Trip to Korea 2024 : Part 2

TV TCL sudah sampai di rumah. Saatnya berstrategi untuk memenangkan hadiah :)

Waktu tersisa satu minggu dan aku menjadwalkan pembuatan konten di tanggal 24 dan 25 Desember, pada dua hari terakhir. Kebetulan 24 dan 25 juga hari libur nasional, jadi aku bisa fokus mengerjakan konten karena libur kerja.

Aku menyiapkan tiga konsep video untuk dishoot. Kebetulan, hadiah dari lomba ini memenangkan trip gratis ke Korea Selatan dan pemenang bisa mengajak 1 orang untuk berangkat. Tentu aja dalam pembuatan konten aku butuh bantuan, so aku ngajak sepupuku Aliza untuk bantu aku shoot video, dan ketika nanti misalnya rejeki untuk menang, aku akan mengajaknya.

Setelah aku baca lagi syarat dan ketentuan menang lomba, disitu tercantum bahwa pemenang diundi. Hah? kok jadi diundi? kalau diundi, sebagus apapun konten yang aku buat kemungkinannya tetap nggak jelas, karena sifatnya gambling. Sambil mikir keras aku akhirnya mutusin kalau pembuatan konten ini harus displit. Aku minta Aliza buat ngonten juga, jadi kalau diundi, kemungkinan menang kita lebih besar karena kita taro dua pion disitu. Selain daripada taro dua kaki, yang pasti kita bikin konten yang kualitasnya oke untuk memaksimalkan potensi ini.


Bandung, 24-25 Desember 2023

Di tanggal 24 Desember, kita full shooting dari siang sampe malem banget. Capek bangettt, karena aku bikin 2 video dan Aliza 1 video. Semua ditake di hari yang sama. Besok harinya tanggal 25 Desember, kita full edit. Sempat ada drama hasil editanku hilang setelah aku buat videonya setengah jalan. Huftt, udah bete berat karena aku ngeditnya niat banget dan malah hilang, tapi akhirnya aku buat lagi aja dari awal dan baru beres upload jam 11 malem :)

Alhamdulillah, usaha terbaik udah dilakukan. Video aku dan Aliza udah terupload. Bismillah, hasilnya aku serahkan ke Allah jika memang rejeki atau bukan, aku mohon selalu diingatkan untuk bersyukur.


Garut, 31 Desember 2023

Hari itu kami sekeluarga sedang liburan bareng akhir tahun ke pantai Garut. Aku dan Aliza, serta sepupu kami lainnya berangkat dan menginap di Garut malam pergantian tahun itu. Kebetulan tanggal pengumuman lombanya juga akan dibagikan di 31 Desember. Aku cuma berpasrah sambil berdoa, menikmati kegiatan hari itu sambil sesekali cek Instagram TCL Indonesia. 

Tepat jam 2 siang saat aku dan semuanya siap-siap pindah pantai, aku mengecek Instagram sekali lagi dan melihat akun @tclindonesia ada di urutan pertama Instastory. Hah! rasa degdeganku bercampur sambil berucap bismillah mengeklik instastory TCL Indonesia. Dan.....

[image]

Waaaaaaa! Alhamdulillah kita menangggg!!

Di pengumuman itu tercantum nama Aliza yang menjadi salah satu pemenang trip ke Korea dari TCL. Masih ingat kan, bahwa pemenang bisa mengajak 1 orang untuk ikut berangkat. Disini strategi yang kurencanakan seperti berhasil, karena ternyata aku sendiri pun nggak menang, tapi dimenangkan lewat Aliza. Ternyata, pemenangnya dipilih berdasarkan views reels terbanyak. Pada akhirnya, kita tetap sama-sama menang!

Masya Allah aku rasanya ingin menulis surat panjang lebar sama Allah akan cerita ini bahwa terimakasih Ya Allah begitu baiknya Engkau sama aku, tahun lalu aku dikasih nonton Blackpink sampek 2 hari, tahun sekarang aku dikasih ke negaranya mereka.

Rasa syukur juga aku rasain ketika sebenernya akhir tahun 2023 ini aku berencana mau solo travel ke Singapore, tapi aku urung karena aku memilih untuk renovasi ruang tamu rumahku supaya lebih nyaman dan bikin 'image' rumahku yang sebenarnya adalah rumah peninggalan ibuku itu lebih cantik ketika ada tamu yang datang. Pun beli TV niat awalnya memang hanya karena ingin punya TV yang bikin suasana kumpul keluarga lebih kerasa sekaligus hiburan kaka sepupuku yang tinggal sendiri disana. Adanya lomba itu benar-benar sebuah kebetulan baik yang datang di saat bersamaan aku memang mau beli TV. 

Hikmah lainnya lagi, mungkin kalau aku jadi beli TV di awal November, aku nggak bakal bisa ikutan lomba ini. Kalau aku ngikutin rasa gak sabaranku untuk pake Paylater, kredit, atau semacamnya untuk beli TV di bulan November, aku nggak akan tahu adanya lomba bikin konten ini. Semua sudah direncanakan Allah lewat jalan terbaik. Jujur kalau dipikirkan lagi, kita tinggal ngikutin skenario-Nya, berusaha sebaik mungkin, dan ikutin perintah dan larangan Allah gimanapun kondisinya. Semuanya berakhir indah, Masya Allah, Alhamdulillah.


