March 12th 2019, 10.57 PM

          Gak usah banyak basa-basi. Di atas kasur, masih pake baju kerja dan makeup lengkap dan rambut yang masih bagus karna belom ilang efek catoknya, gue ngelamun dan merana merasa kehilangan diri sendiri.

          Gimana enggak, belakangan ini gue stress berat dan semuanya gue tanggung sendiri bebannya di kepala gue yang kecil ini. Entah gue yang terlalu merasa udah habis-habisan atau gue yang baru tahu kehidupan, tapi setelah banyak harapan gue pupuk dan ternyata gak jadi nyata, gue seperti ditinggalkan oleh semua, oleh apapun yang ada di hidup gue, di satu titik ini, titik di mana gue bener-bener gak punya apa-apa dan siapa-siapa.

          Uang gak punya, gue gak tahu hidup gue mau apa, gue gak tahu gue punya siapa. Sebelumnya hidup gue udah cukup parah dengan mengalami gejala stress berat yang hampir ke depresi, mengalami kegagalan di segala usaha yang gue lakukan, dan semuanya selalu berusaha untuk gue perbaiki. Sekarang, bukannya makin baik, gue malah ditambah ujiannya dengan mengharapkan kasih sayang dari orang yang bahkan gak peduli hidup gue mau kayak apa. Plus, rencana-rencana yang sudah gue susun sedemikian rupa untuk masa depan gue hancur berantakan dan sekarang gue bingung mau dibawa kemana hidup gue yg sekarang kacau secara psikis ini.

          Mencoba mencari hal yang gue sukai, tapi nampaknya malah memperburuk diri gue sendiri karena gue jadi bingung apa yang gue sukai dan akan bermanfaat untuk kehidupan gue ke depan. Gue gak bisa hanya melakukan apa yang gue mau tanpa berpikir apa faedahnya buat hidup jangka panjang gue. Berpikir dan mencari tahu tentang itu, leads me deeper to stress, because right now I don't know exactly what I want. Orang yang gak tahu sama apa yang dia mau dan gak tahu apa tujuannya itu orang yang menurut gue parah dan bahaya banget hidupnya, lah dia aja gak tahu hidupnya buat apa. Sepanjang gue hidup gue selalu punya tujuan, tapi sekarang, semua tujuan gue seperti berlari jauh dari gue dan pandangan gue jadi kabur gak bisa melihat apa-apa dengan jelas.

          Gue disini merasa seperti orang bodoh berharap ada dorongan yang bisa membuat gue seenggaknya menjalani hari dengan enteng, sayangnya dorongan yang gue harapkan juga salah satu hal yang membuat gue hancur. Kebingungan nyari obat buat ngatasinnya, gue lebih banyak melakukan hal tidak produktif dan itu semakin bikin gue hancur. Hancur - berusaha bangkit - dihancurkan - semakin hancur - memperhancur diri sendiri. Pola hidup gue belakangan ini.

          Merasa semakin tidak berguna karena melakukan hal tidak bermanfaat. Mencari hiburan dengan menonton hal yang energik tapi nggak memberikan dampak baik, hanya hiburan sesaat. Tidak ingin terpengaruh dengan sosial media namun nyatanya iri dengan mereka-mereka yang dapat kasih sayang begitu banyak dari sekitarnya, dari pacarnya, dari keluarganya, dari orang-orang terdekatnya. Sementara gue disini nangis sendirian tanpa ada satupun yang tahu. Ketika gue cuma mengharapkan kasih sayang, ketika gue sering memikirkan kepentingan orang lain, itu pun gak pernah ada artinya buat mereka. Pada akhir hari gue selalu sendiri. Memikirkan hidup sendiri. Gak ada yang bisa disalahin, karena hidup sendiri itu tanggung jawab sendiri. Lagi-lagi menyalahkan diri sendiri, kenapa lo membiarkan semua ini terjadi sama hidup lo?

