Fenomena Belakangan Ini

Banyaknya berita yang berseliweran belakangan ini, bikin capek mata yang baca dan telinga yang dengar gak sih? 

Wkwkwk.

Sempat terlintas dalam pikiran gue, kalo mau nyari sumber berita yang isinya positif semua, harus subscribe platform apa ya? hmm. Tapi kayaknya sih, ya gak ada juga. Tinggal pilah pilih sendiri aja yang mana yang mau dikonsumsi dan mana yang tidak.

Berita yang mungkin mayoritas isinya tentang kehidupan pribadi orang lain, bener-bener menuhi beranda. Gila. Bahkan akun-akun yang gue follow dengan tujuan semata-mata untuk informasi yang betulan informatif, sekarang lagi ngeberitain si motivator yang poligami diem-diem. Ya Rabbi. Ada pulak segala berita suami orang yang bikin tatto di badannya dan gambarnya adalah gambar istri orang. Ya Allah.

Gimana ya, di zaman kayak gini kan segala jenis informasi emang mudah banget didapetin. Ketika kita gak niat cari pun, tiba-tiba berita itu nongol aja dan tau-tau masuk ke kotak informasi di otak kita. 

Tapi ada sedikit hal yg menggelitik sih. Tuh kan, gue yang tadinya muak dan males terpapar sama berita-berita negatif (semata karena gue udah fusink sama hidup gue sendiri) mau gak mau ya jadi tau. Untungnya sih, gue tahu berita ini dari seorang pakar branding yang gue ikutin di Instagram. Beliau juga ngebahasnya bukan dalam konteks ngegosip, tapi justru dari sisi branding yang dilakukan sama si tersangkanya netizen ini, si motivator. Jadi si motivator ini tuh personal branding awalnya ngangkat kisah-kisah melodrama dari kehidupan nyatanya, di mana dia tuh baru nikah sama istrinya dan langsung kelilit hutang 7M-an dan keserang penyakit entah apa yang bikin si motivator kurus kering parah.

Nah dari cerita melodrama itu, di titik di mana dia udah sustain sekarang, tiba-tiba beritanya dia poligami diem-diem buat ngawinin istri yang lebih muda. Nah hancurlah kan segala kisah yang dia bangun selama ini. Dia yg bangun, dia yg hancurin. Gitu lah kira-kira singkatnya soal permasalahan branding yang dibahas. 

Jujur kalo dibahas dari sisi personal branding tersebut, hal itu menarik banget sih. Bukan persoalan gosipin orang ya, tapi ngambil pelajaran dari personal branding yang dilakukan orang lain. Ya gitu lah pokoknya. 

Tapi di sini gue bukan mau bahas itu. Gue di sini mau ngomong bagian-bagian 'receh' yang mungkin ngangkat sudut pandang gue sebagai wanita. Yah.. ada gunanya apa engga, let's see dulu lah ya.

Jadi, dari semua kasus ini, gue liat salah satu postingan sebuah akun media yang juga ngomongin soal si motivator ini. Kurang lebih kalimatnya, 

"Stereotype-nya jangan mau nemenin cowok dari 0."

Ada sih lanjutannya, cuma gue males aja nulis dan nerusin. Karena intinya itu, dan itu juga yang mau gue omongin.

Gak bermaksud pickme tapi jujur gue bingung aja sih, kenapa kalo ditemenin dari zaman bobrok, cowok mayoritas kecenderungannya malah lari nyari yg baru pas dia udah di atas langit? Kayaknya secara logika aja udah gak masuk kan? Ada orang yg mau nemenin lo dari zaman lo kayak tai, tapi pas si tai udah berubah jadi emas, malah nyari orang baru. Padahal kalo orang baru itu ngeliat lo sebagai tai waktu dulu, belum tentu dia mau. Ya kan? But.. gak usah kecewa, karena kenyataannya emang demikian.

