The 12th Year
Siapa sangka pembukaan blog dengan nama yang ku pikirkan ribuan kali sampai akhirnya berhenti di 'Serba Sarah' tahun 2011 itu bisa stay sejauh ini? DUA BELAS TAHUN!
Ya...
Benar-benar 12 tahun lamanya blog ini sudah menemani kehidupanku. 12 tahun dari 26 tahun hidupku, 46% hidupku udah kulalui dan sebagian kutulis di blog ini. What an amazing journey
Bahagia banget rasanya, selalu membahagiakan. Ketika mengetahui hidupku terus berlalu dan aku bisa kembali melihat apa yang terjadi, apa yang kulalui, melalui jejak tulisan yang kutinggalkan disini.
Aku selalu ingat, saat pertama kali aku menyalurkan hobi menulisku di umurku yang saat itu 14 tahun, berkunjung ke warnet dekat rumah santosa. Menulis blog ini.
Memikirkan kata ganti pertama yang paling cocok, "gue, aku, saya, atau apa ya?"
Dan berulang kali mengganti nama username blog, dari karyasarah, ceritasarah, ahhsarah, beritasarah, sampai serbasarah. Perjalanan yang lucu dan menyenangkan.
Kini aku telah tumbuh dewasa. Mungkin aku akan lebih bijak dalam bercerita, tapi yang sudah pasti aku ketahui, Sarah telah menuliskan jejak kehidupannya, yang semoga kuharap sedikitnya bisa menjadi hikmah dan pembelajaran bagi orang lain yang berkesempatan bertemu denganku melalui tulisan. Aamiin.
Suzzanna Malam Jumat Kliwon
Hari Tua
Fenomena Belakangan Ini
Banyaknya berita yang berseliweran belakangan ini, bikin capek mata yang baca dan telinga yang dengar gak sih?
Wkwkwk.
Sempat terlintas dalam pikiran gue, kalo mau nyari sumber berita yang isinya positif semua, harus subscribe platform apa ya? hmm. Tapi kayaknya sih, ya gak ada juga. Tinggal pilah pilih sendiri aja yang mana yang mau dikonsumsi dan mana yang tidak.
Berita yang mungkin mayoritas isinya tentang kehidupan pribadi orang lain, bener-bener menuhi beranda. Gila. Bahkan akun-akun yang gue follow dengan tujuan semata-mata untuk informasi yang betulan informatif, sekarang lagi ngeberitain si motivator yang poligami diem-diem. Ya Rabbi. Ada pulak segala berita suami orang yang bikin tatto di badannya dan gambarnya adalah gambar istri orang. Ya Allah.
Gimana ya, di zaman kayak gini kan segala jenis informasi emang mudah banget didapetin. Ketika kita gak niat cari pun, tiba-tiba berita itu nongol aja dan tau-tau masuk ke kotak informasi di otak kita.
Tapi ada sedikit hal yg menggelitik sih. Tuh kan, gue yang tadinya muak dan males terpapar sama berita-berita negatif (semata karena gue udah fusink sama hidup gue sendiri) mau gak mau ya jadi tau. Untungnya sih, gue tahu berita ini dari seorang pakar branding yang gue ikutin di Instagram. Beliau juga ngebahasnya bukan dalam konteks ngegosip, tapi justru dari sisi branding yang dilakukan sama si tersangkanya netizen ini, si motivator. Jadi si motivator ini tuh personal branding awalnya ngangkat kisah-kisah melodrama dari kehidupan nyatanya, di mana dia tuh baru nikah sama istrinya dan langsung kelilit hutang 7M-an dan keserang penyakit entah apa yang bikin si motivator kurus kering parah.
Nah dari cerita melodrama itu, di titik di mana dia udah sustain sekarang, tiba-tiba beritanya dia poligami diem-diem buat ngawinin istri yang lebih muda. Nah hancurlah kan segala kisah yang dia bangun selama ini. Dia yg bangun, dia yg hancurin. Gitu lah kira-kira singkatnya soal permasalahan branding yang dibahas.
Jujur kalo dibahas dari sisi personal branding tersebut, hal itu menarik banget sih. Bukan persoalan gosipin orang ya, tapi ngambil pelajaran dari personal branding yang dilakukan orang lain. Ya gitu lah pokoknya.
Tapi di sini gue bukan mau bahas itu. Gue di sini mau ngomong bagian-bagian 'receh' yang mungkin ngangkat sudut pandang gue sebagai wanita. Yah.. ada gunanya apa engga, let's see dulu lah ya.
Jadi, dari semua kasus ini, gue liat salah satu postingan sebuah akun media yang juga ngomongin soal si motivator ini. Kurang lebih kalimatnya,
"Stereotype-nya jangan mau nemenin cowok dari 0."
Ada sih lanjutannya, cuma gue males aja nulis dan nerusin. Karena intinya itu, dan itu juga yang mau gue omongin.