          Mulai gak tahan dengan perasaan dan pikiran yang makin berat, mulai mencari hal-hal yang sekiranya meringankan. Dengan tidur lebih lama, misalkan. Sengaja minum obat tidur supaya bisa tidur lebih lama dari biasanya, supaya nggak terpikir hal-hal yang bikin sedih. Kenyataannya, harus selalu ada waktu untuk terjaga. Harusnya dimanfaatkan tapi malah terasa jadi menakutkan. Mencari lagi jalan pintas, selanjutnya mungkin mencari efek tenang dari obat yang akan diberikan psikiater, terserah. Yang penting perasaan ini bisa bebas, pikiran ini bisa kembali sehat, begitu juga dengan badan.

Inikah yang Namanya Dewasa?

          Berbulan-bulan gue galau berat. Entah apa yang gue galaukan. Bukan, bukannya gue galau gak jelas, hanya, saking banyaknya, gue juga bingung ngejabarinnya.

          Gue itu orangnya sangat future-oriented dan selalu ngeplan. Gue tahu apa yang gue inginkan di masa depan, dan gue sudah ngeplan sejak jauh-jauh hari tentang apa saja yang mesti gue lakukan supaya tujuan gue tercapai. Hidup tanpa rencana selalu membuat gue merasa bersalah. Gue orang yang suka mereview apa aja yang udah gue lakukan, dan ketika gue gak tahu gue udah ngapain aja, gue ngerasa bersalah sama diri gue sendiri dan it leads me to overthink.

          Akhir-akhir ini gue sudah mem-plan sesuatu, lalu mulai menjalankan apa yang gue rencanakan. Tiba-tiba rencana gue hancur berantakan. Gak cuma rencana aja yang hancur berantakan, tapi guenya juga ikutan hancur. Gue merenung. Kok gue gak bisa ngontrol hidup gue sampai-sampai hal ini bisa terjadi? apa yang salah dari gue? apa yang salah dari sikap yang gue ambil? gue merenung, berpikir keras, dan akhirnya otak gue terbebani.

          Gue seperti ada di babak baru dalam hidup dimana, gini loh sar, hidup yang sebenernya tuh. Gini loh sar, manusia tuh. Ketika lo gak bisa ngontrol diri lo dari ekspektasi, lo sendiri yang akan kena. Ketika lo dipaksa ngelepasin apa yang lo inginkan, dunia gak akan mau tahu, gimana caranya, lo harus ikhlas. Gue baru tahu kalau yang namanya pasrah dan ikhlas itu beraaaatttnyaaa minta ampun.

          Ketika rencana gue, sekaligus guenya, hancur berantakan, gue kembali bertanya-tanya. Apa yang gue kejar? apa yang gue mau? apa yang gue butuhkan? apa tujuan gue selama ini tuh bener-bener apa yang gue inginkan? apa yang gue lakukan sekarang itu udah bener? trus apa artinya semua yang gue alami sekarang ini? kenapa hal ini bisa terjadi sama hidup gue? kenapa hidup gue bisa kayak drama begini? pertanyaan-pertanyaan berputar dalam otak gue.

           Rencana gue kali ini hancur, lagi, setelah 2018 kemarin juga hancur. Gue bingung mesti gimana lagi, gue hanya mau menata diri gue dulu, karena kegagalan kali ini bukan cuma soal planning yang kacau, tapi juga ngaruh ke psikologis gue. Ambisi, motivasi dan semangat gue mengenai masa depan terasa jadi abu-abu. Gue bahkan gak tahu sekarang gue lagi apa. Kata-kata motivasi dan foto orang yang gue suka gak begitu ngaruh lagi. Anehnya, cuma nontonin Blackpink yang bikin gue agak seneng sekarang, yang sebenernya kagak ada ngaruhnya sama hidup gue.

-End.

Main ke Net TV



          Tanggal 19 Desember 2018 kemarin, gue berkesempatan untuk mengunjungi kantor The East Net TV sekaligus nonton langsung Ini Talkshow di studionya. Hayooo mantap gakkk tuhh hahaha :) Kesempatan ini tidak lain tidak bukan berkat DJ Arie School yang ngadain study tour ke Net TV! Terimakasih DJ Arie School!!