Mungkin balik lagi ke persoalan ego cowok yang meletup-letup kayak aer mendidih, dia berasa terakui keberadaannya --yang sebenarnya cuma oleh dirinya sendiri-- dengan bisa mendapat lebih dari yang dia punya sebelumnya. Jadi ini cuma persoalan ego? gue rasa secara psikologis, mayoritas adalah demikian. Gue gak bilang kalo semua cowok ya, dan bahkan cewek pun pasti ada aja yang memiliki kecenderungan untuk begini. Gue cuma ngomongin mayoritas, itu pun dari sudut pandang gue.

Jujur ini semua gak masuk akal bagi gue. Menurut pemikiran gue, justru bertumbuh bareng dan setia satu sama lain tuh romantis banget. Dan lagi, berjuang bareng itu kan memperkuat ikatan dan koneksi antara satu sama lain gak sih? Apa lagi kalo konteksnya untuk pasangan hidup selamanya. Lo harus punya keterikatan lebih daripada sekedar naksir muka cakep atau bodi asoy. It doesnt long last.

Balik lagi ke kenyataannya, ya enggak kayak gitu. Walaupun gue gak suka, tapi ya kenyataannya begitu. Gue yakin masih ada cowok-cowok lain di luar sana yang beda dan unik. I know that. Allah will give me. Tapi ya gue capek aja denger berita aneh-aneh ini. Dan ya, sadly, these shits are a hard truth.

Jadi buat cewek-cewek di luar sana. Gue sih gak akan mengkritisi keputusan atau pemikiran lo kalo emang lo ternyata sekarang lagi nemenin cowok lo dalam kondisi 0 atau bahkan minus ya. I do support women. Gue cuma pengen sharing aja kalo hal kayak gini emang ada, dan better to build yourself as hard as you can, and expect everything only to God's hand. Ya gitulah, pokonya banyak bersiap aja. Inget, nanti kita di surga ga bakalan bingung, kalo kata bang Aldi Taher. Gapapa sekarang bingung, itu artinya kita emang cuma manusia biasa yang butuh Allah. Semoga kesehatan dan kebaikan fisik dan psikis kita senantiasa dalam lindungan Allah, aamiin.

Puisi: Kenang by Sarah Nurkhaliza

Kenang


Aku ingin mengenangmu
Dalam setiap detik jam melaju

Aku ingin mengenangmu
Walau kita tak pernah dalam ruang yang satu

Aku ingin mengenangmu
Dalam setiap hembusan angin
Meniup waktu untuk menghilang
Menyuruhnya untuk pergi
Mungkin sebentar-sebentar mengintip kembali
Dalam ruang-ruang yang luang
Dalam keramaian tak bertuan
Dalam ketidakberdayaan ingatan

Kita hanyalah akan menjadi masa
Bukan untukmu
Bukan juga untuk aku
Hanya seberkas cerita rindu terburu waktu
Yang tidak pernah merelakan kita bertemu

Aku akan selalu
Ingin mengenangmu


Bandung, 3 April 2023
05.41 WIB

Sarah Nurkhaliza

Puisi: Wanita dari Waktu yang Lain ------------ Nike Ardilla

Wanita dari Waktu yang Lain


Wanita yang berasal dari ruang waktu yang lain.
Berambut pendek, berwajah teduh.
Muda usianya, lebih kepada masih baru dewasa.

Tak lama ia beraksi panggung
Jika mengingatnya kini
Detik demi detiknya seperti hanya membaca sehalaman buku harian
Singkat, namun personal
Singkat, namun bermakna kekal

Jarang ia mampir
Dalam ingatanku, kesibukanku

Tapi secara rutin ia hadir
Entah mengapa
Walau kita tak pernah dalam satu ruang waktu yang sama

Tawa cantiknya
Suara serak pembedanya
Tinggi semampai tubuhnya
Selalu menjadi ruang dalam kepala yang terisi dengan berbagai tanya

Bagaimana seorang dalam kematiannya begitu berpengaruh dan menolak hilang ditelan zaman?

Sebuah artikel dengan judul In Death She Soared yang ikut memberitakan kepergiannya belum lama saat itu, memang benar menuliskan judul dengan arti yang dapat kita terima bahwa ia tak sekedar sederhana.

Seorang remaja tumbuh dewasa di usia ke sembilan belasnya, mampu mengajak insan dari berbagai era untuk terus mengingat dan mengajaknya bicara tanpa balasan kata dalam pikiran dan ingatan.

Sebuah kisah yang luar biasa
Dapat digoreskan gadis muda belia
Di usia yang bahkan belum kepala dua
Ia pergi menjadi legenda
Meninggalkan kerinduan tak beralasan di setiap insan yang mengenalnya
Saat itu, saat ini, dan saat hingga entah kapan

Nike Ardilla


Sarah Nurkhaliza,
Bandung,
3 April 2023, 05.58 WIB


Ulang Tahun Blog ke-11

Hari ini, 11 tahun lalu. Aku yang masih bertumbuh menuju usia remajaku saat itu bergerak pergi ke warnet terdekat dari rumah. Kala itu, berteman di Facebook dan bertukar nama pengguna Twitter jadi hal yang sangat ngetren di kalangan anak muda, juga anak sekolah sepertiku. Aku, tidak mengasingkan diri dengan mengabaikan tren yang sedang naik. Aku pun juga mendaftarkan diri menjadi 'warga' Facebook dan Twitter. Tapi, satu platform yang juga tidak bisa luput dari ketertarikanku adalah platform untuk menulis tulisan panjang.

Blog.

Waktu itu, blog diisi oleh review film, artikel berita, pembahasan profil artis, dan lain sebagainya yang erat kaitannya dengan dunia hiburan. Aku menjadikan artikel-artikel tersebut sebagai referensi. Memulai dunia baruku di ranah online yang saat itu baru dimulai, aku mendaftarkan diri di blogger sebagai 'Berita Sarah'. Sebuah akronim dari 'Berbagi Cerita bersama Sarah'. Setelah kupikir-pikir, cukup kreatif dan menarik juga nama yang aku buat saat itu.

Aku meluangkan banyak waktu untuk menulis, mengedit, dan menjadi pengunjung satu-satunya di blog yang kubuat. Bolak-balik warnet, atau pulang sekolah mampir warnet jadi hobi baruku. Aku merasa bahagia dan merasa nyawaku ada dalam dunia kepenulisan. Kebetulan juga, aku orang yang cenderung menyampaikan maksud lebih baik melalui tulisan dan terbiasa membuat tulisan panjang sejak aku kelas 1 SD.

Tidak menjadikan menulis sebagai tujuan hidup yang pasti, aku merasa menulis adalah teman dan kebahagiaan yang aku cari ketika apapun terjadi pada hidupku. Blog ini pun menjadi saksi perjalanan hidup sejak usiaku 14 tahun hingga 25 tahun dan bertahun-tahun usiaku kan bertambah ke depan. Aku suka merekam memori melalui setiap detail cerita yang kuketikkan di blog ini. Aku senang mampu mengingat setiap detail setelah kubaca kembali setiap tulisan-tulisan yang kubuat. Bagiku, tulisan itu abadi. Ketika aku sudah mati nanti, tulisan ini akan tetap tertinggal. Ia tetap ada, tetap hidup, menghidupkan segala cerita dari seseorang yang sama-sama mengarungi kehidupan dunia, di waktu yang sama, ataupun berbeda.

Aku akan selalu menjadikan platform menulisku ini sebagai rumah. Aku akan selalu kembali dan menceritakan segalanya padanya. Aku akan menulis sejarah dan cerita yang menembus waktu hingga entah kapan. Selalu, selamanya.