Lanjut ke Part 3 yuk!

Trip to Korea 2024 : Part 1

Setelah 8 tahun yang lalu ke Malaysia gratis berkat menangin lomba foto, siapa sangka tahun ini aku bisa ke luar negeri lagi secara GRATIS [LAGI] karena sebuah lomba ngonten. Tapi lagi-lagi, dibalik kata 'gratis' itu, selalu ada cerita panjang perjuangan dan lika liku yang bisa dibilang cukup dramatis, hehehe.

Aku ingin menuliskan semuanya disini untuk bisa mengenang setiap perjalanan memorable yang aku lalui dalam trip pertamaku ke Korea ini. Alasannya simple aja, sama kayak trip aku ke Malaysia 8 tahun lalu, aku bisa ingat setiap memori kecilnya karena aku sudah tuliskan semua di blog ini juga.

Yuk kita mulai :)


Bandung, antara 4 atau 5 Desember 2023

Pagi itu, aku lagi cek cek keranjang Shopee dan bolak-balik buka review produk TV. Kebetulan, setelah memutuskan renov ruang tamu rumahku di Ujungberung, aku berpikir buat nambahin TV untuk nambah rasa betah tinggal di rumah.

Sebetulnya, aku udah ada rencana beli TV dari awal November. Tapi karena saat itu keuanganku lagi di masa yang down dan belum up lagi, aku nggak langsung beli karena yaa duitnya gak ada, hehehe.Walaupun keinginan beli TV udah gede banget ditambah rasa gak sabar untuk bisa nonton segala macem di TV yang punya fitur smart zaman sekarang, aku mencoba sabar sampai keuangan perusahaanku membaik untuk bisa beli kebutuhan tersier macam TV ini.

Satu bulan lamanya sejak November awal itu, aku bolak-balik liat produk TV yang aku mau, Google TV dari TCL yang ukurannya 40 inch. Sambil nunggu punya duit, aku mengobati rasa excitedku yang belum terpenuhi dengan ngeliat produknya aja dulu di Shopee. Gak tau kenapa, itu sedikit menghibur di kala aku gak sabar banget pengen cepetan beli.

Kembali ke tanggal antara 4 atau 5 Desember, sebulan sejak keinginanku tertunda, aku masih juga cek cek produk TV yang udah nangkring di keranjang Shopee-ku sebulan lamanya itu. Beberapa kali aku 'ngeuh' kalo brand TCL ini lagi bikin aktivasi marketing dengan hadiah trip ke Korea. Tapi karena aku udah skeptis duluan kalo pemenangnya dipilih secara acak melalui undian, aku udah males di awal dan nggak berniat cari tahu lebih lanjut soal apa ketentuan lomba itu. Pikirku, kalau undian ya adu nasib, aku nggak mau ikutan adu nasib yang sifatnya gambling atau dalam Islam mungkin entah halal atau nggak ya. Aku cuma niat mau beli TV buat hiburan keluarga di rumah.

Sampai akhirnya, di pagi itu aku entah gimana jadi tertarik buat baca ketentuan lomba tersebut dan aku baca kalau ternyata itu adalah lomba ngonten, yang pemenangnya dipilih dari konten terbaiknya. Syaratnya, pembelian TV harus melalui official store di rentang waktu periode tertentu.

Dari situ aku langsung ngeuh, wah, ini lomba ngonten. Kalau lomba seperti ini, bisa diusahakan, bukan sekedar adu nasib lewat giveaway acak undian. Aku tertarik banget! Sedikit seperti dejavu bahwa lomba yang aku ikutin 8 tahun lalu dan berhasil aku menangin itu adalah tipe lomba yang, jujur, orang mungkin bakal jarang tahu dan gak tertarik buat ikutin. Saat itu, yang namanya konten gak sefamiliar zaman sekarang. Apalagi yang ngadain Yamaha, brand motor, yang audiesnya kebanyakan bapak-bapak yang jelas males ikut lomba konten-kontenan.

Sekarang, brandnya TCL, brand TV. Jujur aja deh, emang zaman sekarang anak muda yang pada jago ngonten tuh pada tertarik gak sih beli TV, walaupun itu TV smart atau android yang kaya fitur? mungkin anak muda yang ngontennya pada level dewa itu lebih tertarik sama lomba-lomba atau giveaway-giveaway yang hadiahnya iPhone. Jelas sesuai kebutuhan mereka di zaman 'konten' ini. Tapi kalau TV? se-smart apa pun, mungkin mereka yang udah aware kalo TV dengan fitur smart, android, atau pun Google TV itu banyak banget manfaatnya, masih belum sebanyak itu. Pun kalo ada yang tertarik beli, mungkin mereka yang udah punya rumah, atau pasangan muda, atau sekedar membelikan untuk orang tuanya. Untuk diri sendiri, mungkin masih terbilang jarang. Jadi akses untuk tau ke lomba ini, ya mungkin kecil juga.

Dari situlah aku ngeliat potensinya. Apalagi setelah aku cek hashtag yang dipake buat lomba itu, belum banyak yang ikutan. Ada yang ikutan pun, maaf kalau boleh sedikit percaya diri, aku merasa bisa bikin konten yang kualitasnya di atas yang lain. So, aku melihat potensi yang besar di lomba ini, apalagi hadiahnya trip, sebuah experience yang gak akan terlupakan. Aku ngerasa harus banget untuk ikutan!


Bandung, 10 Desember 2023

Aku masih dilanda kegalauan karena aku, dengan tekad keras, mencoba mencari cara untuk bisa ikutan lomba ini. Seperti yang kamu tau, salah satu syarat lombanya aku harus membeli TV TCL di periode waktu tertentu. Sementara saat itu aku nggak punya uang! jangankan buat beli TV yang sifatnya tersier, untuk makan aja aku ngirit-ngirit. Maklum, aku kerja di dunia bisnis, yang aku sendiri turun untuk ikut bertanggung jawab memikirkan potensi profit perusahaan, dimana saat perusahaan banyak uang, aku juga banyak uang, tapi di saat keuangan perusahaan lagi down, aku juga down, dan harus juga memikirkan keamanan keuangan perusahaan beserta gaji pegawai yang aku sebut dengan anak-anak. Jadi saat itu, aku emang lagi seret-seretnya.

Sempat terpikirkan saat itu untuk menggunakan kartu kredit milik kakakku atau fitur Paylater yang ada di Shopee. Mungkin bulan depan juga aku udah bisa bayar lagi kan, dan jujur perbedaan harga menggunakan Paylater dan cash cuma 25ribu rupiah. Bayangin, cuma 25ribu rupiah! Aku merasa buntu dan berpikir mungkin itu jalan terakhir yang perlu aku ambil supaya bisa ikutan lombanya. Dalam hati aku menolak keras opsi tersebut karena larangan dalam agama Islam tentang riba yang merupakan dosa besar. Dosa yang amat besar. Aku takut, sangat takut, tetapi aku juga buntu dan aku nggak mau menyerah begitu saja bahwa aku harus melewatkan lomba ini. Nggak! gimanapun caranya aku harus ikutan. Lebih baik gagal setelah aku mencoba sekeras mungkin, daripada aku menyerah dan menyaksikan orang lain menang yang dimana dalam potensi percobaannya aja aku nggak terjun.

Akhirnya aku dengan berat hati memberanikan diri bilang ke atasanku yang juga partner kerja utamaku, bahwa aku sedang butuh uang. Nggak sedikit, karena harga TV 40 inch ya sekitar 3juta kurang. Kenapa harus beli yang 40 inch? karena keluargaku ingin TV yang ukurannya sekalian besar, dan aku mengiyakan. Yang biasa orang Sunda bilang, 'sekalian aja' karena harganya juga nggak beda jauh, tapi aku juga gabisa bilang kalau aku gak punya uang untuk beli yang ukuran besar.

Belum lagi dilema saat aku minta uang ke atasanku. Bayangin aja, kantorku punya TV untuk kebutuhan bersama yang sering aku pake juga. Karena keuangan yang sedang down tersebut, TV itu sampai digadai untuk memenuhi kebutuhan kantor dan gaji anak-anak. Terus aku harus bilang kalau aku butuh uang untuk beli TV! Gimana perasaan kamu buat bilang kayak gitu sementara orang lain sedang kesulitan dan kamu malah belanja barang tersier! Berkecamuk perasaanku.

Di satu sisi aku melihat keadaan genting tersebut, tapi aku juga bersedih hati dan mungkin menyesal berkepanjangan kalau nggak bisa ikut lomba itu. Pada akhirnya, aku tetap bilang pada atasanku bahwa aku butuh uang, tetapi jika memang uang tersebut tidak bisa ada, aku juga nggak apa apa. Aku berpikir mau jual asset yang aku punya saja, karena jujur berat banget rasanya kalau harus pake Paylater/kredit. Apalagi TVnya kan memang mau dipakai untuk keluarga, masa aku bawa barang gak berkah hasil kredit ke rumah keluarga untuk dipakai oleh keluarga. Berat rasanya.

Alhamdulillah setelah aku sampaikan, atasanku mengerti, dan beliau malah bilang nggak usah mikir nggak enak, karena pada dasarnya uang itu juga adalah hakku. Walaupun uangnya belum ada, tapi kita usahakan bersama agar sebelum tanggal yang aku minta, uang itu sudah siap.


Bandung, 14 Desember 2023

Singkat cerita, waktu berlalu 2 minggu. Periode waktu pembelian TV yang ditentukan untuk bisa mengikuti lomba tersebut adalah 1-15 Desember 2023. Hari itu sudah tanggal 14, dan aku belum juga membeli TVnya, karena uangnya masih belum ada. Aku sudah cukup panik sekaligus pasrah, meminta petunjuk pada Allah apa sebaiknya aku menyerah saja dan pasrah saja bahwa mungkin ikut lomba ini belum rejekiku, atau aku harus memaksakan diri melanggar perintah-Mu dengan menggunakan kredit. Hari itu aku sulit tersenyum.