          Hari itu di pagi yang cerah #cie, kita dari DJ Arie School Bandung menggunakan bus menuju Jakarta dan sampai di tujuan pertama kita yaitu studio Mitra sekitar jam 12 siang. Studio Mitra itu gue kurang ngerti tempat untuk bagian apa, tapi yang jelas disana ada banyak properti Net TV yang gue liat. Disana kita ISOMA, dan abis makan siang di bus, kita langsung capcus ke Kantor The East yang letaknya beberapa meter dari Studio Mitra. Dari Mitra kita semua jalan kaki lumayan jauh dan saat itu panas luar biasa (namanya juga Jakarta) tapi tak kurasa lelah haha. Kitapun sampai di Kantor The East dan masuk ke kantornya Net yang ada di lantai 27 - 40 (kalau gak salah).

          Gue kira The East itu semuanya bener-bener punya Net doang, tapi ternyata tidak. Ketika kita sampai disana, yang pertama kita datengin itu adalah bagian gardennya, tempat semacam rooftop untuk ngadem, ngudud, cari angin, ngobrol-ngobrol, merenung, atau mungkin nongkrong cantik buat karyawannya Net.



         Abis ngadem sebentar disini dan liat pemandangan kota Jakarta yang penuh gedung dari garden ini, kita diajak buat ke sebuah ruangan oleh koordinator dari Net TVnya yaitu mbak Danissa. Akhirnya kita kembali memasuki ruangan AC dan disambut oleh sebuah LCD TV yang menampilkan ini

agak ngeblur yee abisnya futu hasil zoom


gue juga lihat ini di ruangan itu, yang entah artinya apa

          Disini ada mbak Danissa, mas Erry, mas Furqon, mbak Ferdiza dari Public Relation-nya Net dan juga mbak Paloma dan mas Adnan yang lagi magang di divisi PR Net. Kita dikasih liat video dan presentasi mengenai company profile-nya Net. Trus mbak Danissa ngasih beberapa penjelasan tentang pekerjaan-pekerjaan di Net TV, dan yang paling gue inget adalah tentang jurnalistiknya. Katanya mbak Danissa, news anchor itu biasanya adalah mereka yang sudah melewati tahap menjadi reporter (waaauuwww), beda lagi dengan presenter yang biasanya diambil lewat casting untuk mereka yang memang basicnya adalah presenter.

          Mbak Danissa juga ngejelasin, di sebuah perusahaan televisi udah pasti banyak banget bagian-bagian yang megang peran penting, ada divisi on air dan off air. Di Net TV sendiri ada bagian yang beda dan mungkin gak ada di perusahaan sejenis, yaitu divisi inovasi. Divisi ini yang bertugas menghasilkan inovasi-inovasi untuk Net dan mengerjakan 360 campaign. 360 campaign itu pekerjaan yang mencari client yang mau melakukan promosi di Net, gak cuma promosi melalui siaran tv, tapi juga di sosial media dan digital assetnya Net dengan strateginya sendiri. Itu juga alasan kenapa Net mungkin iklannya terbilang gak banyak, karena iklannya gak cuma ngandelin dari iklan yang mau ditayangkan di tv, tapi lewat media-media yang lain (WOOOWWWW).

          Masuk ke sesi pertanyaan, banyaknya ngebahas soal cara bekerja di Net TV. Disini kita dikasih tau kalo di Net suka ada Media Development Program atau open recruitment besar-besaran dan mereka yang diterima harus melalui pendidikan militer -layaknya secapa (bagi Anda yang tahu)-. Ada juga yang nanya soal cara magang di Net, dan itu bisa diakses di website Net di laman career. Ada juga yang pembahasan soal bagaimana sebuah program dibuat atau diganti (jam tayang/dihilangkan). 