Sampai bertemu di ulang tahun ke-12 tahun depan!

Bertumbuh

 "Pagimu yang terluka, malammu yang menyiksa
Hal yang ingin kau lupa, justru semakin nyata
Mengunci ingatanmu, menahan masa lalu
Memori yang membisu, harapan yang berdebu.."

"Tak ada yang seindah matamu
Hanya rembulan
Tak ada yang selembut sikapmu
Hanya lautan
Tak tergantikan
Walau kita tak lagi saling menyapa"


"Cukupkanlah, ikatanmu
Relakanlah yang tak seharusnya untukmu.."


Setiap bait lagu yang melantun melalui earphone di telingaku, membangkitkan memori-memori masa lalu yang begitu membekas di ingatan. Setiap lirik yang kuhayati semakin menambah rasa sakit, begitu sakit, karena sialnya semuanya adalah kenyataan pahit yang harus kuhadapi.

Lirik dan melodi yang mengalun, menari-nari mempermainkan perasaanku yang kacau. Hatiku, yang aku sebenarnya tidak tahu seperti apa wujud fisiknya, aku bayangkan sedang ditusuk-tusuk ribuan jarum karena terasa amat sangat sakitnya.

Detik ini, ketika aku mendengar lagu-lagu ini, bukan hanya memori sakit yang terpanggil dalam ingatan, tapi aku seakan melihat diriku di masa lalu. Aku begitu kasihan. Sarah yang sendirian, tak stabil mental, menghadapi jutaan masalah di dalam kepala kecilnya, membuang setiap waktu memproses rasa sedih, meratapi hidupnya yang ia pertanyakan mengapa harus ada jika harus berulang kali dihantam rasa sakit, oleh orang lain, oleh dirinya sendiri.

Kebingungan dalam kepalanya, pertanyaan yang tidak tahu harus ia tanyakan pada siapa, air mata yang tak pernah absen hadir di hari-harinya, dan badan yang semakin kecil tak bisa berbohong bahwa kehidupannya bukan lagi kehidupan anak sekolah yang membuatnya bahagia.

Kepada setiap orang ia bertanya, tapi tak kunjung mendapat jawabannya. Sampai hari di mana ia cuma bisa menerima kalau takdir tidak seperti yang ia mau. Bahkan ia dipaksa hidup berdampingan dengan rasa sakit, dipaksa menerima setiap rasa sakitnya tak selalu dipedulikan dengan kata maaf dari sang penyebab sakit.

Hingga ia tumbuh menjadi dirinya yang sekarang, berusaha menyembuhkan setiap luka yang terlanjur terbuka dengan setiap jahitan. Kini ia lebih berpasrah, mungkin saking terbiasanya ia dengan harapan yang musnah.

Tentang Mamaku

Gak banyak cerita yang bisa diambil dari kita berdua, ma. Mungkin karena sejak kecil kita nggak dekat.  Sepanjang aku dan mama hidup di dunia, mungkin hanya 1/5 waktu yang kita habiskan bersama. Meski begitu, hubungan ibu-anak nggak akan pernah membuat kasih sayang jadi menghilang.

Kalau aku bisa deskripsikan mama dalam satu kata, mungkin aku akan bilang "perjuangan". Kalau mama ditanya aku anak seperti apa, mungkin mama akan jawab "yang gak suka angkat telepon". Meski awalnya mama marah dengan kebiasaanku, tapi kelamaan mama nerima dan menyesuaikan keinginan mama terhadap anak pendiam seperti aku. Aku pun yang sadar bahwa ibu adalah segalanya, mencoba mengeluarkan diri dari zona nyaman dengan membiasakan diri menelepon mama secara rutin. Kita saling menyesuaikan, ma.

Akhir dari kebersamaan kita, chat terakhirku mama gak balas. Telepon terakhir dari mama gak keangkat. The last call. Setelah mama nggak ada, jujur aku merasa cukup kuat karena terbiasa ditempa untuk belajar hidup mandiri, sendiri. Aku juga meyakini kepergian mama dengan cara seperti ini adalah takdir dari Allah. Takdir yang tidak bisa ditolak, takdir yang telah tertulis sejak kita semua belum ada di dunia ini. Aku nggak pernah ingin bersedih di balik kata 'seandainya', karena bagaimanapun, takdir ini pasti terjadi dan waktu tidak akan pernah kembali. Meratapi pun bukan hal yang bisa membantu mama setelah mama pergi.

Aku hanya sedih karena kita gak sempat kumpul, aku belum sempat bahagiakan mama. Mungkin aku gak bagus dalam berkata-kata, pun juga dalam menyampaikan perhatian. Tapi selalu tertanam dalam lubuk hatiku yang terdalam, kalau aku harus membuat mama senang, terutama nanti kalau mama pulang. Aku pengen manjakan mama dengan kebahagiaan dan harta. Kalau diuraikan dalam kata-kata, mungkin begini, "ini loh ma hasil kerja mama capek capek di luar negeri. Anak mama bisa kasih mama semua kebahagiaan dan kenyamanan yang sebelumnya belum mama dapatkan."

Tapi, kepergian mama memutus itu semua. Memutus harapanku di masa depan untuk membahagiakan mama dengan hasil kerja kerasku. Mama pergi ketika tanggung jawab mama sudah selesai, tapi hak mama belum benar-benar tercapai. Hak untuk mendapat kasih sayang dan service dari anak-anak yang mama besarkan. Ini menyakiti hatiku, ma.

Beberapa hari ini, aku mencari tahu, cara membalas budi dan menebus dosa pada orang tua yang telah tiada, terutama ibu. Satu-satunya cara adalah doa. Hanya doa yang mama bisa dengar di alam sana. Tulisan ini pun tiada berarti karena mama gak akan tau aku lagi nangis disini. Rintihan doa memohon kebaikan dan ampunan untuk mama lah yang hanya akan sampai. Atas hal ini, aku berterimakasih sama Allah karena setelah kepergian mama pun, masih ada hal yang bisa aku lakukan buat mama sebagai anak. Biasanya aku yang minta doa, sekarang aku yang akan berdoa buat mama.

Semoga mama bahagia di sisi Allah SWT.

Aamiin.

Quality Gap Manusia Indonesia

          

          Bukan Kerjaannya yang Gak Ada, Tapi Quality Gap yang Besar Banget di Manusia Indonesia

          Emang Iya?

          Tadi siang aku baru aja nonton videonya ci Feli di channel Youtubenya, Felicia Putri Tjiasaka. Di video dengan judul 'Cerita 100Juta/Bulan Pertama' itu, ada satu kalimat yang dimention ci Feli dan menjadi salah satu 'point of interest' aku disitu.

          "Aku ngobrol dan ketemu sama teman-teman, dan mereka cerita kalo aset dan penghasilan mereka segitu-segitu aja. Mana cari kerjaan susah!

          Padahal di sisi lain, aku secara personal dan juga di Ternak Uang lagi nyari banyak orang, tapi susah banget nyari yang kualitasnya sesuai. Dari sini aku berpikir, mungkin bukan kerjaannya yang gak ada, tapi quality gap yang besar banget di manusia Indonesia."

              Hmm..

          Bener gak sih? Padahal.. banyak banget kan lulusan sarjana di Indonesia yang tentunya gak sembarang orang bisa lulus dan meraih gelar sarjana tersebut, dalam artian, mereka ini orang-orang berkualitas lho. Tapi kenapa, yang namanya mencari kerja itu susah ya, di Indonesia?

          Aku juga jadi keinget sama obrolanku dengan atasanku beberapa hari ke belakang. Konteks obrolan kita ini obrolan santai ya, jadi kita lagi ngobrolin hal secara umum, lalu masuk ke topik tentang sumber daya manusia. Kenapa ya, ada orang-orang tertentu yang susah cari kerja, yang level pekerjaannya 'stuck', dan yang bisa terus menerus berkembang? Hal itu kan berpengaruh banget terhadap perjalanan karir, ilmu pengetahuan, juga level keuangan mereka di masa depan. Sebenernya, kondisi apa yang bisa menyebabkan terjadinya gap antara orang yang terus melangkah maju dan orang yang berdiri di tempat?

          "Mungkin itu perpaduan antara kesempatan dan keberuntungan." ucapku waktu itu, menyimpulkan sementara. Tapi sesaat setelah mengucapkan itu, aku merasa kalo, "loh tapi kok gak adil ya. Dua hal di atas kan masuknya ke faktor eksternal. Masa keberhasilan kita ditentukan oleh faktor eksternal aja sih?"

          Dari situ aku berpikir berdasarkan fakta di lapangan. Beberapa waktu lalu, ada beberapa orang kandidat yang dipilih untuk mengisi sebuah posisi di perusahaanku. Mereka berasal dari latar belakang pendidikan yang sama, non-experienced, dan bahkan mungkin bisa dibilang, latar belakang keluarga dengan strata sosial yang sama. Tapi diantara mereka, ada yang dapat belajar sangat cepat dan sangat berinisiatif, bahkan dipromosikan untuk menjadi pemimpin, dan ada yang tetap pada pekerjaannya saja, sekedar mengerjakan sesuai SOP. Gak ada yang salah dari mengerjakan sesuai SOP, tapi melihat sebagian orang yang bisa bereffort lebih sampai dapat membuat atasan melirik, tentu saja bekerja ala kadarnya membuat orang-orang tersebut berpotensi stuck dengan posisinya saat itu.

          "Nah, orang yang kayak gitu tuh emang gak banyak." kata atasanku.

          Hmm iya juga. Gak banyak orang yang memiliki kesadaran untuk mengembangkan dirinya sendiri, entah dengan cara apa. Ada yang memiliki kualitas seadanya, hanya bekerja sesuai kadarnya, tapi menginginkan gaji orang yang bekerja dengan effort luar biasa. Orang-orang seperti itu, jujur saja aku banyak melihat juga contoh nyatanya. Mungkin faktor kesempatan dan keberuntungan juga berpengaruh bagi orang-orang yang berkualitas namun tempat mereka bekerja tak memberi mereka 'lahan' untuk berkarya. Setidaknya orang-orang berkualitas itu pada akhirnya akan menyadari kesempatan yang tidak mereka dapatkan tersebut dan melakukan sesuatu hal lain untuk meraihnya. Beda lagi dengan orang-orang yang merasa tidak diberi kesempatan, kemudian mengeluh dan tidak melakukan apa-apa. Dalam hal ini, 'keinginan' dan 'keingintahuan' menjadi sebuah gap yang amat besar diantara sumber daya manusia yang ternyata sebegitu berpengaruhnya terhadap karir atau masa depan seseorang. Padahal, dari sebuah keinginan dan keingintahuan saja, dapat membuat seseorang menjadi manusia berkualitas yang ternyata dibutuhkan industri yang selalu berkembang.

          Mungkin pembentukan karakter dalam keluarga, akses informasi dan ilmu pengetahuan, sistem pendidikan yang tidak tepat, atau banyak hal lain juga menjadi faktor mengapa seseorang nggak bisa memiliki kesadaran untuk mengembangkan dirinya. Tapi kalau ditelaah lebih dalam,

Orang yang ingin maju akan selalu menemukan solusi dalam setiap masalah yang dimiliki,
tapi orang yang suka mengeluh akan selalu menemukan masalah dalam setiap solusi yang ada.

          Artinya, kualitas seseorang sebagian besar ditentukan oleh orang itu sendiri. Teman-teman Blogger, setuju pendapat ini?