Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

Satu Hari Putih Biru

          Sambil menangis dan hidung yang tak berhenti meler, aku menggas motorku menembus hujan gerimis di Jalan Ganesa. Jalanan yang di sekelilingnya dipenuhi pohon-pohon besar membuat suasana sedihku di sore itu sempurna. Aku menangis cukup lama dan dalam, namun suaranya mungkin tak terdengar. Hujan gerimis membantuku menyembunyikannya dengan elegan. Jadi kalau ada yang memergokiku menangis dan bertanya kenapa, bilang saja "ini mah air hujan".

          Kenapa aku menangis? alasan klasik, merasa sendirian. Saat itu aku sedang merasa bahwa aku adalah tipe orang yang loyal dan tulus untuk orang-orang yang aku tahu pantas menerimanya. Tapi disaat aku butuh sandaran dan teman ngobrol, yang bahkan bukan untuk aku curhati, tapi hanya untuk mengalihkan isi pikiranku yang mumet, tiada seorangpun. Aku bukannya mengharapkan timbal balik atau imbalan dari ketulusanku untuk orang lain, tapi, kenyataan bahwa sebenarnya tidak ada seseorang yang benar-benar peduli kepada satu sama lainnya, membuatku merasa sedih.

          Sedang kalut dengan pikiranku sendiri, aku melihat wajah yang tampak tidak asing sedang berjalan di trotoar sebelah kiriku. Laki-laki berwajah kalem dengan kemeja biru polo sedang berbincang dan tersenyum pada teman disebelahnya. Aku spontan menyebut namanya.

          "*sensor*!"

          Aku benar-benar shock sekaligus senang karena kupikir tidak akan pernah melihat dia lagi. Laki-laki yang pertama kali membuat aku kepikiran tentangnya siang dan malam tanpa tahu mengapa. Laki-laki yang membuatku hampir melabrak egoku sendiri karena ingin membuat dia tahu kalau aku menyukainya. Saat itu aku hampir menyatakan cintaku pada laki-laki itu. Setiap malam aku galau, berpikir keras sambil menatap dan membaca ribuan kali sejumlah teks yang sudah kutulis di SMS, hanya tinggal menekan tombol 'kirim' maka terbongkarlah semua rasaku saat itu.

          Tapi batal, aku batal melakukannya. Aku tahu dia tidak akan menerimaku. Bukan karena dia punya pacar atau apa, dia bukan laki-laki yang seperti itu. Dia bukan laki-laki yang mau pacaran. Sementara aku juga tidak ingin berbohong dengan menyatakan perasaanku tanpa mengatakan bahwa aku ingin dia menjadi pacarku. Aku tidak ingin membuatnya tidak nyaman dan terjebak dengan situasiku. Aku se-sayang itu padanya.

          Bahkan ketika aku sudah menghapus tentang semua laki-laki yang pernah ada di hatiku dan membuang mereka mentah-mentah, hanya dia. Hanya kepada dialah aku tetap menaruh respek, walau mungkin perasaan sebagai perempuan ke laki-laki sudah hilang dimakan waktu. Hanya kepada dia, seandainya aku punya kesempatan, aku akan berani mengakui kalau dulu aku pernah suka padanya sampai memikirkannya setiap malam dan berniat menyatakan perasaan. Karena aku tahu dia orang yang pantas, orang baik. Orang yang tidak akan menganggap rendah perasaan orang lain walau ia tidak memiliki perasaan yang sama.

          Ah, rasanya ingin sekali menyapanya dan mengobrol panjang dengannya. Ketika aku melihatnya di trotoar tadi, ingin aku bertanya apakah dia mengingatku? apakah dia ingat saat-saat di kelas waktu itu? Duh, aku mendadak rindu suasana kelas siang itu.

          Tangisanku berhenti. Ada perasaan sedikit senang yang muncul di hatiku, yang anehnya walaupun sedikit, tapi kesedihanku seperti hilang seluruhnya. Kulanjutkan perjalananku, menembus hujan yang seperti mendukung pikiranku untuk kembali ke masa lalu. Ke masa dimana aku tidak sadar bahwa yang kulalui hari itu adalah hari yang akan ku ingat hingga aku bertemu kembali dengannya, hari ini. Satu hari di mana dia dan aku masih memakai baju yang sama setiap hari, baju putih biru.

Cerpen : Bahagianya menjadi Serangga (Chapter 2)


          Sulit untuk berhenti memikirkan segala hal. Terutama ketika tiada siapapun disisimu. Aku bertanya-tanya mengapa Tuhan menganugerahkan perasaan jika yang bisa kurasakan dengannya hanyalah kesengsaraan. Aku memaki diriku karena menjadi seperti orang yang tidak bersyukur kepada-Nya. Tapi semakin mencoba untuk melihat sisi baik, sisi buruk selalu semakin banyak terlihat, membuatku kecewa. Seketika kehampaan menyerang, air mata bukan lagi sesuatu yang dapat kusembunyikan. Hal ini lumrah. Aku menangis.

 ***
          Hari ini kakak bilang akan datang berkunjung. Sialnya, aku yang tidak ada dirumah. Padahal berada dekat dengan kakak sering membuatku merasa lebih tenang. Aku ada pekerjaan dengan Jay dan Alex, kami harus menggubah lagu untuk penyanyi terbaru agensi kami. Walau begitu, aku senang karena akan bertemu teman-temanku. Bagiku, mereka seperti obat bagi kehampaan jiwaku yang selama ini selalu membuatku kesulitan.

          Jay dan Alex bilang setelah pekerjaan selesai mereka ingin berkunjung ke rumahku. Dengan senang hati aku mengabulkan permintaan mereka. Tapi tiba-tiba, boss memberi mereka pekerjaan tambahan. Aku bisa maklum. Mungkin kunjungannya bisa mereka lakukan besok, atau lusa, atau lain hari, entahlah.

          Akhirnya aku terkubur dalam kesepianku lagi. Keberadaan orang-orang memang hal yang paling membantu dalam menyingkirkan kesedihan, namun aku masih punya gitar dan buku-buku. Ini juga sedikit menghilangkan kekecewaanku pada diriku sendiri, setidaknya aku mengetahui aku bisa melakukan sesuatu yang berguna.

 ***
          Suatu ketika, aku sedang memainkan sebuah alunan nada dengan gitarku, menatap langit-langit kamar sambil merancang lirik untuk laguku selanjutnya. Aku memerhatikan setiap hal kecil yang ada di kamarku. Mobil-mobilan, bantal, lemari. Ruangan ini seakan menyekapku dalam kesepian yang dalam. Aku merasa benar-benar menyedihkan.

          Kulihat semut-semut di lantai, mereka bekerja sama saling membantu membawa sisa-sisa makanan. Jumlahnya tidak begitu banyak, tapi sepertinya ada sebagian yang membuat lubang semut di tembokku. Mungkinkah semut itu berkeluarga seperti manusia? kurasa begitu, melihat kerjasama mereka, bahu membahu demi membawa sebuah makanan yang ukurannya tidak sebesar jari. Mereka saling membantu, mereka saling peduli. 

           Tanpa sadar aku jadi memperhatikan mereka. Aku cemburu tapi sekaligus ingin tertawa. Haha. Bahkan semutpun berpasang-pasangan. Mungkin mereka saling mencintai, membangun keluarga dan menghabiskan malam minggu dengan minum-minum bersama istri-isfri mereka. Betapa bahagianya. Sementara aku? Aku tidak bisa merasakan kehangatan itu. Aku bahkan dengan menyedihkan mencemburui sepasang semut. Dasar bodoh.

         Melihat semut-semut itu, aku jadi teringat semua sahabatku. Mereka saat ini sedang sibuk dengan karir mereka masing-masing. Aku sangat senang dan tentu mendukung mereka sepenuh hati, tapi di sisi lain aku seperti seorang egois yang menginginkan mereka untuk tidak terlalu sibuk dan menemaniku melewati kesendirian ini. Aku ingin mereka kembali, seperti dulu, tapi aku sadar, kehidupan ini tidaklah sama lagi. Setiap hal berubah, setiap hal berganti. Aku harus menerimanya.

         Banyak berpikir begini membuatku pusing juga mengantuk. Aku sering tertidur tanpa sengaja saat sedang membaca buku ataupun ketika merenung menatap langit-langit kamar. Suatu hari aku juga ingat kalau aku tertidur, lalu terbangun oleh gigitan seekor semut di bibirku. Aku langsung teringat akan koloni-koloninya, itu membuatku tidak ingin membunuhnya. Aku hanya melepaskannya dari bibirku dan meletakannya sembarangan. Semut ini harus kubebaskan.