          Trus di sesi ini Mas Erry sempet ngejelasin juga tentang Net yang targetnya anak-anak muda. Kenapa? orang di usia 30-40 mungkin sudah memiliki tayangan TV atau TV favoritnya sendiri, dan akan sulit mengubah kebiasaan tersebut, terlepas dari apapun programnya. Ayah yang biasanya nonton berita di M**troTV, ibu yang biasanya nonton dangdut di In**siar, mungkin program-programnya sudah tertanam kuat pada orang di usia tersebut. Apa yang mereka tonton juga mungkin ditularkan dan dibiasakan kepada anaknya. Beda dengan anak muda sekarang yang lebih kritis mencari tontonan, mencari apa yang kreatif, yang baru. Net menyajikan itu semua, dan tanpa sadar tertanam menjadi program favorit anak muda, yang kemudian anak muda ini akan menjadi orang tua di masa depan dan menularkan kebiasaan mereka pada anak/keluarganya kelak (WOOOOWWW).

          Trus juga, mas Erry ngejelasin hal yang bagi gue sangat menarik. Di sebuah remote TV, nomor-nomornya udah pasti melekat di penonton, channel nomor 11 apa, nomor 14 apa, nomor 20 apa. Dan ketika masuk satu channel baru, channel-channel lainnya akan berubah, kan. Orang akan malas mencari Net ada di nomor berapa. Menyiasati ini, Net membuat channelnya menjadi channel yang dicari. Bagaimana caranya supaya orang mau mencari Net? dengan cara menayangkan program yang membuat orang rela mencari, tanpa peduli ada di nomor berapa dan apa nama TVnya. Yaitu menayangkan BOLA. Ketika itu Net menayangkan Piala Bhayangkara dan Piala Jenderal Sudirman.

           WOW! iya juga ya. Gue berpikir, mau ada di channel apapun, yang namanya bola itu pasti dicari. Orang rela muter-muter remote dan kalaupun lagi muter-muter batrenya habis, pasti itu remote dibanting kalo sampe gak nemu batre baru, apalagi yang mainnya Persib :'D. Iya iya. Bener banget. MENJADI APA YANG ORANG CARI. Bener-bener nampol di otak gue. Menurut gue ini bisa banget diterapin di segala karir, pekerjaan, dan bisnis. Sederhana tapi mantap dah!

          (Apa yang dibahas saat sesi pertanyaan banyak dijawab oleh Mas Erry dan kebanyakan tentang cara bekerja di Net. Gue gak begitu inget detailnya tapi sudaahh gue rekam semua yang diomongin disana pakek HP gue. Nanti gue share deh rekamannya yaaa)

          Abis itu kita diajak untuk berkeliling melihat-lihat kantor Net ini. Yang pertama ketemu adalah... JENG JENGGG

syuting program "The East"

          Kita berkeliling sambil dijelasin sama mas Erry setiap sudut dan celah kantor Net ini :D
Berikut beberapa foto sudut "The East" yang gue potret.



Editing Room yang nampak sangat private dan anti gangguan

gue lupa ini ruang apa, kalau gak salah ruang kontrol.
Disini ada mesin/tools yang harus dalam tempat bersuhu dingin (kalo gak salah gue pernah nemu yang kayak gini juga di Jonas Photo), makanya ruangan itu ACnya dingin banget dan setiap yang masuk ruangan itu harus pake jaket. 

mas Erry nunjukkin layar yang nampilin rating tv lokal. Top 5 selalu diisi oleh si R, S, An, I, dan duo T :D




ini adalah ruangan yang ngelola asset digital media Net juga nunjukkin trend dan behaviour di internet saat ini. Ada layar yang nunjukkin statistik pengikut dan traffic ke sosmed Net, ada layar yang nunjukkin apa yang paling dicari di internet saat ini.
Pokoknya ruangan ini yang paling bikin gue tertarik karena berhubungan dengan pekerjaan gue sekarang hehehe.



dan ini yang terakhir yeayyy kita ke studio programnya Good Afternoon dan disana gue liat Nadia Soekarno yang cantik syekalihh
*Btw betapa senangnya gue ada di tempat ini, ini tempat dimana gue selalu ingin bekerja (di lapangannya deng)

          Kerasa bentar banget keliling-keliling disana, tapi kita harus balik ke studio Mitra untuk makan sore dan siap-siap nonton Ini Talkshow. Akhirnya jelang maghrib kita ke bus untuk makan dan ganti baju, lalu setengah 7 langsung jalan ke studio Ini Talkshow.

