Ulang Tahun Blog ke-11

Hari ini, 11 tahun lalu. Aku yang masih bertumbuh menuju usia remajaku saat itu bergerak pergi ke warnet terdekat dari rumah. Kala itu, berteman di Facebook dan bertukar nama pengguna Twitter jadi hal yang sangat ngetren di kalangan anak muda, juga anak sekolah sepertiku. Aku, tidak mengasingkan diri dengan mengabaikan tren yang sedang naik. Aku pun juga mendaftarkan diri menjadi 'warga' Facebook dan Twitter. Tapi, satu platform yang juga tidak bisa luput dari ketertarikanku adalah platform untuk menulis tulisan panjang.

Blog.

Waktu itu, blog diisi oleh review film, artikel berita, pembahasan profil artis, dan lain sebagainya yang erat kaitannya dengan dunia hiburan. Aku menjadikan artikel-artikel tersebut sebagai referensi. Memulai dunia baruku di ranah online yang saat itu baru dimulai, aku mendaftarkan diri di blogger sebagai 'Berita Sarah'. Sebuah akronim dari 'Berbagi Cerita bersama Sarah'. Setelah kupikir-pikir, cukup kreatif dan menarik juga nama yang aku buat saat itu.

Aku meluangkan banyak waktu untuk menulis, mengedit, dan menjadi pengunjung satu-satunya di blog yang kubuat. Bolak-balik warnet, atau pulang sekolah mampir warnet jadi hobi baruku. Aku merasa bahagia dan merasa nyawaku ada dalam dunia kepenulisan. Kebetulan juga, aku orang yang cenderung menyampaikan maksud lebih baik melalui tulisan dan terbiasa membuat tulisan panjang sejak aku kelas 1 SD.

Tidak menjadikan menulis sebagai tujuan hidup yang pasti, aku merasa menulis adalah teman dan kebahagiaan yang aku cari ketika apapun terjadi pada hidupku. Blog ini pun menjadi saksi perjalanan hidup sejak usiaku 14 tahun hingga 25 tahun dan bertahun-tahun usiaku kan bertambah ke depan. Aku suka merekam memori melalui setiap detail cerita yang kuketikkan di blog ini. Aku senang mampu mengingat setiap detail setelah kubaca kembali setiap tulisan-tulisan yang kubuat. Bagiku, tulisan itu abadi. Ketika aku sudah mati nanti, tulisan ini akan tetap tertinggal. Ia tetap ada, tetap hidup, menghidupkan segala cerita dari seseorang yang sama-sama mengarungi kehidupan dunia, di waktu yang sama, ataupun berbeda.

Aku akan selalu menjadikan platform menulisku ini sebagai rumah. Aku akan selalu kembali dan menceritakan segalanya padanya. Aku akan menulis sejarah dan cerita yang menembus waktu hingga entah kapan. Selalu, selamanya.

Sampai bertemu di ulang tahun ke-12 tahun depan!

Bertumbuh

 "Pagimu yang terluka, malammu yang menyiksa
Hal yang ingin kau lupa, justru semakin nyata
Mengunci ingatanmu, menahan masa lalu
Memori yang membisu, harapan yang berdebu.."

"Tak ada yang seindah matamu
Hanya rembulan
Tak ada yang selembut sikapmu
Hanya lautan
Tak tergantikan
Walau kita tak lagi saling menyapa"


"Cukupkanlah, ikatanmu
Relakanlah yang tak seharusnya untukmu.."


Setiap bait lagu yang melantun melalui earphone di telingaku, membangkitkan memori-memori masa lalu yang begitu membekas di ingatan. Setiap lirik yang kuhayati semakin menambah rasa sakit, begitu sakit, karena sialnya semuanya adalah kenyataan pahit yang harus kuhadapi.

Lirik dan melodi yang mengalun, menari-nari mempermainkan perasaanku yang kacau. Hatiku, yang aku sebenarnya tidak tahu seperti apa wujud fisiknya, aku bayangkan sedang ditusuk-tusuk ribuan jarum karena terasa amat sangat sakitnya.

Detik ini, ketika aku mendengar lagu-lagu ini, bukan hanya memori sakit yang terpanggil dalam ingatan, tapi aku seakan melihat diriku di masa lalu. Aku begitu kasihan. Sarah yang sendirian, tak stabil mental, menghadapi jutaan masalah di dalam kepala kecilnya, membuang setiap waktu memproses rasa sedih, meratapi hidupnya yang ia pertanyakan mengapa harus ada jika harus berulang kali dihantam rasa sakit, oleh orang lain, oleh dirinya sendiri.

Kebingungan dalam kepalanya, pertanyaan yang tidak tahu harus ia tanyakan pada siapa, air mata yang tak pernah absen hadir di hari-harinya, dan badan yang semakin kecil tak bisa berbohong bahwa kehidupannya bukan lagi kehidupan anak sekolah yang membuatnya bahagia.

Kepada setiap orang ia bertanya, tapi tak kunjung mendapat jawabannya. Sampai hari di mana ia cuma bisa menerima kalau takdir tidak seperti yang ia mau. Bahkan ia dipaksa hidup berdampingan dengan rasa sakit, dipaksa menerima setiap rasa sakitnya tak selalu dipedulikan dengan kata maaf dari sang penyebab sakit.

Hingga ia tumbuh menjadi dirinya yang sekarang, berusaha menyembuhkan setiap luka yang terlanjur terbuka dengan setiap jahitan. Kini ia lebih berpasrah, mungkin saking terbiasanya ia dengan harapan yang musnah.

Tentang Mamaku

Gak banyak cerita yang bisa diambil dari kita berdua, ma. Mungkin karena sejak kecil kita nggak dekat.  Sepanjang aku dan mama hidup di dunia, mungkin hanya 1/5 waktu yang kita habiskan bersama. Meski begitu, hubungan ibu-anak nggak akan pernah membuat kasih sayang jadi menghilang.

Kalau aku bisa deskripsikan mama dalam satu kata, mungkin aku akan bilang "perjuangan". Kalau mama ditanya aku anak seperti apa, mungkin mama akan jawab "yang gak suka angkat telepon". Meski awalnya mama marah dengan kebiasaanku, tapi kelamaan mama nerima dan menyesuaikan keinginan mama terhadap anak pendiam seperti aku. Aku pun yang sadar bahwa ibu adalah segalanya, mencoba mengeluarkan diri dari zona nyaman dengan membiasakan diri menelepon mama secara rutin. Kita saling menyesuaikan, ma.

Akhir dari kebersamaan kita, chat terakhirku mama gak balas. Telepon terakhir dari mama gak keangkat. The last call. Setelah mama nggak ada, jujur aku merasa cukup kuat karena terbiasa ditempa untuk belajar hidup mandiri, sendiri. Aku juga meyakini kepergian mama dengan cara seperti ini adalah takdir dari Allah. Takdir yang tidak bisa ditolak, takdir yang telah tertulis sejak kita semua belum ada di dunia ini. Aku nggak pernah ingin bersedih di balik kata 'seandainya', karena bagaimanapun, takdir ini pasti terjadi dan waktu tidak akan pernah kembali. Meratapi pun bukan hal yang bisa membantu mama setelah mama pergi.

Aku hanya sedih karena kita gak sempat kumpul, aku belum sempat bahagiakan mama. Mungkin aku gak bagus dalam berkata-kata, pun juga dalam menyampaikan perhatian. Tapi selalu tertanam dalam lubuk hatiku yang terdalam, kalau aku harus membuat mama senang, terutama nanti kalau mama pulang. Aku pengen manjakan mama dengan kebahagiaan dan harta. Kalau diuraikan dalam kata-kata, mungkin begini, "ini loh ma hasil kerja mama capek capek di luar negeri. Anak mama bisa kasih mama semua kebahagiaan dan kenyamanan yang sebelumnya belum mama dapatkan."

Tapi, kepergian mama memutus itu semua. Memutus harapanku di masa depan untuk membahagiakan mama dengan hasil kerja kerasku. Mama pergi ketika tanggung jawab mama sudah selesai, tapi hak mama belum benar-benar tercapai. Hak untuk mendapat kasih sayang dan service dari anak-anak yang mama besarkan. Ini menyakiti hatiku, ma.