***
          Pekerjaanku kuselesaikan dengan cepat. Kakak akan datang ke rumah hari ini. Aku sudah bergegas pulang, namun tak kutemui siapapun begitu aku sampai. Ini membuatku kesal, namun aku harus sabar. Kakak sedang berjuang bertahan bersama suaminya yang sakit jiwa hingga tidak mungkin punya banyak waktu untuk mengunjungiku. Aku hanya harus mengerti. Ya.

          Aku kembali ke kamar. Kutatap buku-buku lusuh yang kusimpan di ujung bantal. Mungkin aku akan membaca kembali buku berjudul 'Heaven' yang sebelumnya sudah kubaca tiga kali. Aku tidak tahu apalagi yang bisa membantuku menghindar dari lubang hitam dalam pikiranku yang seakan menghisapku masuk setiap saat. Buku ini akan sedikit membantu lagi, sepertinya.

          Belum sempat aku mendekat ke kasur untuk mengambil bukunya, entah bagaimana ada seekor kecoak terbalik di hadapanku. Fuh! Kamarku sudah seperti kandang serangga saja. Sebetulnya aku agak jijik dengan kecoak, tapi kurasa menjadi kecoak bukanlah pilihannya, mungkin jiwa yang ada dalam kecoak itu juga tidak menginginkannya. Aku tidak berhak merasa jijik padanya. Berbeda denganku, aku manusia yang bisa memilih, namun aku memilih menjadi pecundang dengan merengek kasih sayang pada kakak. Memalukan. Aku pantas mendapat hukuman.

          Kubantu kecoak itu membalikkan tubuhnya dengan tongkat sapu. Setelah terbalik, ia langsung berlari.

***
          Jay datang berkunjung kerumah. Dia muncul dengan celana pendek aneh dan rambutnya yang dicat abu terlihat berantakan. Tapi seperti biasa, dia datang dengan senyum lebar berteriak memanggilku seperti orang gila, padahal kita ada di tempat yang sama.

          Kami melakukan karaoke di kamarku, melepas penat dengan memutar lagu-lagu Michael Jackson yang legendaris. Sambil menatap jendela, kumainkan gitar dan kubiarkan Jay menyanyi sepuas hati, walau suaranya begitu sumbang. Jay bilang padaku untuk memainkan lagu favoritnya, 'Te Amo', yang diterjemahkan dari bahasa Spanyol berarti aku mencintaimu. Aku menurutinya saja. Kemudian kami saling bercerita dan membicarakan hal-hal konyol tapi menyenangkan, seperti biasanya.

          Jay tiba-tiba memutar lagu berbahasa mandarin yang aneh, lalu dia menyuruhku mencari arti dari lirik lagu yang dia play tadi.

          "Kau ini apa sih. Seperti wanita saja, menyelami lirik lagu begini." ujarku meledek Jay.

          "Jika syarat untuk menyelami lirik lagu ini adalah menjadi wanita, maka aku rela." Jay tersenyum penuh arti.

          "Woah.. sehebat itukah?" aku tidak percaya. Jay si anak yang 'gila' ini bisa menjadi begitu melankolis hanya karena sebuah lagu. Cukup mengejutkan, dan.. mengocok perut. :D

          Sambil tertawa meledek aku membaca lirik lagu mandarin itu.

          Oh..

          Tes

          "Hei! kau menangis?" Jay langsung menyadari aku sudah pada tahap ekspresi menyipitkan mata seperti pedih terkena bawang. "Ya Tuhan, jangan bercanda!" Jay langsung mengusap-usap punggungku dan mengelap pipiku dengan tisu yang entah dia ambil dari mana.

          Liriknya mengingatkanku pada Amily. Itu sebabnya.

* * *
          Satu tahun lalu aku putus dengan Amily. Dia meninggalkanku entah kemana. Dia bilang tidak tahan karena keluargaku menekannya, mengatakan bahwa ia tak pantas untuk aku. Aku benar-benar marah terutama pada ayahku yang melakukan intimidasi itu. Sejak itu aku tidak mau menemui ayah lagi, untuk selamanya.

          Sejak dulupun aku tidak pernah menyayangi pria itu, dia hanyalah seorang pengecut yang meninggalkan ibu, aku dan kakak di dalam kemiskinan. Setelah aku dan kakak besar lalu bisa menghasilkan uang banyak, dia tiba-tiba datang dan mengatur hidupku bahkan mencampuri urusanku dan kekasihku. Saat mengetahui itu rasanya aku ingin membunuhnya, tapi aku selalu tertahan dengan pikiran bahwa dia adalah ayah kandungku, walau kenyataan itu membuatku semakin marah. Terlebih lagi, ibuku yang terlalu baik hatinya, memohon padaku untuk membiarkan saja bekas suaminya itu pergi tanpa perlu ada adegan kekerasan terlebih dahulu. Bagaimanapun, amarahku tidak lebih besar dari rasa sayangku pada ibu. Aku menurutinya.

          Kepergian pria itu juga dibarengi dengan perginya Amily. Dia menghilang begitu saja bagai telah dikubur bumi. Tidak ada yang bisa menggambarkan betapa hancurnya perasaanku, harus berpisah disaat perasaanku masih membuncah. Bagaimana bisa ketidakadilan ini terjadi padanya? dan bagaimana aku sebagai seorang pria bisa membiarkan orang yang kusayangi tersakiti sampai seperti ini? aku menanyakan pertanggungjawabanku sendiri sebagai seorang lelaki.

          Berkali-kali aku mencoba menenangkan diriku sendiri. Aku rasa tidak apa-apa untuk bersedih hari ini, esok hari pasti akan kembali cerah. Aku bukanlah robot yang harus memaksa diri untuk terus bahagia setiap hari. Namun nyatanya kemuramanku tak pernah usai. Langit gelap dan hujan badai seperti tak kunjung pergi. Di waktu-waktu ini, aku sangat membutuhkan ibu, namun Tuhan mengambilnya pada saat yang tidak tepat. Kurasa itulah yang membuatku merasa semakin tidak baik. Tapi aku berusaha meyakinkan diriku sendiri bahwa aku akan baik-baik saja. Aku, akan baik-baik saja.

***
          Kau tahu apa yang paling buruk dalam upaya menghadapi kesulitan ini? Orang-orang meremehkanku. Awalnya aku berpikir bahwa aku bodoh jika terus menyimpan segalanya sendiri, karena itu tidak membantu sama sekali. Tapi kenyataannya, setelah aku mencoba bercerita pada kakakku, ya, kakakku, orang yang tumbuh dan hidup bersama denganku selama 23 tahun lamanya, berujung pada perasaan yang menyakitkan. Dia berkata bahwa aku mengisolasi diri dengan perasaan-perasaan berlebihan yang tidak pantas untuk orang seusiaku. Dia berkata bahwa aku harus melihat orang-orang dibawah kami yang membutuhkan, yang hidup di kolong jembatan. Aku harus bersyukur. Jadi perasaan-perasaan itu harus kubunuh, katanya, tapi dia tidak memberitahuku bagaimana caranya.

          Oh, benarkah begitu? Hatiku pedih lagi. Sedangkal itukah pemikiranmu terhadapku kak? Kau pikir aku adalah seorang brengsek yang tidak tahu bersyukur? Kupikir kau adalah orang yang paling memahamiku karena kita pernah sama-sama tinggal di rahim ibu. Kupikir 23tahun kita bersama kau sudah hapal betul bagaimana diriku. Apakah bijak membandingkan hidup seseorang dengan hidup orang lainnya? Apakah setiap yang orang lalui selalu sama, sehingga begitu mudah kau banding-bandingkan?

          Cukup mengherankan saat aku mengritik habis-habisan sikap kakakku dalam hati, seolah aku tahu bagaimana sikapnya seharusnya menghadapi adik sepertiku. Padahal aku sendiri tidak tahu bagaimana mengatasi perasaan ini, disaat aku menuntut ia untuk melakukannya. Mungkin,ini salahku lagi.

***
          Berbulan-bulan aku tetap pada perasaan yang sama. Kutatap mobil-mobilan mainan di meja lampuku. Mobil-mobilan model Jeep itu telah melindas seekor semut pada saat gempa terjadi beberapa hari lalu, sebelum akhirnya kubebaskan. Sebentar lagi, aku juga akan bebas.