          Memasuki studio Ini Talkshow, ternyata gak cuma kita doang yang berkunjung kesana, tapi ada juga dari Universitas dari kota lain. Sebelum acara mulai, kita diarahin tentang bagaimana prosedurnya selama acara dan selama break (iklan). Ohh jadi gini toh situasi jelang on air sebuah acara. Gue pun langsung teringat ketika Marc Marquez pacar gue diundang ke acara Ini Talkshow, gue berandai-andai jika saja gue nonton langsung gini ketika bintang tamunya pacar guee :""""

          Malam itu bintang tamu yang hadir ada Vena Melinda, Aisyah Aqilah, dan Puteri Indonesia Pariwisata Wilda Situngkir. Penampilan Sule, Andre, Nunung, Mang Saswi, Pak RT Bolot, Dede, Arafah, semuanya gak pernah gagal bikin ketawa ngakak sepanjang acara. Pokoknya gue senenggg banget walaupun terus-terusan berandai tiba-tiba Marquez muncul dari balik jendela wkwk (ngayal banget).




          Setelah segmen ke 5 alias segmen terakhir selesai, akhirnya kita pulang dan mengakhiri study tour Net TV ini.

bye studio!

           Kita semua balik ke Bandung mulai jam 21.30 dan nyampe DJ Arie School sekitar jam 2 pagi. Akhirnya perjalanan pun berakhir dan kita semua pulang ke rumah masing-masing. I was soooo haaawpppyyyy!!!!

            Jadi pengen... punya perusahaan kayak Net... heheheee




          

Ulang Tahun Blog ke-7 dan Kaleidoskop 2018

           Gak nyangka rasanya blog ini bisa terus aktif sampai menginjak usianya yang ke 7. Gila gak sihhh anak gue umurnya udah 7 tahun aja!! gue masih inget banget ketika gue bikin blog ini di sebuah warnet dekat rumah di zaman SMP dulu. Mikirin nama url-nya masya Allah... lamaaaa benerrr ampe lagi sholat pun gue kepikiran, "nama blog aku bagusnya apa yaaa???"

          Blog ini tuh asalnya mau dinamain karyasarah.com, trus diubah jadi beritasarah.com (beritasarah tuh singkatan berbagi cerita bersama sarah hahaha) dan nama ini sempat bertahan beberapa tahun sampe temen-temen gue hapal. Kemudian gue ganti lagi jadi serbasarah sampe sekarang karena gue suka aja sama nama itu. Blog ini juga isinya gak segmented sih jadi kata 'serba' menurut gue lumayan mewakili berbagai genre postingan yang ada dalam blog random ini. Ke depannya mending segmented gak yah? kayaknya sih bakal tetap serba serbi tapi ada satu tema yang paling menonjol. Mungkin lo sudah tahu apa tema yang akan gue tonjolkan tersebut, hehehee

          Walau udah 7 tahun, rasanya gue masih sangat belum memaksimalkan blog ini dan gue merasa bersalah akan hal itu. Makanya, sebagai hadiah ulang tahun ke 7 ini, ketika gue udah dapet duit (sekarang lagi seret), gue janji minimal bakal beli domain dulu dehh sebelum nyampe hosting atau untuk kemudian mempromosikan besar-besaran blog ini. Gue juga ingin banget bisa kenal ama komunitas blogger supaya knowledge gue tentang dunia perkontenan ini semakin bertambah. Padahal pas awal-awal dulu, gue ampe belajar otodidak html dan meta tag gitu loh demi blog ini. Pokoknya road to 8 kita harus berjayaaaa dan kamu akan kuperjuangkan sayanggg!!!