Aku pun bilang pada atasanku bahwa aku mau izin pulang siang hari dari kantor untuk mencoba menjual barang, jika memang uangnya belum bisa ada. Atasanku memintaku sabar sejenak walaupun aku juga tau kalau dirinya bingung harus dapat dari mana uang yang aku minta tersebut. Aku galau dan nggak mood. Tetapi entah bagaimana, siang itu tiba-tiba ada customer yang mau melakukan pembelian senilai hampir 20juta rupiah. Sangat tiba-tiba di siang bolong itu. Beberapa menit kemudian, customer tersebut langsung transfer. 20 juta rupiah masuk ke kas kantor. Kecil untuk ukuran perusahaan, tetapi sangat membantu kebutuhan kami saat itu. Atasanku langsung mengirimkan sejumlah uang yang aku minta.

Aku bersyukur sekaligus terheran karena bagaimana mungkin jalan itu tiba-tiba ada dan dibukakan-Nya. Niat baik menghindari riba berakhir baik, Allah bukakan jalan rejeki lain yang tidak pernah disangka. Aku diselamatkan dari riba, dan aku bisa ikut lomba itu, perusahaan dan anak-anak juga lumayan terbantu karena jumlah uang yang masuk lebih besar daripada uang yang aku minta, jadi nggak semua uangnya langsung habis untuk aku saja. 

Hari itu aku langsung checkout TV yang sudah sebulan lebih nongkrong di keranjangku. Karena udah sebulan lebih nongkrong bareng, harusnya kita udah akrab, hahaha. Alhamdulillah, memilih jalan Allah emang gak pernah salah.

TCL Google TV 40 inch yang aku tunggu pun akhirnya sampai di rumahku dengan selamat tanggal 19 Desember. Jangka waktu terakhir pembuatan konten maksimal di tanggal 25 Desember, dan setelah TV sampai, kemudian aku mulai memikirkan strategi memenangkan lomba itu.


Lanjut cerita di part 2 yuk!

Keistimewaan Penting dari Memiliki Akal dan Pikiran

Dulu, saya sering takut bahwa saya akan kehilangan ambisi. Tidak terbayang bagi saya bagaimana seseorang dapat hidup dan memperbaiki hidupnya tanpa memiliki ambisi. Saya tidak mau menjadi orang yang nyaman dengan hal yang biasa biasa saja. Tapi sekarang, saya menyadari satu hal penting yang lebih krusial daripada ambisi yang saya sebutkan sebelumnya. Kemampuan untuk bermuhasabah diri.

Bagi saya, dianugerahi akal dan pikiran adalah hal luar biasa yang Allah berikan kepada kita sebagai manusia. Salah satunya, akal dan pikiran itu lah yang membuat kita mampu untuk bermuhasabah diri. Berintrospeksi diri, mengevaluasi diri. Saya takut sekali, lebih takut lagi daripada tidak memiliki ambisi, jika saya tidak mampu atau melupakan muhasabah diri. Tidak tahu bahwa saya salah saja saya takut, apalagi merasa bahwa saya sudah tahu, karena hal itu hanya akan menipu dan menghancurkan diri saya. Tidak hanya soal apa yang saya ketahui dan tidak ketahui, tetapi juga tentang sikap dan sifat lain.

Kembali berbicara soal ambisi, berambisi dengan artian tidak hanya berdiam diri ketika memiliki hidup yang biasa biasa saja, tentu, itu adalah keharusan. Tapi satu hal yang saya lupakan adalah, bagaimana untuk bisa menyadari untuk tidak hidup biasa-biasa saja, senantiasa memperbaiki dengan diiringi rasa syukur yang bijaksana.

Dewasa ini, di usia saya yang sekarang, mencapai keikhlasan adalah sebuah perjalanan yang panjang dan berat. Amat berat. Ketenangan hati, keikhlasan hati, bagi saya adalah sesuatu hal yang amat mahal harganya. Titik di mana saya mampu untuk ikhlas, dan mensyukuri setiap yang saya miliki, adalah sebuah perjalanan yang menurut saya akan dilalui oleh setiap manusia di dunia, dengan hasil akhir menjadi manusia yang berpasrah diri dan bersyukur. Dari kedua hasil akhir tersebut, tujuan akhir yang juga diperoleh adalah ketenangan hati. Maka ketika sudah sampai di tahap ketenangan hati tersebut, saya kira adalah juga hal yang patut disyukuri mengingat prosesnya yang begitu luar biasa.

Kemudian dalam hal bermuhasabah diri, selain dari banyak menyelamatkan diri kita dari urusan keduniawian, menurut saya penting sekali untuk bekal kita menjadi hamba yang dicintai Allah.

Bayangkan output yang kita dapatkan dari kita bermuhasabah diri. Di dunia, kita Insya Allah dapat menghindari sifat-sifat yang dibenci Allah, terutama sifat sombong, karena kita Insya Allah selalu mengingat bahwa kita pasti memiliki salah dan kekurangan yang harus terus diperbaiki, tidak terlena dengan bagaimana pun kedudukan kita, yang sebenarnya juga adalah milik Allah yang dititipkan kepada kita. Pun juga kita senantiasa bertaubat dan memohon petunjuk untuk Allah berikan evaluasi kita dalam setiap kekhilafan, kekurangan, kejahatan, atau keburukan yang kita lakukan, sengaja atau pun tidak.

Belum lagi urusan keduniawian. Kembali lagi ke hal pertama yang saya bahas di awal. Jika kita menjadi manusia yang mampu bermuhasabah diri, tentu kita tidak akan diam saja ketika hidup kita biasa-biasa saja dan tentu mencari jalan improvisasi terbaik yang dapat kita lakukan. Juga hubungan kita terhadap sesama manusia. Kita tidak akan berpuas diri terbatas pada apa yang kita miliki sekarang saja, tetapi juga bagaimana untuk menjadi hamba, umat, saudara terbaik dalam beragama dan berhubungan dengan manusia.

Insya Allah semoga Allah berikan kita semua kerendahan hati untuk senantiasa bermuhasabah diri dan berlapang hati terhadap segala ketentuan-Nya. Aamiin.
  

The 12th Year

 Siapa sangka pembukaan blog dengan nama yang ku pikirkan ribuan kali sampai akhirnya berhenti di 'Serba Sarah' tahun 2011 itu bisa stay sejauh ini? DUA BELAS TAHUN!

Ya...

Benar-benar 12 tahun lamanya blog ini sudah menemani kehidupanku. 12 tahun dari 26 tahun hidupku, 46% hidupku udah kulalui dan sebagian kutulis di blog ini. What an amazing journey

Bahagia banget rasanya, selalu membahagiakan. Ketika mengetahui hidupku terus berlalu dan aku bisa kembali melihat apa yang terjadi, apa yang kulalui, melalui jejak tulisan yang kutinggalkan disini.

Aku selalu ingat, saat pertama kali aku menyalurkan hobi menulisku di umurku yang saat itu 14 tahun, berkunjung ke warnet dekat rumah santosa. Menulis blog ini.

Memikirkan kata ganti pertama yang paling cocok, "gue, aku, saya, atau apa ya?"

Dan berulang kali mengganti nama username blog, dari karyasarah, ceritasarah, ahhsarah, beritasarah, sampai serbasarah. Perjalanan yang lucu dan menyenangkan.

Kini aku telah tumbuh dewasa. Mungkin aku akan lebih bijak dalam bercerita, tapi yang sudah pasti aku ketahui, Sarah telah menuliskan jejak kehidupannya, yang semoga kuharap sedikitnya bisa menjadi hikmah dan pembelajaran bagi orang lain yang berkesempatan bertemu denganku melalui tulisan. Aamiin.

Suzzanna Malam Jumat Kliwon

Setelah 5 tahun lalu review film Suzzanna: Bernapas Dalam Kubur, gak nyangka hari ini akan review lagi film remake Bunda Suzzanna yang baru aja rilis 3 Agustus kemarin, Suzzanna: Malam Jumat Kliwon. Sebelum nonton pun, pertama kali tahu soal bakal adanya film remake ini aku sangat excited, seperti yang kalian tahu, segimana aku ngefansnya sama film-film Bunda Suzzanna, hahaha. Untuk film pendahulunya dengan judul yang sama pun, aku sudah nonton mungkin puluhan kali. So, kita mulai aja review film ini!

Nonton di hari pertama rilis, aku gak bisa ngegambarin betapa senengnya aku pas awal film dimulai, bumper atau video pengantar masuk yang nunjukin rumah produksi, yaitu Soraya Intercine Film, diputer versi jadulnya, yang awalannya tuh kayak sekelebat cahaya dengan background biru dan subtitle 'Dengan Bangga Mempersembahkan' pake tulisan script putih yang bener-bener jadi momen nostalgia terhebat. Apalagi buat aku, bayangin anak kelahiran 90an ini, yang nonton film-film Bunda Suzzanna cuma lewat tv, youtube, google, bisa nonton opening scene legend itu di layar segede bioskop. HEPI!

Lanjut dari momen nostalgia menyenangkan tersebut, aku kemudian disuguhkan cerita film yang berlatar sebuah desa di Jawa Timur. Di film ini, Suzzanna sebagai tokoh utama diceritakan berusia 20-an, menjalani kehidupan gadis desa biasa dengan kekasihnya bernama Surya. Kebahagiaan sederhananya direnggut karena harus menerima kenyataan kalau ia dipaksa menikahi Raden Aryo karena permasalahan orangtuanya. Raden Aryo adalah orang terpandang di desa tersebut yang sudah beristri tapi tidak juga dikaruniai anak, makanya ia ingin mendapatkan anak dari menikahi Suzzanna.

Hal itu menjadi malapetaka tersendiri bagi Suzzanna karena Minati, istri Raden Aryo, tentu tidak menyukai kehadirannya. Minati menyantet Suzzanna hingga Suzzanna berakhir dengan kematian yang mengenaskan, melahirkan anaknya bersama Raden Aryo dari punggungnya yang meletus. 

Dari keseluruhan cerita versi ini dan versi original tahun 1986, scene inilah yang menjadi bagian utama yang dibuat ulang sama persis seperti pendahulunya. Sedangkan untuk bagian cerita lainnya, kamu disuguhkan cerita baru yang masih sejalan dengan cerita versi original film ini.

Setelah kematiannya, Suzzanna berubah menjadi hantu sundel bolong dengan tujuan utamanya menuntut balas, khas cerita film Bunda Suzzanna. Daripada menunjukkan sisi yang menakutkan atau mengagetkan, Bunda Suzzanna dalam film-film horrornya lebih menunjukkan sisi komedi, heroik, dan gore. Begitu pun dengan Malam Jumat Kliwon versi 2023 ini, ciri khas film Suzzanna tetap menjadi sajian utama.

Itulah gambaran singkat mengenai filmnya yang untuk lebih detailnya kalian bisa nonton ke bioskop supaya nggak spoiler :D 

Gimana pendapat aku sebagai hardcore film-film Bunda Suzzanna setelah menonton film ini?

Tentu aja aku super hepi dengan film ini, selain karena pastinya sebagai momen nostalgia, film ini juga emang bagus dengan alur cerita yang walaupun kerasa banget dipadetin, ada bagian-bagian yang sengaja dipotong karena durasi, masih bisa dinikmati dan jalan ceritanya tetep nyambung banget. Walaupun secara keseluruhan oke, pastinya ada beberapa hal yang kurang srek juga, yang bagi aku masih bisa ditolerir. Kekurangan di bagian eksplorasi kisah cinta antara Suzzanna dan Surya yang dibuat terlalu singkat, akting Megantara sebagai Surya yang at some point masih kayak dibuat-buat, editing di bagian Ratih muter kepala itu keliatan gak rapi banget, scene komedi hansip yang kepanjangan, dan satu hal yang mungkin kalian minim denger dari reviewer lain. Sebagai orang yang nonton film-film Suzzanna puluhan kali dari berbagai judul, aku hapal banget kalau gaya ngomong tokoh-tokoh dalam film Suzzanna tahun 80-an tuh ya ala orang tahun 80-an, lebih baku. Jarang, atau hampir gak pernah aku denger kata "nggak" atau "enggak" dari film jadul Suzzanna. Kata ini disebutkan dengan "tidak" "gak" atau "ndak", karena latarnya yang mayoritas Jawa Tengah atau Jawa Timur. Terus, kata "kamu" juga minim digunakan, tapi lebih sering ke "kau". Dan kata dalam bahasa Indonesia yang lain yang diucapkan dengan penyampaian bahasa baku, khas ala kehidupan tahun tersebut, apalagi dengan latar tempat desa yang notabene masih sulit terkena pengaruh modernisasi. Di film ini, masih banyak kata bahasa Indonesia yang agak gaul yang digunakan. Aku pikir artis-artis zaman sekarang yang mau meranin film dengan latar 70-80an harus latihan ngomong ala tahun tersebut deh, supaya feelnya lebih dapet lagi. Tapi yah, mungkin ini hanya menjadi concern sebagian orang yang juga menikmati film-film jadul salah satunya karena tata bahasanya yang beda dan menaruh kesan tersendiri sebagai rapi dan klasik.

Overall dari film ini, yang paling bikin aku seneng, karena DNA film Suzzanna-nya bener-bener masih melekat. Alur sederhana, straight to the point, minim jumpscare, bumbu komedi yang khas, sosok hantu ala Suzzanna (yang mana sosok Suzzanna tuh udah kayak jadi jenis hantu baru yang lain daripada sekedar kuntilanak ataupun sundelbolong), dan tema balas dendam dengan aksi-aksi gore yang mencekam. Kalau kamu udah nonton juga, mungkin kamu akan setuju kalau ending dari film ini bener-bener jadi gong yang luar biasa, golden scene, yang bikin mata membelalak pas liatnya dan ada kepuasan tersendiri. Dendam terbayar tuntas, dengan rasa sakit yang minimal setara, lebih sakit menjadi luar biasa. Luna Maya aktingnya bener-bener top untuk meranin Bunda Suzzanna. Ketawanya sangat masuk, mukanya mirip, Indonesia campur kebule-bulean, logatnya mirip, gestur mirip, cantik sekali memerankan Suzzanna dengan potret usia 20-an. 

Jadi kesimpulannya, film ini akan seru untuk ditonton untuk siapa aja, yang menurut aku lebih bijak kalo ditonton oleh anak usia 15 tahun ke atas, walaupun rate-nya sendiri 13 tahun ke atas. Cocok banget ditonton untuk nostalgia, untuk ngisi weekend keluarga, atau pemuas dahaga nostalgia film Suzzanna yang baru setelah film remake pertamanya 5 tahun lalu rilis di bioskop. 1 sampai 10 rate dari aku berapa? ah, jangan tanya aku. Aku hardcore Bunda Suzzanna, garis keras, aku takut subjektif. Penilaian dari aku, udah pasti 1000/10! Aku bahkan udah nonton 2 kali ke bioskop, haha. Gak sabar untuk ngulang-ngulang filmnya di streaming platform, apalagi kalau ada versi extendednya gak sih? Semoga ya! 

Selamat nonton, selamat nostalgia!
hihihihihihihihihihihihihihi *ketawa ala hantu Suzzanna

Hari Tua

Memikirkan hari tua, mungkin umumnya bagi sebagian besar orang adalah gambaran di mana kita tinggal di sebuah rumah dengan pasangan hidup, menanti anak-anak berkunjung bersama cucu. Menyiapkan mereka makanan, menyayangi cucu kita, dan bercanda gurau bersama. Ya, hidup 'sempurna' yang diinginkan semua orang.

Mungkin gambaran umum ini juga menjadi hal yang aku inginkan. Kenapa aku bilang mungkin? karena bisa jadi pandanganku berubah nantinya, toh sekarang juga aku baru pertengahan 20-an. Masih banyak hal yang belum aku lihat di luar sana.

Satu hal yang aku pikirkan saat ini, bahwa kehidupan memang kadang imajinatif tapi lebih sering realistis. Satu-satunya pengharapan kita hanya kepada Allah. Berperasangka baik adalah kewajiban dan meyakini bahwa Allah akan mencukupi juga sebuah keharusan. Tidak ada bantahan akan hal tersebut.

Hanya saja, mengenai hidup yang realistis, mungkin ada kalanya kita berpikir bahwa tidak selamanya hidup akan selalu pelangi pun langit tak akan selalu biru. Itu hukum alam, karena kita sedang berada di dunia yang sifatnya sementara dan fana.

Tentang hal tersebut, aku berpikir soal hari tua. Mendambakan keluarga cemara bahagia selamanya sungguh sebuah keharusan. Tapi bagaimana jika kita tidak menggantungkan kebahagiaan dan harapan kita pada sesuatu hal yang sifatnya dalam beberapa hal berada di luar kontrol kita?

Hari tua di mana kita mayoritas sudah kehilangan lebih banyak energi dibandingkan masa muda, membuat kita lebih mungkin untuk membutuhkan orang lain. Siapa ketika itu yang dapat menjadi harapan kita untuk dapat dibersamai? pasangan kita tentu saja menjadi harapan pertama. Namun lagi lagi, jika bukan karena usia, banyak sekali kemungkinan lain yang mungkin membuat pasangan kita sudah tiada lagi bersama kita. Bagaimana dengan anak kita? Seberapa besar pun ego kita untuk berpikir bahwa seharusnya anak membalas budi, atau akan membalas budi ketika kita sudah tua, pada dasarnya mereka semua hanyalah titipan Allah. Mereka pun akan memiliki kehidupannya masing-masing. Mungkin juga sedang merajut angan-angan untuk usia di mana mereka nantinya mencapai usia orang tuanya saat ini.

Berpikir bahwa semua tamparan ini membuatku berpikir realistis, lebih realistis lagi, karena logika dan otak ini lebih sering tidak menipu dibandingkan hati. Adakah mereka yang juga memikirkan untuk memiliki masa tua di panti jompo ekslusif? bersosialisasi dengan para lansia yang telah melewati berbagai masa di hidupnya. Memasukkan diri sendiri ke panti jompo tersebut. Jika punya anak, lebih menyenangkan untuk menjadi tidak merepotkan. Jika tidak punya pun, rumah masa tua ini juga bagus untuk jadi pilihan.

Terdengar keras memang. Tapi ini tidak lebih keras daripada baru sadar dan ditampar kehidupan di usia yang seharusnya kita sudah diberkahi ketenangan dan fokus berserah kepada Tuhan.

Setidaknya pilihan itu ada. Persiapan itu ada. Tetapi tetap satu yang menjadi keyakinan dan sandaran hidup. Bukan pasangan, bukan anak, atau siapa pun yang dirasa paling dekat. Hanya Tuhan tempat berharap dan meyakini kepastian.

Fenomena Belakangan Ini

Banyaknya berita yang berseliweran belakangan ini, bikin capek mata yang baca dan telinga yang dengar gak sih? 

Wkwkwk.

Sempat terlintas dalam pikiran gue, kalo mau nyari sumber berita yang isinya positif semua, harus subscribe platform apa ya? hmm. Tapi kayaknya sih, ya gak ada juga. Tinggal pilah pilih sendiri aja yang mana yang mau dikonsumsi dan mana yang tidak.

Berita yang mungkin mayoritas isinya tentang kehidupan pribadi orang lain, bener-bener menuhi beranda. Gila. Bahkan akun-akun yang gue follow dengan tujuan semata-mata untuk informasi yang betulan informatif, sekarang lagi ngeberitain si motivator yang poligami diem-diem. Ya Rabbi. Ada pulak segala berita suami orang yang bikin tatto di badannya dan gambarnya adalah gambar istri orang. Ya Allah.

Gimana ya, di zaman kayak gini kan segala jenis informasi emang mudah banget didapetin. Ketika kita gak niat cari pun, tiba-tiba berita itu nongol aja dan tau-tau masuk ke kotak informasi di otak kita. 

Tapi ada sedikit hal yg menggelitik sih. Tuh kan, gue yang tadinya muak dan males terpapar sama berita-berita negatif (semata karena gue udah fusink sama hidup gue sendiri) mau gak mau ya jadi tau. Untungnya sih, gue tahu berita ini dari seorang pakar branding yang gue ikutin di Instagram. Beliau juga ngebahasnya bukan dalam konteks ngegosip, tapi justru dari sisi branding yang dilakukan sama si tersangkanya netizen ini, si motivator. Jadi si motivator ini tuh personal branding awalnya ngangkat kisah-kisah melodrama dari kehidupan nyatanya, di mana dia tuh baru nikah sama istrinya dan langsung kelilit hutang 7M-an dan keserang penyakit entah apa yang bikin si motivator kurus kering parah.

Nah dari cerita melodrama itu, di titik di mana dia udah sustain sekarang, tiba-tiba beritanya dia poligami diem-diem buat ngawinin istri yang lebih muda. Nah hancurlah kan segala kisah yang dia bangun selama ini. Dia yg bangun, dia yg hancurin. Gitu lah kira-kira singkatnya soal permasalahan branding yang dibahas. 

Jujur kalo dibahas dari sisi personal branding tersebut, hal itu menarik banget sih. Bukan persoalan gosipin orang ya, tapi ngambil pelajaran dari personal branding yang dilakukan orang lain. Ya gitu lah pokoknya. 

Tapi di sini gue bukan mau bahas itu. Gue di sini mau ngomong bagian-bagian 'receh' yang mungkin ngangkat sudut pandang gue sebagai wanita. Yah.. ada gunanya apa engga, let's see dulu lah ya.

Jadi, dari semua kasus ini, gue liat salah satu postingan sebuah akun media yang juga ngomongin soal si motivator ini. Kurang lebih kalimatnya, 

"Stereotype-nya jangan mau nemenin cowok dari 0."

Ada sih lanjutannya, cuma gue males aja nulis dan nerusin. Karena intinya itu, dan itu juga yang mau gue omongin.

Gak bermaksud pickme tapi jujur gue bingung aja sih, kenapa kalo ditemenin dari zaman bobrok, cowok mayoritas kecenderungannya malah lari nyari yg baru pas dia udah di atas langit? Kayaknya secara logika aja udah gak masuk kan? Ada orang yg mau nemenin lo dari zaman lo kayak tai, tapi pas si tai udah berubah jadi emas, malah nyari orang baru. Padahal kalo orang baru itu ngeliat lo sebagai tai waktu dulu, belum tentu dia mau. Ya kan? But.. gak usah kecewa, karena kenyataannya emang demikian.

Mungkin balik lagi ke persoalan ego cowok yang meletup-letup kayak aer mendidih, dia berasa terakui keberadaannya --yang sebenarnya cuma oleh dirinya sendiri-- dengan bisa mendapat lebih dari yang dia punya sebelumnya. Jadi ini cuma persoalan ego? gue rasa secara psikologis, mayoritas adalah demikian. Gue gak bilang kalo semua cowok ya, dan bahkan cewek pun pasti ada aja yang memiliki kecenderungan untuk begini. Gue cuma ngomongin mayoritas, itu pun dari sudut pandang gue.

Jujur ini semua gak masuk akal bagi gue. Menurut pemikiran gue, justru bertumbuh bareng dan setia satu sama lain tuh romantis banget. Dan lagi, berjuang bareng itu kan memperkuat ikatan dan koneksi antara satu sama lain gak sih? Apa lagi kalo konteksnya untuk pasangan hidup selamanya. Lo harus punya keterikatan lebih daripada sekedar naksir muka cakep atau bodi asoy. It doesnt long last.

Balik lagi ke kenyataannya, ya enggak kayak gitu. Walaupun gue gak suka, tapi ya kenyataannya begitu. Gue yakin masih ada cowok-cowok lain di luar sana yang beda dan unik. I know that. Allah will give me. Tapi ya gue capek aja denger berita aneh-aneh ini. Dan ya, sadly, these shits are a hard truth.

Jadi buat cewek-cewek di luar sana. Gue sih gak akan mengkritisi keputusan atau pemikiran lo kalo emang lo ternyata sekarang lagi nemenin cowok lo dalam kondisi 0 atau bahkan minus ya. I do support women. Gue cuma pengen sharing aja kalo hal kayak gini emang ada, dan better to build yourself as hard as you can, and expect everything only to God's hand. Ya gitulah, pokonya banyak bersiap aja. Inget, nanti kita di surga ga bakalan bingung, kalo kata bang Aldi Taher. Gapapa sekarang bingung, itu artinya kita emang cuma manusia biasa yang butuh Allah. Semoga kesehatan dan kebaikan fisik dan psikis kita senantiasa dalam lindungan Allah, aamiin.