Beberapa hari ini, aku mencari tahu, cara membalas budi dan menebus dosa pada orang tua yang telah tiada, terutama ibu. Satu-satunya cara adalah doa. Hanya doa yang mama bisa dengar di alam sana. Tulisan ini pun tiada berarti karena mama gak akan tau aku lagi nangis disini. Rintihan doa memohon kebaikan dan ampunan untuk mama lah yang hanya akan sampai. Atas hal ini, aku berterimakasih sama Allah karena setelah kepergian mama pun, masih ada hal yang bisa aku lakukan buat mama sebagai anak. Biasanya aku yang minta doa, sekarang aku yang akan berdoa buat mama.

Semoga mama bahagia di sisi Allah SWT.

Aamiin.

Quality Gap Manusia Indonesia

          

          Bukan Kerjaannya yang Gak Ada, Tapi Quality Gap yang Besar Banget di Manusia Indonesia

          Emang Iya?

          Tadi siang aku baru aja nonton videonya ci Feli di channel Youtubenya, Felicia Putri Tjiasaka. Di video dengan judul 'Cerita 100Juta/Bulan Pertama' itu, ada satu kalimat yang dimention ci Feli dan menjadi salah satu 'point of interest' aku disitu.

          "Aku ngobrol dan ketemu sama teman-teman, dan mereka cerita kalo aset dan penghasilan mereka segitu-segitu aja. Mana cari kerjaan susah!

          Padahal di sisi lain, aku secara personal dan juga di Ternak Uang lagi nyari banyak orang, tapi susah banget nyari yang kualitasnya sesuai. Dari sini aku berpikir, mungkin bukan kerjaannya yang gak ada, tapi quality gap yang besar banget di manusia Indonesia."

              Hmm..

          Bener gak sih? Padahal.. banyak banget kan lulusan sarjana di Indonesia yang tentunya gak sembarang orang bisa lulus dan meraih gelar sarjana tersebut, dalam artian, mereka ini orang-orang berkualitas lho. Tapi kenapa, yang namanya mencari kerja itu susah ya, di Indonesia?

          Aku juga jadi keinget sama obrolanku dengan atasanku beberapa hari ke belakang. Konteks obrolan kita ini obrolan santai ya, jadi kita lagi ngobrolin hal secara umum, lalu masuk ke topik tentang sumber daya manusia. Kenapa ya, ada orang-orang tertentu yang susah cari kerja, yang level pekerjaannya 'stuck', dan yang bisa terus menerus berkembang? Hal itu kan berpengaruh banget terhadap perjalanan karir, ilmu pengetahuan, juga level keuangan mereka di masa depan. Sebenernya, kondisi apa yang bisa menyebabkan terjadinya gap antara orang yang terus melangkah maju dan orang yang berdiri di tempat?

          "Mungkin itu perpaduan antara kesempatan dan keberuntungan." ucapku waktu itu, menyimpulkan sementara. Tapi sesaat setelah mengucapkan itu, aku merasa kalo, "loh tapi kok gak adil ya. Dua hal di atas kan masuknya ke faktor eksternal. Masa keberhasilan kita ditentukan oleh faktor eksternal aja sih?"

          Dari situ aku berpikir berdasarkan fakta di lapangan. Beberapa waktu lalu, ada beberapa orang kandidat yang dipilih untuk mengisi sebuah posisi di perusahaanku. Mereka berasal dari latar belakang pendidikan yang sama, non-experienced, dan bahkan mungkin bisa dibilang, latar belakang keluarga dengan strata sosial yang sama. Tapi diantara mereka, ada yang dapat belajar sangat cepat dan sangat berinisiatif, bahkan dipromosikan untuk menjadi pemimpin, dan ada yang tetap pada pekerjaannya saja, sekedar mengerjakan sesuai SOP. Gak ada yang salah dari mengerjakan sesuai SOP, tapi melihat sebagian orang yang bisa bereffort lebih sampai dapat membuat atasan melirik, tentu saja bekerja ala kadarnya membuat orang-orang tersebut berpotensi stuck dengan posisinya saat itu.

          "Nah, orang yang kayak gitu tuh emang gak banyak." kata atasanku.

          Hmm iya juga. Gak banyak orang yang memiliki kesadaran untuk mengembangkan dirinya sendiri, entah dengan cara apa. Ada yang memiliki kualitas seadanya, hanya bekerja sesuai kadarnya, tapi menginginkan gaji orang yang bekerja dengan effort luar biasa. Orang-orang seperti itu, jujur saja aku banyak melihat juga contoh nyatanya. Mungkin faktor kesempatan dan keberuntungan juga berpengaruh bagi orang-orang yang berkualitas namun tempat mereka bekerja tak memberi mereka 'lahan' untuk berkarya. Setidaknya orang-orang berkualitas itu pada akhirnya akan menyadari kesempatan yang tidak mereka dapatkan tersebut dan melakukan sesuatu hal lain untuk meraihnya. Beda lagi dengan orang-orang yang merasa tidak diberi kesempatan, kemudian mengeluh dan tidak melakukan apa-apa. Dalam hal ini, 'keinginan' dan 'keingintahuan' menjadi sebuah gap yang amat besar diantara sumber daya manusia yang ternyata sebegitu berpengaruhnya terhadap karir atau masa depan seseorang. Padahal, dari sebuah keinginan dan keingintahuan saja, dapat membuat seseorang menjadi manusia berkualitas yang ternyata dibutuhkan industri yang selalu berkembang.

          Mungkin pembentukan karakter dalam keluarga, akses informasi dan ilmu pengetahuan, sistem pendidikan yang tidak tepat, atau banyak hal lain juga menjadi faktor mengapa seseorang nggak bisa memiliki kesadaran untuk mengembangkan dirinya. Tapi kalau ditelaah lebih dalam,

Orang yang ingin maju akan selalu menemukan solusi dalam setiap masalah yang dimiliki,
tapi orang yang suka mengeluh akan selalu menemukan masalah dalam setiap solusi yang ada.

          Artinya, kualitas seseorang sebagian besar ditentukan oleh orang itu sendiri. Teman-teman Blogger, setuju pendapat ini?

Mencintai

           Setelah perjalanan panjang yang memberi aku banyak pelajaran, sekarang aku sedikit lebih mengerti makna mencintai. Aku bukan orang yang tumbuh dengan cinta dan kasih sayang, dan mungkin itu kenapa aku nggak pernah benar-benar ngerti apa itu mencintai dan dicintai. Tapi ketika aku ngerasain itu, perlahan aku tahu mencintai yang sebenarnya itu ternyata begini.

          Aku nggak pernah tahu gimana caranya mencintai seseorang sepenuhnya, begitu juga gimana cara mencintai diriku sendiri sepenuhnya. Mungkin latar belakangku yang nggak 'penuh' membuat aku jadi orang yang jiwanya bolong-bolong. Aku belum pernah mencintai diri aku sendiri dengan benar-benar.

          Sampai ketika dimana aku mencintai orang lain, dan dihadapkan dengan berbagai persoalan yang sebelumnya aku gak pernah tahu, aku belajar banyak. Aku ingin melihat semua hal yang terjadi dari sudut pandang yang positif. Aku yang dulu terlalu menyikapi segala hal dengan 'seharusnya kehidupan begini kepada aku' bukan dengan 'seharusnya aku begini menyikapi kehidupan'. Tapi aku yang seperti itu dulu aku bisa pahami kenapa, itu proses belajarku dan pendewasaan menuju aku yang lebih baik di masa depan.

          Uniknya, pembelajaran itu aku dapat dari perasaan sayang yang kandas. Aku gak pernah tahu kalau mencintai seseorang bisa bikin aku jadi seseorang yang berpikir dan bersikap dari sudut pandang yang gak pernah aku sangka sebelumnya. Dari situ juga aku belajar cara mencintai diri sendiri.

          Aku gak pernah tahu juga kalau aku bisa bersikap sangat dewasa dan bersikap sangat kekanakan ketika ada di fase mencintai orang lain. Aku gak tau kalau aku bisa nangis gara-gara orang yang kusayang dinegativethinking-in sama orang lain. Aku gak tau kalau aku bisa mengalahkan egoismeku untuk nggak menceritakan hal-hal tentang orang yang aku sayang yang padahal sangat menyakitkan bagi aku. Aku gak tahu kalau aku dibalik cover judes dan dingin ini bisa jadi kekanakan juga ketika dihadapkan dengan masalah-masalah tertentu sama orang yang aku sayang. Semua hal yang aku gak pernah tahu bisa aku alami hanya karena mencintai seseorang.