          Ohiya, kebetulan ulang tahun blog gue deketan ama tahun baru. Btw kalian tahun baruan kemana? kalo gue, kayaknya di rumah aja. Liburan ini kayaknya gue mau di rumah aja. Selain karena cucian numpuk, tapi gue juga lebih nyaman untuk menghabiskan pergantian tahun ini dengan berkontemplasi. Cuy, 365 hari ini lu udah ngapain aja? perkembangan apa yang udah lo buat dalam diri lu?

          Kilas balik, tahun 2018 bagi gue adalah tahun yang dahsyat. Gue gak bisa bilang terdahsyat karena mungkin kedepannya ada kedahsyatan-kedahsyatan lainnya, tapi 2018 ini cukup dahsyat bagi kehidupan gue. Kenapa? karena tahun ini mungkin adalah tahun pendewasaan bagi gue. Banyak banget kejadian yang bikin gue mikir keras tentang apa sebenarnya alasan Tuhan menciptakan gue hidup di dunia ini.

          Ketika lo amat-sangat menginginkan sesuatu sampai lo berkorban habis-habisan tapi ternyata hal yang lo inginkan dijauhkan dari lo. Dan ketika lo amat menghindari sesuatu sampai lo membohongi diri lo sendiri seakan lu gak membutuhkan hal tersebut, tapi nyatanya hal tersebut malah bener-bener menimpa lu. Kemudian lu mencoba membuka diri lu dan menerima hal tersebut sampai lo sudah benar-benar menerimanya, hal itu dicabut lagi dari lo, pergi dari lo, hilang dari lo. Semua itu gak henti-hentinya bikin otak gue dipenuhi dengan ribuan 'kenapa', disertai dengan hujan yang gak abis-abisnya turun dari lingkaran hitam putih. Kalo gue boleh ngeluh sekali aja, gue cuma ingin bilang kalau ini semua 'berat'. Tapi kalo gue bisa gambarin kejadian-kejadian ini dan apa yang bisa gue ambil, gue akan sebut kata 'ikhlas'.

          Gue belajar. Gue sadar kalau tahap seperti ini akan selalu pasti ada. Gue juga yakin setiap hal yang tidak menyenangkan akan berlalu, dan gue tahu pasti gue bisa melalui itu semua. Setiap kejadian yang terjadi pada seseorang pasti ada sebab akibatnya. Pada akhirnya, gue bersyukur karena dari kejadian-kejadian ini gue belajar. Gue bisa mendapat 'sesuatu' darinya. Melihat ke depan, ngadepin tahun baru, gue cuma ingin lebih sayang sama diri gue sendiri. Gue sadar, efek mencintai diri sendiri itu dahsyat banget. Gue bahkan belajar soal ini salah satunya dari hal sederhana, yaitu lagu.

          "Cukupkanlah... ikatanmu..
            Relakanlah yang tak seharusnya untukmu..
            
            Sebelum kau menjaga, merawat, melindungi, segala yang berarti
           Yang sebaiknya kau jaga..
            Adalah, dirimu sendiri..."

           "Bungsu"
           - Kunto Aji

          Eh iya, sekarang udah jam 10.30 malem aja. Sambil dengerin Playlist Album 'Mantra-mantra'-nya Kunto Aji yang masih muter dari handphone gue, kayaknya gue udahin dulu aja postingan ini.

          Buat penutup, ada satu quotes keren yang gue baca dari postingan yang muncul di feeds ig gue, punyanya akun @abdulmz_. Lagi-lagi jadi satu pembelajaran di 2018 ini, lumayan juga lah buat closing postingan ini ya,hehe. Menurut gue, kalimat ini definisi sesungguhnya dari 'sayang sama orang'.

         "Aku tahu bahwa setiap pilihanmu adalah jalan yang tak mudah. Jalan yang tidak bisa lagi kupaksakan untuk menahanmu sebentar karena aku terlalu rindu untuk bertemu. Maka teruslah berjalan, tak perlu khawatirkanku yang kau tinggalkan jauh dibelakang. