks duitnya apa buat praktek aja?


        
          Tapiii akhirnya gue malah dapet rejeki bisa ikut J-Talks langsung tanpa bayar, plus kenalan langsung sama kak Dini, mbak Marlina, juga temen-temen baru lainnya sesama Volunteer Jouska. Awalnya kita ngira volunteernya cuma dua, gue sama Cliff. Ternyata, kita ber-7! Yeee seneng deh kenalan banyak temen baru. Bang Raka, Angel, Kak Gisel, Kak Ical, Kak Ningrum. OMG seneng abis gue!

          Trus pas event kelar, kita ngobrol-ngobrol sama kak Farah Dini, buat kegiatan kita kedepannya. Daaannn ada satu lagi yg bikin gue seneng. Kita berkesempatan buat jadi volunteer juga di acara Forward nanti! Gila ga sih! Seneng banget bisa jadi bagian dari J-Fams!

          Ohiya, sehari sebelum acara J-Talks, mas Aakar, CEO-nya Jouska, ngesnapgram kalo beliau mau ngadain private dinner bareng 10 orang. Kalo mau, bisa whatsapp ke CP yang ditunjukkan. Gue merasa ini kesempatan wow dong, yaudalah gue daftar aja gak pake mikir. Mau gue dipilih diantara 10 itu apa enggak bodo amat gimana entar. Taunya, gua dikontak jadi salah satu yang kepilih buat ikutan private dinner itu. Dan di pesan followupnya, ada kata-kata "Anda boleh bercerita mengenai bisnis/dll/dll (gue lupa) dan mendengar perspektif dari Bapak Aakar". 

          Ya gue langsung jiper abis dong. Siapalah gue ini? apa yang mesti gue ceritakan di depan mas Aakar tentang hidup gue? rasanya perjalanan hidup gue itu belum nyampe levelnya mas Aakar, jatohnya gue malah takut jadi satu-satunya anak recehan yang ikutan! Asal lo tau dinnernya di hotel daerah Setiabudhi yang gua sendiri gak pernah masuk kesana. Dan lagi ada dresscodenya smartcasual dengan sentuhan warna biru. Omaygat semakin jiper aja gue ngebaca pesan followup itu!

          Gue langsung riweuh ngontakin siapapun yang gue kenal yang gue kira akan capable dan selevel untuk bertukar cerita sama mas Aakar. Pertama, CFO kantor gue, orang akunting. Ternyata gakbisa. Sampe gue ngontak bos gua nawarin mau pake slot gue ngga. Taunya bos gue juga dapet slot diantara 10 orang itu. Waduhhh double double ini mah gue bakalan malu sendiri ntar.

          Tapi kata mas Indro, CFO kantor gue, dia bilang kalo "mungkin aja mas Aakar nyari perspektif lain, gak cuma sekedar dari orang yang sama-sama akunting. Gapapa ikutan aja, toh kalau malu-maluin juga gak kenal ini dan mungkin gak akan ketemu lagi juga." Kata-kata mas Indro menenangkan gue dan membuat gue akhirnya konfirmasi kehadiran aja, gue bakal dateng. Walau gue sendiri bingung baju smartcasual macam apa yang akan gue pake dan cerita apa yang bakal gue sampaikan.

           Jelang jam 7, hujan turun. Kejiperan gue muncul lagi duhhh gue takuttt gue gaktau mau ngomong apaa. Gue sempet mikir-mikir tapi gak enak juga udah dikasih kesempatan kayak gini masa dibuang, kapan lagi coba? Mana tadi udah ketemu sama kak Farah Dini dan mas Aakar juga pas gue ngevolunteer. Yaudalah gue nekat berangkat aja walaupun gue baru berangkat jam 7. Itu pun pake gojek karena jauh banget tempatnya gue takut nyasar dan malah puter balik nantinya gara-gara kebanyakan mikir.

          Akhirnya gue sampe di hotel itu. Jujur malu gara-gara dateng telat banget trus gue kebingungan mau ngomong apa. Ada bos gue pula. Mana gue gak pernah dinner formal gini. Berusaha bertingkah senormal mungkin dan gak lupa senyum! Dan ternyata..... coyyy mas Aakarnya ramah banget. Belum lagi kak Dini yang ternyata inget sama gue yang tadi volunteer di J-Talks. 

          Gue seneng banget bisa dengerin sharingnya mas Aakar walaupun gue gak ngomong apa apa karena gue jiper duluan sebenernya. Gue yang belum apa-apa dan bukan siapa-siapa ini bisa private dinner sama foundersnya Jouska. What a.....

          Beberapa kali gue sering akan ketemu dengan orang-orang yang wow. Dan sebelum gue berangkat, ketika akan ketemu mereka, gue selalu ngerasa jiper duluan. Orang pinter lah, orang expert lah, orang kaya lah, orang classy lah. Gue yang ngerasa belum apa-apa dan bukan siapa-siapa ini takut gak bisa mengimbangi pembicaraan sampai tutur kata dan tingkah laku orang-orang high class itu. Takut terkesan recehan, walaupun kenyataannya gue memang masih level recehan banget dibandingkan dengan mereka semua. Tapi walaupun lo masih receh, setidaknya harus berkualitas lah walo sedikit. Harus tunjukkin kalo lo bervalue. Biar orang-orang tersebut bisa melihat lo sebagai orang yg sedang berkembang, bukan orang yg sekedar ngereceh doang.

           Tapi ternyata, semua itu selalu terpatahkan. Sejauh pengalaman gue yang masih seuprit ini, tiap gue ketemu orang, entah itu temennya bos gue, entah itu tokoh penting siapa, termasuk mas Aakar, gue selalu menemukan ketenangan setelah ketemu dan denger mereka bicara. Orang kaya, orang pinter, orang penting, mereka selalu humble, sejauh yg gue temui. Gak ada yang sok, gak ada yg menunjukkan 'ini loh gue', gak ada yg tampil berlebihan dan berbicara yg merendahkan. Mereka pure, totally, bersikap sebagai manusia, yg membuat gue merasa jadi manusia juga. Ikut santai, ikut tenang, tapi vibes positifnya kena banget. Malah gue merasa aman dan tenang deket mereka. Kayak lagi sama temen-temen gue tapi orang penting aja. Cara mereka bercerita selalu membangkitkan semangat dan menginspirasi, sama sekali nggak bikin insecure atau membuat posisi orang lain nampak rendah, tapi kayak nebar energi positif dan motivasi yang nyata.

           Gue seneng, seneng banget. Merasa jadi manusia, tapi bukan sekedar manusia yang hidup di dunia. Manusia yang punya tugas buat melakukan yg terbaik, berguru pada pengalaman, dan be the best version of yourself so you could spread your good vibes to others.

                                                                                                   * * *

          Selain dinner denger mas Aakar sharing banyak hal, yang ternyata bahasannya berbobot tapi santai, gue juga kenalan lagi sama orang-orang baru. Seperti biasa di akhir acara jadi fotografer dadakan buat temen-temen lain yang kepengen foto bareng mas Aakar, kak Dini, dll. Gue sendiri gak foto sih, sama seperti pas di J-Talks tadi. Gue foto-fotoin orang gue sendiri gak difoto. Semacam naluri fotografer, sudah biasa. Tapi yang penting pengalamannya, ilmunya. Foto hanya bagian dari bentuk pembuktian suatu peristiwa pernah terjadi. Tapi yang penting peristiwanya abadi di ingatan sendiri. AH POKOKNYA HARI ITU GUE SENENG BANGET!



Gue foto-fotoin temen gua

          Akhirnya, 15 Februari 2020, gue tetapkan jadi hari terproduktif sepanjang 2020 awal ini. Hopefully there will be another great days ahead!

Foto di rooftop hotel tempat dinner waktu itu


Pesen buat Sarah yang Suka Galau

Buat Sarah yang belakangan suka galau sendiri malem-malem bahkan pagi-pagi. Buat Sarah yang suka sad over small things she can't control.

You are on track Sar...

Bersyukur kamu ada di tahap ini.

Ketika kamu gak Dikasih masuk SMA. Kamu pengen masuk SMA tapi keadaan meminta kamu masuk SMK. Liat hasilnya? Kamu bahagia. Bahagia banget di SMK.

Ketika kamu gak Dikasih masuk universitas negeri, kamu dibandingin sama orang yang bisa masuk negeri sementara kamu enggak. Lihat hasilnya. Kamu malah Dikasih rejeki lain, bisa dapet kerja, punya uang sendiri, bahkan bisa keluar negeri gratis.

Ketika kamu ingin kuliah normal regular seperti anak-anak lainnya, ingin berorganisasi di kampus seperti di SMK dulu, tapi nggak kamu dapetin. Lihat hasilnya. Kamu ada di pekerjaan dan posisi yang mungkin gak semua orang bisa dapetin.

Allah always gives you all the best. Allah selalu kasih gantinya yg gak kamu duga. Allah selalu ngasih kejutan baru, rejeki yang gak kamu kira akan dikasih untuk kamu. Kamu ingin pulau pribadi tapi Allah kasih seisi bumi. Allah akan selalu baik sama kamu Sar. Allah akan selalu kasih kamu yg paling baik.

Minta maaf sama Allah, dan maafkan juga dirimu sendiri. Mungkin ini saatnya buat mengikhlaskan diri sama Allah, mendekatkan diri kepada-Nya. Selalulah berperasangka baik sama Allah, karena Allah yang mengatur segalanya. Allah Maha membolak-balikkan hati manusia. Berserahlah sama Allah supaya hati kamu diikhlaskan dan dilegakan.

Kalau keadaan membuat kamu down dan gak bisa berpikir baik, cukuplah kamu berperasangka baik sama Allah yang akan membuat keadaan menjadi baik untuk kamu. Cukuplah Allah menjadi satu-satunya tempatmu berharap dan berserah.

Sabar ya,Sarah. Walaupun mungkin hati kamu marah dan menjerit bilang aku udah sabar begitu lama. Mungkin waktu yang panjang ini juga akan menjadi sebuah jawaban nantinya. Sebuah jawaban buat kamu ketika akhirnya hal yang besar datang dan akan membuat kamu gak henti-hentinya bilang Alhamdulillah.

Terimakasih sudah bertahan dan berusaha bersikap dewasa. Aku tau gak gampang buat kamu melewati semua sendiri di usia kamu yang dari labil-labilnya menuju ke usia dewasa kamu yang sebenarnya.

Sarah, semangat ya. Kamu memang beda dan mungkin gak gampang buat kamu menunjukkan diri kamu sama setiap orang. Gakpapa. Itulah tantangan buat kamu untuk berdamai dan menerima diri kamu apa adanya.

Teruslah haus untuk memperbaiki diri. Belajar jadi orang yang ikhlas, belajar berdamai. Allah akan selalu bersama kamu.