          Dan yang paling berkesan buat aku, aku bisa menjadi sangat jauh dengan Tuhanku dan aku juga bisa kembali sangat dekat dengan Tuhanku, karena mencintai seseorang. Aku bersyukur dikasih pembelajaran seperti ini di usia sekarang ini. Bagi aku ini memang tepat untuk aku yang memang ada di usia dewasa muda menuju ke dewasa matang.

          In the end of time, aku ingin dan akan selalu menjadi orang yang berpikir dan bersikap positif serta dewasa ketika menghadapi berbagai persoalan hidup. Terimakasih Tuhan karena perkara mencintai dapat mengajari aku banyak hal di berbagai aspek kehidupan.

You've Gone This Far, Sarah

2020.

Tahun yang penuh kejutan. Tiba-tiba ada yang namanya Corona, tiba-tiba dunia berpihak sama orang introvert, karena seluruh dunia disuruh diam di rumah, gak boleh ngumpul-ngumpul. Tahu nggak gimana rasanya hal ini membawa kedamaian buat para introvert? hahaha. Dunia yang berisik tiba-tiba harus berdamai dengan sunyinya rumah, mal, dan tempat-tempat yang dulunya penuh hiruk pikuk.

Di 2020 ini, setelah aku baca-baca lagi apa yang aku tulis di blogku ini belakangan kemarin, aku jadi mikir..

Ternyata udah sejauh ini ya..

Dari aku yang hidupnya kacau balau beberapa tahun kemarin, ternyata aku masih bisa hidup dengan aman sampai hari ini. Allah baik banget udah bantu aku. Aku merasakan banget pendewasaan dari tahun-tahun dimana aku struggling. Aku merasakan perubahan pola pikir, sebagai manusia. Dari aku yang umur 19, 20, 21, sampai sekarang 22, aku tahu betul kalau setiap tahun pola pikir aku berubah. Aku juga merasakan hidup itu bener-bener berubah-ubah, dan aku sedikit demi sedikit mulai mengenal gimana manusia itu sebenarnya.

Dibilang semua badai udah selesai, nggak juga. Hidup itu ada di atas, ada di bawah. Tinggal bagaimana cara kita melaluinya aja. Gimana cara kita menyikapi. Gimana sudut pandang kita. Kalau mau dijabarkan, rasanya sulit. Aku aja bingung gimana aku bisa ngerangkak, ngelaluin hal-hal sulit sampai hari ini. Yang aku yakini, setelah kesulitan, akan ada kemudahan. Bertahun-tahun aku kesulitan, aku yakin Allah lagi nyiapin sesuatu yang baik dan besar untuk aku setelah ini. Sebaik-baiknya berharap hanya kepada Allah, kan?

Setiap kesulitan datang, aku cuma penasaran, hal baik apa ya, yang Allah siapkan buat aku setelah aku melewati ini? itu pola pikir yang aku tanamkan supaya aku memandang hal berat sebagai suatu yang positif. Yah.. bohong sih kalo aku sepositif itu. Kalo ngadepin masalah, mau nangis ya nangis, mau marah ya marah. Aku juga masih belajar buat menyikapi segala hal dengan dewasa. Cuma setelah bisa kembali tenang, aku mikirin itu lagi, hal baik apa yang Allah siapin buat aku setelah ujian ini terlewati.

Aku mulai terbiasa dengan hal-hal yang gak sesuai ekspektasi. Aku mulai terbiasa menghadapi diri aku yang lagi emosi. Aku mulai terbiasa menyikapi perasaan aku yang suka meledak-ledak. Aku semakin kenal diri aku sendiri, dan aku seneng, karena semakin kenal dengan diri sendiri, aku semakin tau gimana cara berdamai dengan diri sendiri. Aku jadi sadar, kedamaian itu mahal harganya.