           Ya.

          Baiklah. Hari ini sudah mencapai limitnya. Rasanya semakin sesak saja setiap napas yang kuhirup. Setiap aku bernapas, semakin aku tercekik. Inti jiwaku sudah menerima bahwa aku memang tidak cukup baik, dan aku akan mengakhiri semua penderitaan ini. Aku tidak sanggup menahannya lagi. Kakak, kuharap kau mengerti. Dengan begini mungkin kau akan bisa lebih fokus mengurus suamimu dan kalian bisa hidup bahagia.

         "Kakak, aku harap kau selalu sehat. Aku sudah menuliskan seluruh hartaku atas namamu. Aku tidak perlu berpesan apapun karena aku tahu kau akan menggunakannya dengan bijak. Terimakasih kak, selamanya aku mencintaimu."

Salam."

* * *

Cerpen : A Guy's Gaze (Tatapan Seorang Pria) (Chapter 1)



          "Kami pulangg!" aku dan Bill, anakku, datang membawa makanan yang cukup banyak untuk santapan keluarga kami. Istriku, Anna dan anak perempuanku, Rossy, menyambut kami dengan begitu gembira.

          "Sepertinya ayah dan Bill dapat jackpot!" seru Rossy semangat sambil tak henti menatap makanan yang kami bawa. Tanpa berlama-lama, kami menghidangkan makanan di meja makan dan melaksanakan santap malam. Rasanya bahagia sekali aku melihat wajah-wajah anak dan istriku berbinar bahagia dan dengan lahap memakan santapannya masing-masing. Sebagai seorang ayah, aku merasa berhasil.

          "Mark, dia memperhatikan kita lagi." ujar Anna tiba-tiba membuka pembicaraan. Aku tidak tahu bagaimana harus merespon. Aku sudah hapal betul siapa 'dia' yang Anna maksud.

          Sambil menghela napas, aku menjawab, "Baiklah, aku akan melihatnya selesai makan malam."

* * *
          Aku melihat dari balik pintu, orang itu. Dia terus menerus memperhatikan kami. Aku dan keluargaku memang memiliki mobilitas tinggi, kami setiap hari melewati dirinya yang selalu terpaku dengan tatapan nanar di ujung kursi. Tapi kurasa dia tidak pernah terganggu dengan aktivitas kami. Namun entah mengapa, tatapannya sering sekali tertuju padaku, Anna, Rossy dan Bill. Lama kelamaan aku agak khawatir, mungkinkah dia memiliki niat tertentu terhadap salah satu anggota keluargaku?

* * *
          Ayah dan Ibu sedang pergi. Bill juga. Mereka mungkin bekerja. Aku cukup merasa bosan ditinggal dirumah dengan setumpuk bacaan-bacaan yang harus kupelajari. Aku tidak suka buku-buku ini, aku suka musik, aku ingin menjadi pemusik. Tapi nampaknya orang tuaku sama sekali tidak mengetahui apa yang kusukai, mereka terlalu sibuk bekerja. Aku tidak mampu mengatakan kalau aku menginginkan sebuah gitar, karena hal itu pasti akan memberatkan mereka. Akhirnya, untuk memenuhi hasrat musikku ini, aku hanya bisa menontonnya, orang itu, yang sering terpaku di ujung kursi, dengan permainan gitar akustiknya yang betul-betul menawan.

           Entah sejak kapan dia bisa bermusik, namun yang jelas, setelah kepindahan keluargaku kesini, dia sudah seringkali memainkan musik. Alat musik lain yang dia mainkan, aku tidak terlalu tahu namanya, aku hanya mengingat bunyinya yang menenangkan jiwaku dalam kesendirian.

          Tapi berbeda denganku, selain menyukai musik, dia juga membaca buku. Aku malas sekali membaca buku, sedangkan dia menyukainya, itu bisa kulihat dengan tumpukan buku yang nampak lusuh diatas mejanya yang ia baca satu persatu setiap hari.       

          Ohya, orang itu sering melihat ke arah kami, padaku dan keluargaku. Aku tidak tahu apa yang membuatnya tertarik memperhatikan kami. Tapi, aku sih, senang-senang saja. Toh dia ganteng. Walau kadang membuatku kikuk, tapi aku suka tatapannya. Dia tampan. Ah! jangan-jangan, alasan dia terus-terusan melihat kemari, karena dia.. tertarik padaku?

* * *
          Hari ini Bill tidak bisa ikut bekerja denganku. Ia sedang sakit dan kubiarkan dia istirahat dirumah. Anna ikut bekerja, namun di lain tempat. Rossy membantunya, dan aku senang mendengar anak perempuan kecilku berinisiatif membantu ibunya bekerja.

          Aku kembali bekerja dengan semangat yang bertambah, mengingat keluargaku disana juga bekerja tak kenal lelah. Peluh mengalir bukanlah kendala, yang penting, bagiku, Anna dan anak-anakku bahagia.

* * *
         Sakit yang menderaku benar-benar membuatku terganggu. Bukan, bukan karena rasa tidak nyaman yang menyerang tubuhku, tapi aku lebih memikirkan penyesalanku karena tidak bisa membantu ayah bekerja. Aku tidak bisa berpindah tempat karena sakit ini. Aku hanya berbaring sambil menatap lemah ke luar jendela. Oh Tuhan, tolong cabutlah penyakit yang ada di tubuhku sekarang agar aku bisa kembali pergi membantu ayah yang sekarang pasti sedang kesusahan.

         Sambil merenung aku menatap keluar jendela. Betapa malunya aku, melihat ibu dan saudara perempuanku sedang bekerja diluar sana, bersusah payah demi kehidupan keluarga kami, sementara aku seperti sampah terbaring lemah disini. Ibu dan Rossy bekerja tidak terlalu jauh dari tempat kami tinggal, berbeda dengan ayah yang mengambil pekerjaan di tempat yang agak jauh. Aku bisa melihat setiap gerak-gerik mereka melalui jendela. Jelas sekali ibu berusaha sekuat tenaga mengangkat benda-benda berat itu, membuatku merasa semakin bersalah dengan penyakit ini. Tapi.. dimana Rossy?

         Mataku mencari-cari keberadaan adik perempuanku itu, seharusnya dia ada disana bersama ibu. Tapi, sosoknya tidak dapat kutemukan. Ah! itu dia. Tunggu, apa yang dia lakukan? aku.. benar-benar kaget. Dia.. sedang apa dia?

 * * *
         Ah, tampan sekali orang ini. Sial! seharusnya aku mengetahuinya dari dulu. Rasanya hati ini hampir meledak karena bisa berada pada jarak sedekat ini dengan wajahnya. Oh, kulitnya putih dan bersih. Bulu matanya tegas dan lurus namun tidak terlalu panjang. Hidung yang mancung membuatku ingin meluncur diatasnya. Bibirnya merah muda seperti warna gula-gula yang dibawa ayah pekan lalu untukku. Orang ini, benar-benar sempurna! ternyata inilah tampang asli orang yang selalu memperhatikanku dan keluargaku selama ini. Kenapa aku baru sadar?!

         Aku tidak bisa mengalihkan tatapanku dari wajahnya. Dia sedang tidur. Ini aman bagiku untuk terus memperhatikan wajahnya yang selama ini hanya bisa kulihat dari jauh. Bolehkah... jika aku menciumnya? rasanya ini kesempatan yang pas. Ya, tentu saja. Upayaku membujuk ibu untuk ikut bekerja bersamanya demi bisa lebih dekat dengan orang ini tidak bisa aku sia-siakan begitu saja. Aku.. akan.. menciumnya.

        Mmhh...

* * *
          Tidak terasa pekerjaanku selesai juga. Atasanku menghargai pekerjaanku dengan memberiku beberapa makanan yang kukira cukup untuk keluargaku hingga beberapa hari ke depan. Aku bergegas pulang ke rumah untuk segera memberikan gula-gula ini pada Rossy. Aku juga ingin tahu bagaimana keadaan Bill saat ini, kuharap dia berangsur membaik.

          Ketika hampir sampai di muka pintu, aku terperangah melihat Jack, tetanggaku yang sudah tua renta. Dia terbaring terlentang di jalanan seperti habis dihajar orang. Astaga! aku harus menolongnya! tapi.. orang itu, dia yang selalu memperhatikan keluargaku, ada beberapa langkah di hadapan Jack. Kukira dia baru datang entah dari mana, dia berjalan dan tidak menyadari Jack ada di hadapannya. Ba.. bagaimana ini? apa aku harus berteriak pada orang itu?

          Ah! syukurlah! sebelum aku mengeluarkan seluruh tenagaku untuk berteriak padanya, dia akhirnya menyadari keberadaan Jack yang kesusahan terbaring lemah di jalanan. Dia menatap Jack kosong, tas merah yang digandong sebelah dan dia genggam dengan tangan kanannya, dia ayunkan ke arah Jack. Astagaa!! apa dia akan memukul Jack dengan tasnya yang besar itu? aku tidak sanggup melihat Jack seakan dia akan dibunuh, mataku menyipit karena takut, tapi masih melihat ke arah mereka.

         Orang itu, dia tidak membanting tasnya pada Jack. Dia melempar tasnya ke kursinya. Dia mengambil tongkat di sebelah kursinya, lalu ia menjulurkan tongkatnya kepada Jack, membantu tubuhnya yang kepayahan untuk bangkit. Setelah mampu bangkit, Jack berlari begitu saja melihat orang yang telah membantunya untuk kembali kerumahnya yang tidak jauh dari rumahku. Dasar Jack. Sudah tua tapi tidak tahu berterimakasih. Lagipula, aku baru tahu kalau orang ini orang baik. Yang kutahu darinya, hanyalah rambut merah mudanya yang aneh dan kulitnya yang bersih karena mungkin sering dicuci.
Tak kusangka, anak muda ini baik juga.

* * *
          Anak muda itu, aku tidak tahu siapa namanya. Yang pasti, dia tinggal lebih dulu disini sebelum kami kesini. Malah, kami, aku dan keluargaku, juga Jack, seperti menumpang di wilayahnya. Dia sering keluar rumah dan teman-temannya yang berpostur besar acapkali datang berkunjung. Teman-temannya sama aneh dengannya, celananya memiliki lubang di area lututnya, persis seperti gelandangan yang sering kulihat di luar wilayah ini. Rambut teman-temannya pun beraneka warna, malah ada yang berwarna abu, seperti orang tua, namun dari wajahnya bisa kulihat kalau dia masih muda dan segar. Mungkin itu yang disebut penuaan dini?

           Mereka sangat berisik saat bersama, anak muda itu juga nampak begitu ceria dihadapan teman-temannya. tapi ia selalu membisu dikala dia sendirian. Dia hanya disibukkan dengan gitar dan buku-buku lusuhnya, juga, dengan sibuk memperhatikan kami. Aku tahu ada orang lain juga yang tinggal di wilayah ini, dialah seorang perempuan berambut hitam yang kadang mampir ke tempat anak muda itu. Dari komunikasi yang mereka lakukan, aku bisa tahu kalau perempuan itu adalah saudarinya. Tapi tidak seperti Rossy dan Bill, mereka tidak hidup bersama, bahkan cenderung jarang berjumpa. Mungkin itulah salah satu alasan anak muda itu selalu termenung sedih di kursi merahnya.

* * *
           Aku berusaha sekuat tenaga mengangkat makanan-makanan yang rencananya akan kubawa ke rumah untuk anak anakku. Bobotnya begitu berat, tidak cocok dengan tubuhku yang mulai menua. Aku tidak bisa meminta Bill ataupun Mark datang, karena itu hanya akan menyusahkan mereka. Rossy? rasanya dia terlalu muda untuk bekerja.

           Dalam kesulitanku, tiba-tiba aku merasakan getaran-getaran hebat yang entah darimana asalnya. Ah, aku tau getaran ini. Ini gempa bumi. Aku hampir saja berlari meninggalkan  makanan-makananku, tapi sebuah mobil yang tidak bernahkoda tiba-tiba saja melaju ke arahku dengan begitu cepat. Belum sempat aku menghindar, mobil itu menghantam tubuh rentaku, dan sebagian tubuhku berakhir dibawah roda-roda mobilnya yang keras. Aku bisa merasakan tubuhku, mobil ini tidak berat, tapi aku kesulitan menyingkirkannya dari tubuhku. Aku mencari-cari siapapun yang bisa membantuku tapi nyatanya tidak ada.

           Seseorang tiba-tiba saja datang, dia, pria muda yang sering memperhatikan kami. Dia mengangkat mobil itu begitu saja, seperti seorang ksatria membantu wanita tak berdaya. Aku tidak heran melihatnya, mengingat tubuh pria muda itu memang cukup besar dan kurasa lekukan-lekukan di tubuhnya itu adalah otot. Tapi daripada itu, aku sangat berterimakasih padanya karena telah menolongku, tanpa banyak bicara. Sebagai tanda terimakasihku, aku meninggalkan makanan-makananku untuknya. Setelah aku pergi, kulihat tangannya mengambil makananku untuk kemudian dia kepal erat dengan dua telapak tangannya.

           Dia orang baik.

 * * *
           "Aku pergi dulu, istriku." ucapku lembut pada istriku yang cantik, Anna. Aku mencium bibirnya pelan lalu pergi.

           Ah, anak muda itu memperhatikan kami lagi.

* * *
          Suatu hari, aku melihat anak muda itu berdiri cukup lama di sore hari yang mendung, dia memegang gunting di tangan kanannya. Dia tidak memperhatikan kami lagi seperti biasanya. Aku melihat dia terdiam sangat lama, tatapannya nanar. Entah kenapa aku jadi ingin memperhatikannya saat itu. Anak muda itu tiba-tiba menangis, tapi tak berekspresi. Air matanya mengalir begitu saja tanpa henti. Dia menyalakan sebuah lagu dengan bahasa aneh yang tak kumengerti, yang bisa kutangkap adalah, nadanya sangat suram dan sedih.

          Kemudian dia semakin menangis, kali ini wajahnya menunjukkan kesedihan yang amat dalam. Aku tidak tahu dia kenapa, tapi aku juga tidak tahu harus bagaimana. Aku hanya bisa memperhatikan gerak-geriknya. Dia meletakkan gunting yang dia pegang sejak lama. Dia mengambil kertas dari tumpukan buku lusuhnya dan menggores-goreskan ujung pensilnya ke atas kertas. Entah menulis apa, aku tidak bisa membaca. Bukan karena letaknya tidak terjangkau oleh mataku, tapi aku memang tidak bisa membaca.

          Cukup lama ia menulis, mungkin berlembar-lembar. Aku bisa melihat, walau dari belakang, pemuda itu menangis sesenggukan. Bahunya terangkat cepat beberapa kali. Punggung tangannya basah menyeka air mata yang entah jatuh karena apa. Aku merasa iba, tapi sekali lagi, tidak bisa berbuat apa-apa.

         Dia akhirnya bangkit. Robekan kertas dua lembar yang penuh dengan tulisan ia genggam dan kemudian dilemparnya ke atas kursinya. Dia mengambil kembali gunting yang tadi, lalu menghadap ke jendela. Posisinya sekarang membelakangiku. Tangisnya yang tadi sudah reda terdengar membuncah kembali. Aku tidak bisa melepaskan pandanganku darinya. Kebaikan yang ia lakukan beberapa hari lalu terhadap Jack, membuatku ingin sedikit lebih peduli padanya. Tapi dalam keadaan begini, tetap saja aku tidak bisa apa-apa. Aku tetap disini di pintu rumahku dan dia si pemuda baik hati itu tetap menangis sedih menghadap jendela.

           BRUKK

           Baru saja aku melamun sebentar, pemuda itu tiba-tiba jatuh terkapar. Dia.. dia sakit? gunting yang digenggamnya terlempar entah ke arah mana. Aku.. benar-benar shock. Kulihat ia terbaring dan tidak bergerak. Aku tidak tahu kalau dia punya riwayat penyakit tertentu sebelumnya. Mungkin dia sesak napas lalu pingsan? yang jelas aku tetap tidak bisa berbuat apa-apa. Aku hanya berharap saudari perempuannya itu segera datang, agar jika memang benar pemuda itu terkapar karena penyakit yang dia derita, dia bisa segera ditangani oleh siapapun yang tepat.

          Cukup lama aku terdiam disitu, sembari berkeringat hebat melihat anak muda itu tak bangun-bangun juga. Rasanya aku ingin memanggil seluruh warga wilayah ini untuk membawanya ke pengobatan. Tapi yang ada di wilayah ini hanyalah si Jack tua dan beberapa maniak bertubuh besar yang selalu membuatku takut. Sekali lagi, aku tidak bisa berbuat apa-apa. Anna dan anak-anakku juga melihat pemuda itu terkapar, tapi mereka hanya bisa terpaku. Aku berdoa sekuat tenaga kepada Tuhan agar Ia mengirim seseorang kemari untuk menyelamatkan pemuda baik hati itu.