Gak bermaksud pickme tapi jujur gue bingung aja sih, kenapa kalo ditemenin dari zaman bobrok, cowok mayoritas kecenderungannya malah lari nyari yg baru pas dia udah di atas langit? Kayaknya secara logika aja udah gak masuk kan? Ada orang yg mau nemenin lo dari zaman lo kayak tai, tapi pas si tai udah berubah jadi emas, malah nyari orang baru. Padahal kalo orang baru itu ngeliat lo sebagai tai waktu dulu, belum tentu dia mau. Ya kan? But.. gak usah kecewa, karena kenyataannya emang demikian.
Mungkin balik lagi ke persoalan ego cowok yang meletup-letup kayak aer mendidih, dia berasa terakui keberadaannya --yang sebenarnya cuma oleh dirinya sendiri-- dengan bisa mendapat lebih dari yang dia punya sebelumnya. Jadi ini cuma persoalan ego? gue rasa secara psikologis, mayoritas adalah demikian. Gue gak bilang kalo semua cowok ya, dan bahkan cewek pun pasti ada aja yang memiliki kecenderungan untuk begini. Gue cuma ngomongin mayoritas, itu pun dari sudut pandang gue.
Jujur ini semua gak masuk akal bagi gue. Menurut pemikiran gue, justru bertumbuh bareng dan setia satu sama lain tuh romantis banget. Dan lagi, berjuang bareng itu kan memperkuat ikatan dan koneksi antara satu sama lain gak sih? Apa lagi kalo konteksnya untuk pasangan hidup selamanya. Lo harus punya keterikatan lebih daripada sekedar naksir muka cakep atau bodi asoy. It doesnt long last.
Balik lagi ke kenyataannya, ya enggak kayak gitu. Walaupun gue gak suka, tapi ya kenyataannya begitu. Gue yakin masih ada cowok-cowok lain di luar sana yang beda dan unik. I know that. Allah will give me. Tapi ya gue capek aja denger berita aneh-aneh ini. Dan ya, sadly, these shits are a hard truth.
Jadi buat cewek-cewek di luar sana. Gue sih gak akan mengkritisi keputusan atau pemikiran lo kalo emang lo ternyata sekarang lagi nemenin cowok lo dalam kondisi 0 atau bahkan minus ya. I do support women. Gue cuma pengen sharing aja kalo hal kayak gini emang ada, dan better to build yourself as hard as you can, and expect everything only to God's hand. Ya gitulah, pokonya banyak bersiap aja. Inget, nanti kita di surga ga bakalan bingung, kalo kata bang Aldi Taher. Gapapa sekarang bingung, itu artinya kita emang cuma manusia biasa yang butuh Allah. Semoga kesehatan dan kebaikan fisik dan psikis kita senantiasa dalam lindungan Allah, aamiin.
Puisi: Kenang by Sarah Nurkhaliza
Kenang
Aku ingin mengenangmu
Dalam setiap detik jam melaju
Aku ingin mengenangmu
Walau kita tak pernah dalam ruang yang satu
Aku ingin mengenangmu
Dalam setiap hembusan angin
Meniup waktu untuk menghilang
Menyuruhnya untuk pergi
Mungkin sebentar-sebentar mengintip kembali
Dalam ruang-ruang yang luang
Dalam keramaian tak bertuan
Dalam ketidakberdayaan ingatan
Kita hanyalah akan menjadi masa
Bukan untukmu
Bukan juga untuk aku
Hanya seberkas cerita rindu terburu waktu
Yang tidak pernah merelakan kita bertemu
Aku akan selalu
Ingin mengenangmu
Sarah Nurkhaliza
Puisi: Wanita dari Waktu yang Lain ------------ Nike Ardilla
Wanita dari Waktu yang Lain
Wanita yang berasal dari ruang waktu yang lain.
Berambut pendek, berwajah teduh.
Muda usianya, lebih kepada masih baru dewasa.
Tak lama ia beraksi panggung
Jika mengingatnya kini
Detik demi detiknya seperti hanya membaca sehalaman buku harian
Singkat, namun personal
Singkat, namun bermakna kekal
Jarang ia mampir
Dalam ingatanku, kesibukanku
Tapi secara rutin ia hadir
Entah mengapa
Walau kita tak pernah dalam satu ruang waktu yang sama
Tawa cantiknya
Suara serak pembedanya
Tinggi semampai tubuhnya
Selalu menjadi ruang dalam kepala yang terisi dengan berbagai tanya
Bagaimana seorang dalam kematiannya begitu berpengaruh dan menolak hilang ditelan zaman?
Sebuah artikel dengan judul In Death She Soared yang ikut memberitakan kepergiannya belum lama saat itu, memang benar menuliskan judul dengan arti yang dapat kita terima bahwa ia tak sekedar sederhana.
Seorang remaja tumbuh dewasa di usia ke sembilan belasnya, mampu mengajak insan dari berbagai era untuk terus mengingat dan mengajaknya bicara tanpa balasan kata dalam pikiran dan ingatan.
Sebuah kisah yang luar biasa
Dapat digoreskan gadis muda belia
Di usia yang bahkan belum kepala dua
Ia pergi menjadi legenda
Meninggalkan kerinduan tak beralasan di setiap insan yang mengenalnya
Saat itu, saat ini, dan saat hingga entah kapan
Nike Ardilla