          Doaku terkabul. Saudari perempuannya datang sambil menangis-nangis dan mengatakan bahasa yang tak kumengerti. Tangannya menggoyang-goyangkan tubuh pemuda itu dan memintanya untuk bangun. Tak lama, beberapa orang yang memakai pakaian serupa dengan jumlah agak banyak, memboyong tubuh pemuda itu pergi, kurasa ke tempat pengobatan, hingga akhirnya mereka berlalu dan aku tidak bisa melihat mereka lagi.

 * * *

          Beberapa hari, hampir satu minggu, pemuda itu tidak kembali ke wilayah ini. Kurasa dia tidak pindah, karena barang-barangnya masih tetap ada disana, di sebrang rumahku, dengan posisi yang sama sekali tidak berubah sejak ia dibawa pergi beberapa hari lalu.
       
          Tak kusangka, aku merasa kehilangan. Pemuda yang setiap hari memperhatikan kami sejak kepindahan kami kesini, tidak berada lagi di tempat yang sama dengan kami. Tak kusangka juga, Rossy menangisi pemuda itu. Anna nampak mengkhawatirkannya, dia bilang pemuda itu orang baik. Bill tidak bereaksi, dia hanya terlihat kesal pada Rossy yang menurutnya menangis berlebihan.

* * *
          Beberapa bulan berlalu. Aku masih bekerja keras untuk kehidupan keluargaku. Pemuda itu tak pernah kembali. Juga saudari perempuannya. Aku tidak hanya kehilangan, aku benar-benar sedih. Tempat ini menjadi semakin sepi. Jack menghilang entah kemana. Walaupun dia tua, kaki-kakinya bergerak lebih cepat daripada kami. Mungkin dia kabur ke antah berantah, mencari istri lagi.

          Satu minggu dua hari setelah perginya pemuda itu, temannya yang berambut abu sempat datang ke wilayah kami. Dia hanya terdiam dengan wajah datar, mengambil beberapa barang pemuda itu, kemudian dia pergi lagi dan tak pernah kembali.

* * *

          Karena lingkungan itu semakin sepi, aku memutuskan membawa keluargaku pergi dari tempat itu. Kami sama-sama mencari lingkungan yang memiliki lebih banyak warga. Itu juga kulakukan agar Rossy bisa melupakan pemuda itu, yang tak berhenti ia tangisi setiap hari. Pemuda itu tidak pernah kembali, setelah setahun lalu aku terakhir melihat tubuh lemahnya dibawa pergi orang-orang berseragam itu.

          Satu yang kusesali, adalah mengapa aku tidak mencoba lebih dekat dengannya, dan mengapa aku tidak bisa membantunya sama sekali saat ia pertama kali terkapar saat itu.

          Pemuda, maafkan aku.
* * *

BACA : Chapter 2 >>Bahagianya Menjadi Serangga

27 Mei 1960, tentang Cinta dan Perkawinan


          Beberapa hari yang lalu aku pernah debat dengan Suparjo, seorang fanatik Katolik tapi bagiku baik. Aku mempertahankan bahwa tujuan perkawinan sebenarnya ialah nafsu. Mereka bukan hendak melanjutkan keturunan atau tugas dari Tuhan. Tapi hal ini dibantah dengan keras olehnya. Dia tidak mau mengakui bahwa wujud manusia tidak lebih tinggi dari anjing. Aku kira tak usah dijelaskan pendirian Suparjo kawanku yang baik itu. Karena pendiriannya umum dan sesuai dengan pendapat Gereja Katolik.
          Aku kemukakan alasan-alasan sebagai berikut: Kalau kita bersetubuh apakah yang dipikir, puas atau keturunan. Aku yakin 99% memikir yang pertama. Bagiku mustahil pendirian yang kedua, walaupun tak aku sangkal. Perkawinan bagiku identik dengan perhubungan kelamin. Jadi identik pula dengan nafsu. Manusia itu sadar akan hal ini. Tetapi mereka malu dan segan mengakui fenomena ini. Mereka malu disamakan dengan kemenakannya. Jadi bagiku tak ada tujuan perkawinan buat apa yang disebut cinta dengan variasi-variasinya yang nonsens. Jadi perkawinan didorong oleh naluri biologis. Dia tak dapat membantah tetapi dia yakin benar pendiriannya. Bagiku cinta bukan perkawinan. Kurang lebih 1-2 tahun yang lalu aku yakin bahwa cinta = nafsu. Tapi aku sangsi akan kebenaran itu. Aku kira ada yang disebut cinta yang suci. Tapi itu akan cemar bila kawin. Aku pun telah pernah merasa jatuh simpati dengan orang-orang tertentu, dan aku yakin itu bukan nafsu. Aku jadi ingat omongan si Bun Som. Dia pernah bilang bahwa dia punya kawan. Kawan itu jatuh cinta dengan gadis yang merupakan ideal type-nya. Lalu dia bilang kepada si Bun Som: "Aku tak mungkin mengawininya, sebab kalau aku kawin aku tak tega menyetubuhinya. Paling banyak aku cium." Dia tak mungkin mengadakan hubungan kelamin sebab baginya 'Ubermensh'-nya suci dan mau dikotori. Aku yakin inilah cinta sejati.
          Aku kira aku pun akan bersikap seperti itu. Kalau aku jatuh cinta aku tak mengawininya. Jadi seperti analisanya A.Gide. Lain kali akan kutulis pendapatku tentang sejarah. Bagiku masyarakat tak mungkin hidup tanpa sejarah.

Soe Hok Gie,
Jumat, 27 Mei 1960

P.S
dalem banget coy.
Just want to share this 

Misteri di Perkemahan



           Ini adalah malam pertamaku kemah di hutan Rium bersama teman-teman.Aku tidur di tenda nomor 13,bersama Nalia,Amina,Dini dan Shalwa.Kebetulan kami termasuk orang-orang yang penakut,disatukan dalam tenda yang sama dengan nomor misteri,nomor 13.
            Semua orang pasti sudah tahu tentang mitos angka 13.Angka sial.Dan,aku mendapat tenda dengan nomor sial,ditambah lagi aku setenda dengan orang-orang yang sama penakutnya denganku,sungguh-sungguh sial !!!
            Sudah tahu kita semua penakut,Shalwa malah iseng bercerita tentang hantu yang menakutkan.Dia pun bercerita bahwa dia pernah bertemu hantu.Entah dia berkata benar atau hanya bohong belaka,aku tak tahu.
            Ceritanya,saat malam Jum’at pukul 11 malam,Shalwa belum tidur karena dia asyik menonton film laga favoritnya di tv.Semua anggota keluarganya sudah terlelap.Saat itu,tiba-tiba ia merasa kebelet mau pipis.Tapi,letak kamar kecil ada di rumah bagian belakang.Dan ruang tv itu adanya di bagian depan rumah.
            Seperti biasa,kalau sudah malam semua ruangan lampunya dimatikan kecuali ruangan paling depan,yaitu ruang tv.Shalwa merasa takut untuk pergi ke belakang.Apalagi sudah jam 11 lewat,malam Jum’at lagi.Tapi karena tidak tahan lagi,Shalwa pun memutuskan untuk lari ke kamar kecil.Namun sebelum melakukannya,tiba-tiba saja muncul sesosok wanita rambut panjang dan pakaian putih pucat berdiri di ujung tembok.Spontan Shalwa berteriak dan setelah itu tidak ingat apa-apa lagi.
            “Kau pingsan Shal ?”tanya Dini memotong.
            “Entahlah..”jawab Shalwa.
            “Kok kamu tidak tahu ? memangnya setelah sadar kembali kamu ada di mana ?”tanya Nalia.
            “Emmhh...ada di ruang tv.Kata ibuku aku ketiduran saat menonton film.”
            Mendengar jawaban Shalwa semuanya berpikir,”ah...paling halusinasi atau mimpinya si Shalwa saja”.Aku pun berpikir begitu,habisnya cerita temanku benar-benar garing dan tidak meyakinkan.
            “Sudah ah.. lebih baik kita tidur saja sekarang.Daripada nanti ceritanya Shalwa kejadian..”kataku menakuti.Setelah aku bilang begitu,semua temanku pun serempak berkata,”hiiiii.....” dan langsung bersembunyi di balik selimut masing-masing.
                                                                        * * *
            “Hoaaaeemmmm....”aku bangun sembari menguap dan menggeliat.Aku melihat ke sekeliling,masih gelap.Bukankah seharusnya sudah pagi dan penuh dengan sinar matahari ? tapi... eh,ternyata masih jam 1 malam.
            Aku melihat ke arah teman-temanku.Mereka tidur dengan nyenyak dan pulas.Yah... mereka memang seperti bangkai yang suka tidur.Aku kembali membaringkan badanku,tapi..sekarang aku tidak bisa tidur lagi.Bagaimana ini ? tiba-tiba...aku teringat cerita-cerita misteri dan cerita Shalwa tadi malam.Aduh... bulu kudukku langsung berdiri.
            “Tuk...tuk...tuk...”
            Tiba-tiba aku mendengar suara palu yang dipukulkan.Seperti sedang memaku.Ya ampun...siapa yang malam-malam begini memaku ? apakah .. hantu !!?
            “Aaaaaaa........”aku berteriak.Namun suara yang kukeluarkan tidak besar,karena aku sudah keburu ketakutan dan mengeluarkan tenagaku dengan keringat yang bercucuran.Tidak kusangka teriakan itu membangunkan temanku.Amina,langsung terbangun tatkala mendengar teriakan kecilku barusan.
            “Untuk apa kau teriak-teriak dini hari begini huh ?!”kata Amina kesal.
            “Amina...Amina... apa kau mendengar suatu suara ? seperti suara orang sedang memaku !?”tanyaku pada Amina dengan suara berbisik.
            “Ha ? suara orang memaku ? mana mungkin dini hari begini ada orang main perkakas ?”Amina tidak percaya,bukan menjawab pertanyaanku.
            “Sungguh !! aku mendengarnya barusan !!! kau harus memercayaiku !!”kataku penuh yakin.
            “Kalau begitu,mana sekarang suaranya ? tidak muncul lagi..pasti itu halusinasimu akibat terlalu memikirkan ceritanya Shalwa.”kata Amina enteng.Lalu ia pun segera berbaring dan cepat tidur.
            Sementara aku,masih mematung ketakutan.Suara orang memaku itu masih terdengar di telingaku,walau sesungguhnya suara itu sudah hilang,namun masih terngiang.
            “Tuk..tuk..tuk...”suara itu muncul lagi.Ah...aku membenamkan wajahku di balik tangan.Aku sungguh ketakutan,tidak tahu mesti melakukan apa.Tiba-tiba.... muncul suara aneh lainnya.
            “Huu...huu... hu..huhu..”suara orang seperti menahan tangis.Suara ini lebih jelas,lebih dekat.Sepertinya suara itu berasal tepat dari belakangku.Ya,di belakangku !!!! aku memberanikan diri menengok ke belakang,dan...
            “Ya ampun Shalwa !! kenapa kau menangis begitu !!? membuatku kaget saja !!”teriakku pada Shalwa.Ternyata memang Shalwa yang menangis di belakangku.Tanpa kusadari,ia pun terbangun dari tidurnya.
            “Itu...suara orang sedang memaku.... suara siapa itu ?? hu..huh....huhu..... aku takutt .. ibu...”rengek Shalwa dengan bibir dan tubuh gemetaran.
            “Ya Tuhan,Shalwa !! kau juga mendengarnya !! berarti ini bukan hanya imajinasiku.Suara itu sungguhan... Ya Tuhan .. apa yang harus kita perbuat ...?!”
            Di tengah ketakutan kami,tiba-tiba...ada yang mengetuk pintu tenda kami.Ketukan itu dilakukan dengan keras dan kasar.Memaksa.Spontan Shalwa berteriak sangat kencang.Lalu beberapa saat kemudian dia pingsan.
            Ya ampun,tinggal aku sendiri yang harus menghadapi ketakutan ini.Semua temanku dalam keadaan tidak sadar,dan aku..yang merasakan ini semua sendirian... !!!!!!!!!!!!
            Ketukan itu berhenti.Tapi yang terjadi selanjutnya lebih buruk lagi.Orang di luar -yang kemungkinan besar adalah makhluk gaib itu- mau membuka sleting pintu tenda kami.Aaaaaaaaaaaaaa ............. aku tidak kuat lagi !!!!!!!!! aku pun tidak mengingat apa pun lagi setelahnya.
                                                                        * * *
            Sekelebat cahaya bersinar di atas mataku.Kulihat beberapa orang berdiri di samping tempat tidurku.Oh..ternyata teman-teman dan pembina pramuka.Mereka tersenyum ketika melihatku sudah siuman.Saat aku bertanya apa yang terjadi,mereka mengatakan kalau aku pingsan di tenda berbarengan dengan Shalwa.Kali ini aku pun ingat kembali dengan kejadian semalam,suara aneh orang yang sedang memaku dan ketukan-ketukan keras dari luar tenda saat dini hari.
            Aku pun menceritakan kepada mereka tentang kejadian yang aku dan Shalwa alami semalam hingga membuat kami berdua pingsan.Setelah aku selesai bercerita,tiba-tiba kak Romi,salah satu pembinaku tertawa.
            “Kak,kenapa tertawa ?”tanyaku heran.”Apa ada yang lucu ?”
            “Tidak...hanya,tingkahmu dan Shalwa benar-benar membuatku tidak habis pikir.”kata kak Romi,masih dengan tawanya.
            “Memang apa yang terjadi kak ?!”tanyaku lagi.
            “Suara orang yang memaku itu,itu kakak yang melakukannya.”
            “Maksudnya .. ? kakak adalah hantu yang suka memaku malam-malam ?”
            “Ha...ha.....ha...bukan-bukan ! jadi,malam itu tiba-tiba tendaku rubuh.Makanya segera aku betulkan tali tenda dan kupaku malam itu juga.”jelas kak Romi.Penjelasan itu sangat membuatku lega.
            “Ternyata itu kakak .. syukurlah .. itu membuatku lega.Eh..tunggu dulu.. siapa yang mengetuk-ngetuk pintu tendaku ?”
            “Ah..itu.Itu juga aku yang melakukannya karena aku mendengar suara teriakan dari dalam tendamu.Makanya aku berniat mengecek untuk memastikan bahwa kalian baik-baik saja.Ternyata setelah diperiksa,kau dan Shalwa pingsan.Dan itu semua karena ketakutan kalian akibat ulahku.Benar-benar lucu,ha..ha..ha....”kak Romi kembali tertawa.
            “”Hus !! jangan kau tertawa besar-besar Romi !! ini masih dini hari,pukul dua pagi.Hati-hati jika makhluk gaib masih berkeliaran di sekitar sini.”kata ketua pembina,kak Indra,menakuti.
            “Ah..kak Indra mau menakutiku ya ? percuma...tidak berpengaruh padaku kak !!”kak Romi sok berani.
            “Kurasa ucapan kak Indra benar adanya.”kata Nalia tiba-tiba.Semua orang melihat ke arah Nalia dengan ekspresi sama,mengernyitkan dahi.
            “Maksudmu apa sih La ?”tanya Amina mulai merasa takut.
            “Kalian lihat di ujung tembok situ,apa ada anggota pramuka kita,seorang perempuan dengan baju putih sampai mata kaki,berambut panjang berantakan,dan wajah pucat ?”kata Nalia dengan suara hampir menghilang.Serempak semua orang mengalihkan pandangannya ke ujung tembok,dan mata mereka menangkap apa yang disebutkan Nalia,begitu juga aku.Kami semua terpaku.
            “Kurasa perempuan itu bukan anggota pramuka sekolah kita.”kata kak Indra dengan tegang.
            Lalu .... siapakah perempuan itu ????!!!!!!!!!!!

                                                                                    * * *

Cerpen : Kesehatan Bumi adalah Kesehatan Kita Part II

 Nah biar ngga kagok-kagok, hehe.. aku langsung post aja ya cerpen ini yang part II nya. Oh ya, kalo belum baca Part I nya, bisa klik aja disini ya =D .. Happy Reading all =)))))))



                                                      Kesehatan Bumi adalah Kesehatan Kita

            Pagi ini aku tidak malas-malasan lagi.Aku bangun lebih awal untuk bersiap ke sekolah.Melihat aku yang tumben-tumbennya giat,ibu bertanya,
            “Sira,ada acara apa di sekolah ? Kok tumben bangunnya pagi banget ?”
            Sambil tersenyum kecil,aku menjawab,
            “Nggak ada acara apa-apa kok,bu.Tapi ada yang harus aku lakukan.”jawabku.
            “Melakukan apa ?”tanya ibu lagi.
            “Ah...lihat saja nanti.”kataku sambil berlalu.Ibu hanya mengangkat bahunya tanda tak mengerti.
            Sekarang waktunya aku berangkat.Aku menuju keluar dan meninggalkan rumah.Tapi belum sempat aku melangkahkan kaki,ayah mencegahku.
            “Sira,tunggu dulu dong.Ini ayah bentar lagi siap anterin kamu.”kata ayah.
            “Ayah..mulai sekarang aku nggak usah diantar lagi pakai motor.Aku mau jalan kaki saja ke stasiun.Lagipula stasiun angkot kan dekat,sekalian aku olahraga pagi.”
            “Kamu nggak takut kesiangan ?”tanya ayah ragu.
            “Nggak dong,aku kan udah bangun pagi.Oh ya,kalau ayah mau ke kantor,lebih baik jangan naik motor deh,soalnya asap knalpot motor bisa menyebabkan pemanasan global yang bikin bumi sakit.Jadi sebaiknya ayah naik sepeda saja ya.Kantor ayah juga kan nggak jauh-jauh banget dari sini.Betul kan yah ?”
            “I...iya sayang.”jawab ayahku keheranan.Aku pun langsung pergi berjalan kaki menuju stasiun angkot.Lalu aku melalui perjalanan seperti biasanya menuju sekolah.
            Tiba di sekolah,aku masuk ke kelas.Ternyata teman-temanku belum banyak yang datang.Aku melihat sekeliling ,baru ada beberapa orang saja.Sepertinya aku datang kepagian,hehe...
            Eh,iya.Di kelasku ada AC,bukannya AC itu merusak lapisan ozon bumi ya ? sama saja dengan merusak lingkungan.Wah,ini jangan dibiarkan.Aku akan mengatasi hal ini dengan memberi penjelasan kepada pihak sekolah,lebih tepatnya ke kepala sekolah.
            Akupun pergi ke ruang guru.Aku mencari kepala sekolah.Nah,itu ada Ibu Kepsek.Aku menghampirinya,meski agak ragu dan takut karena baru kali ini menghadap kepala sekolah sendirian.Tapi demi kesehatan lingkungan dan kebaikan semua orang,aku harus berani.
            “Assalamu alaikum,bu.”kataku pelan.
            “Ya,wa’alaikum salam.Ada perlu apa nak ? pagi-pagi sudah menghadap ibu.”
            “Euh..ini bu.Saya...ingin menyampaikan pendapat dan saran saya untuk sekolah mengenai pemanasan global yang saat ini sedang marak.”
            “Oh...silakan.”
            “Begini bu.Kalau saya boleh saranin,sebaiknya AC di tiap kelas diganti dengan AC ramah lingkungan saja”           
            “Maksud kamu apa ya ? Ibu kurang ngerti.”
            “Begini bu.Saya pernah baca di sebuah artikel.Katanya AC itu merusak lapisan ozon bumi dan membuat pemanasan global semakin parah.Saya lihat AC yang ada di tiap kelas sekolah kita bukan AC yang ramah lingkungan.Padahal AC ramah lingkungan itu lebih murah karena pemakaian energi listriknya lebih sedikit dan baik untuk kesehatan bumi kita.Ibu mau kan mengusahakan apa yang saya sarankan ?”tanyaku penuh harap.
            “Hmm...yang kamu katakan itu benar.Baik,Ibu akan mengusahakan semuanya.
Bagaimanapun juga kita sebagai penduduk bumi harus menjaga lingkungan kita sendiri.Terima kasih ya nak,atas saran kamu.”
            “Sama-sama bu.”
            Horeee !!!! Aku senaaaaang....sekali.Aku tidak menyangka saranku langsung diterima.Yes!usahaku pasti berhasil.Dengan senyuman lebar,aku kembali ke kelasku.
            Saat aku berjalan ke kelas,tiba-tiba temanku Selvi,datang dengan wajah sedih.Aku pun bertanya padanya mengapa ia bersedih.
            “Selvi,kamu kenapa ? kok sedih gitu..”tanyaku.
            “Sir,teman kita...Nida...dia meninggal !!”
            “Apa ??! meninggal ? kok bisa ?!”aku kaget sekali mendengar apa yang Selvi katakan.
            “Nida sakit.Kata orang tuanya,dia sakit demam berdarah.”
            “Hah ?!kok bisa?”
            “Setahuku sih,sekarang ini memang lagi wabahnya DBD.Tapi nggak tahu juga kenapa bisa mewabah sampai akhirnya teman kita yang kena.Kasihan banget ya Nida..”kata Selvi.
            Meninggal karena DBD yang mewabah ? Bukannya selama ini di kotaku sering dilakukan penyemprotan anti nyamuk DBD ya ?! kok sekarang malah mewabah ? ini membuatku penasaran.
            Pulang sekolah,aku kembali menyalakan komputerku,membuka penelusuran internet.Aku mencari penyebab terjadinya wabah demam berdarah.Dan aku menemukan sebuah artikel.
            Apaa ??? lagi-lagi karena pemanasan global ??! Pemanasan global ini benar-benar sebuah malapetaka.Malapetaka yang harus segera dihancurkan !
            Dalam artikel itu,penyakit demam berdarah semakin meningkat persebarannya karena pemanasan global.Suhu yang panas membuat nyamuk dapat bertahan hidup lebih lama,akibatnya penyakit demam berdarahpun semakin mewabah dan memakan korban.Parahnya lagi korban itu adalah temanku.Kasihan sekali Nida,ia harus terkena penyakit ini akibat pemanasan global yang disebabkan ulah manusia.Sungguh memprihatinkan.
            Kalau sudah begini,aku bingung harus berbuat apa.Aku tidak mungkin diam saja,membiarkan bumi ini semakin mendekati kehancuran.
            Aha ! aku jadi ada ide.Aku bisa memelihara lingkungan dengan menanam pepohonan untuk mengurangi pemanasan global pada bumi.Dengan begitu pemanasan global bisa sedikit demi sedikit teratasi.
            Aku kembali ke komputerku,menelusuri internet.Aku mencari dan mencari,pohon apa yang bagus untuk kutanam.
            Ternyata pohon yang bagus untuk mengurangi pemanasan global adalah bambu.Bambu dapat menyerap CO2 empat kali lebih banyak daripada pohon biasa.
            Tapi...bambu itu setahuku panjang-panjang dan besar-besar.Bagaimana bisa aku menanamnya sendirian ? kurasa aku butuh orang lain untuk menanamnya juga.
            Masalahnya,orang-orang tidak mungkin langsung mau menanam bambu-bambu begitu saja.Lalu apa yang mesti aku lakukan sekarang ? aku berpikir keras,tapi tak kunjung mendapat ide.Apa aku meminta pendapat orang tuaku saja ya ? sebaiknya iya.
            Aku bertanya pada ibuku.Awalnya ibuku merasa aneh akan usulku yang tiba-tiba peduli terhadap lingkungan.Ibupun enggan berpendapat.Tapi setelah aku desak,ibu mau mencarikan jalan keluar.Kemudian ibu mendapat ide cemerlang.
            “Kamu jualan bambu saja,tapi kamu harus mencari bambu yang bagus dan menarik agar orang mau membeli dan menanamnya.Coba kamu cari di buku-buku dan internet.Ibu yakin ini berhasil.”jelas ibuku.
            Wah...usul ibu benar-benar hebat.Iya juga ya...aku kan bisa jualan di halaman rumahku.Rumahku juga letaknya strategis,di dekat jalan raya.Siapa tahu orang-orang melirik bambu yang kujual dan mau membelinya.Yang paling penting sih,mereka menanam bambu itu.
            Aku mencari jenis bambu yang bagus dan menarik di berbagai buku.Bahkan aku bertanya ke tukang tanaman hias yang sering lewat depan rumahku.Aku juga mencari jenis bambu itu di internet,dan akhirnya ketemu!!
            Beruntungnya aku!Aku menemukan jenis bambu yang kuinginkan.Namanya Bambu Kuning.Bambu ini adalah jenis bambu hias yang sangat cantik bentuknya.Harganya lumayan mahal,250.000 per rumpun.Tapi tak apalah,yang namanya usaha,apapun akan kutempuh.
            Ketika mulai berjualan,ternyata banyak juga orang yang berminat membeli tanamanku ini.Bahkan ada yang sampai memesan segala.Mereka juga berjanji akan merawat bambu yang mereka beli
            Sebenarnya sih,aku tidak masalah mereka mau membayar atau tidak.Jika mereka mau menanam bambu itu,aku bersedia kok memberi bambu itu secara cuma-cuma,asalkan mereka berjanji akan menjaga dan merawat bambu tersebut.
            Kini aku bahagiaaaaaaaaaaa sekali.Usahaku selama ini tidak sia-sia.Aku mulai bisa menjaga kesehatan dan kelestarian bumiku tercinta.Memang sih,hanya hal-hal kecil ini saja yang bisa aku lakukan,dan masalah pemanasan global ini belum bisa terselesaikan.Tapi aku yakin,semua masalah meski seberat apapun pasti bisa kita atasi.Asalkan kita mau berusaha untuk mencari jalan keluar yang terbaik.
            Semoga niat dan usahaku menjaga bumi bisa dilakukan juga oleh orang lain.Jangan sampai ada korban lagi seperti temanku Nida.Ingat,kesehatan bumi adalah kesehatan kita juga sebagai penghuninya.
                                                                        * * *

Cerpen : Kesehatan Bumi adalah Kesehatan Kita


 

            “Hoaeemmm...”
            Duh..ngantuk sekali ! untuk bangkit dari tempat tidur dan melepas selimut dari tubuhku saja sangat berat rasanya.Ditambah pagi ini hujan turun rintik-rintik mendukung suasana yang nyaman untuk berlama-lama berada di balik selimut.Tapi aku harus cepat-cepat bersiap ke sekolah.Apalagi sekarang hari Senin,pasti jalanan macet.Hari ini juga ada pementasan dari kakak kelas 9 yang wajib aku tonton.
            Perlahan aku bangkit dari kasurku menuju kamar mandi.Lalu aku sarapan dan berangkat sekolah.Seperti biasa,aku diantar ayahku naik motor sampai stasiun angkutan kota.Barulah aku melanjutkan perjalanan naik angkot ke sekolah.
            Setelah siap untuk berangkat,aku memanggil ayahku.
            “Ayah...ayah...!”
            Tak lama kemudian ayah muncul dengan kunci motor di tangannya.
            “Sudah siap ? ayo berangkat !!”kata ayah.Aku mengangguk.Sebelum pergi tak lupa aku pamit pada ibuku,baru kemudian aku berangkat.
            “Breeemmmm....ngeeengg !!!”
            Motorpun sampai di stasiun.Aku turun dari motor dan pamit pada ayah.Kemudian aku menaiki angkot yang sedang ngetem.Kelihatannya sih sudah penuh,hanya tersisa dua tempat lagi yang kosong.Tanpa basa-basi lagi aku segera naik.Karena di dalam sudah penuh,aku duduk di kursi dekat pintu.
            Saat di dalam angkot yang penuh,pasti aku merasakan sesuatu.Suatu bau yang tercium oleh hidungku,yaitu bau ketiak orang-orang yang ada di angkot ini.Duh...baunya membuat orang ingin muntah.Perutku juga jadi ikutan mual gara-gara mencium bau ini.
            Sebelum aku muntah,untungnya angkot ini sudah mulai maju.Udara pagi hari berhembus memasuki bagian dalam angkot,menutupi bau ketiak orang-orang di dalam.Angkotpun meninggalkan stasiun menuju jalan raya.
            Aku memperhatikan keadaan di luar.Sama seperti yang aku lihat kemarin-kemarin.Jalan raya yang ramai dengan kendaraan roda empat dan sepeda motor.Banyak sekali berbagai jenis kendaraan.Mereka berkendara dengan tertib sehingga lalu lintas terasa nyaman.Tapi ada yang membuatku merasa risih,yaitu asap yang dikeluarkan kendaraan menyebabkan udara pagi yang seharusnya sejuk menjadi sesak.
            Hampir setiap hari keadaan kota seperti ini aku rasakan.Tapi aku merasa tidak dapat melakukan apa-apa untuk mengatasi semuanya.Yang bisa aku lakukan hanya membekap hidung dan mulutku dengan telapak tangan untuk menghindari asap kendaraan berbahaya itu masuk ke dalam paru-paruku.Kalau aku pikir-pikir lagi,lebih baik aku mencium bau ketiak daripada menghirup asap kendaraan itu.
            Tak terasa angkot sudah sampai di depan sekolahku.Aku turun dan buru-buru masuk ke sekolah.Di lapangan sekolah sudah banyak murid kelas 7 dan 8 yang siap menonton pementasan dari kakak kelas 9.Aku duduk di lapangan sebelah barat.Panggung pementasannya lumayan besar.Di sebelah panggung juga sudah disiapkan infokus untuk menayangkan sejumlah video yang berhubungan dengan pementasan ini.
            Beberapa menit kemudian,kakak-kakak kelas 9 muncul dari balik panggung.Mereka telah memakai kostum yang mayoritas berwarna hijau.Lalu ada salah seorang membawa papan yang bertuliskan, “WE LOVE OUR EARTH”.Lalu mereka semua membunyikan yel-yel, “KITA SAYANG BUMI ! KITA CINTA BUMI !”
            Setelah yel-yel dibunyikan,mereka menampilkan kabaret.Kakak-kakak kelas 9 memperagakan hal-hal yang merusak lingkungan seperti membuang sampah ke sungai,melakukan penebangan liar,menggunakan kantong plastik secara berlebihan,dan lain-lain.Satu orang yang berkostum seperti bumi menangis dengan kencang.Kemudian datang seorang perempuanmenasihati mereka agar tidak melakukan hal-hal yang merusak lingkungan lagi.Lalu perempuan itu menunjukkan video dari layar infokus yang menayangkan keadaan bumi akan hancur.Dataran rendah tenggelam karena naiknya permukaan laut akibat pemanasan global,banjir di mana-mana,es di kutub mencair,dan persebaran penyakit makin merajalela.
            “Bumi sakit parah karena kelakuan kalian!”kata perempuan itu.
            Orang-orang yang merusak lingkungan akhirnya mengerti dan menghentikan perilaku mereka.Selanjutnya mereka menanam pepohonan,mengendarai sepeda bila bepergian,dan membuang sampah pada tempatnya.Orang yang berkostum bumipun menjadi senang dan menari-nari gembira.Itulah akhir dari pementasan tersebut.
            Sehabis menonton pementasan tadi,aku jadi berpikir,sepertinya selama ini aku sering sekali melakukan hal-hal yang merusak bumi dan lingkungan.Aku suka buang sampah di mana saja,memakai kantong plastik berlebihan dan mungkin masih banyak lagi yang kulakukan.
            Bagaimana kalau suatu saat bumi menjadi seperti yang ditayangkan dalam video di pementasan tadi ? Pasti penduduk bumi juga yang akan kena.Ini tidak boleh dibiarkan,aku tidak mau bumi menjadi hancur begitu saja karena ulah penghuninya sendiri.Harus ada perubahan,dan aku yang akan memulai perubahan itu dari sekarang.Ya,aku harus !
            Sepulang sekolah,aku segera menuju kamarku lalu menyalakan komputer.Aku mencoba mencari tahu di internet,apa yang menyebabkan kerusakan lingkungan,akibat yang ditimbulkan dan bagaimana cara mencegahnya.
            Dari hasil pencarian,yang menyebabkan kerusakan lingkungan adalah ulah manusia sendiri.Akibat paling fatal yang ditimbulkan saat ini adalah pemanasan global.Pemanasan global disebabkan oleh asap kendaraan,AC(air conditioner) yang merusak lapisan ozon bumi,efek gas rumah kaca,dan lain-lain.
            Efek yang diakibatkan pemanasan global ini sama seperti yang ditampilkan di pementasan tadi.Dataran rendah tenggelam,kutub es mencair.Waduh...seram sekali.Daerah tempat tinggalku ini kan termasuk daerah dataran rendah.Bagaimana jika suatu saat nanti tenggelam ??
            Untuk mencegah semakin parahnya pemanasan global,ada cara-cara yang bisa dilakukan yaitumengurangi penggunaan kendaraan,mengurangi penggunaan AC,dan juga menanam pohon.
            Hmm...cara ini bisa aku mulai besok pagi.Tunggu saja perubahan yang akan aku lakukan,hehehe....
                                                                                 * * * 

Penasaran kira-kira apa yang akan dilakukan 'aku' ? tunggu season duanya ya.. see ya! =D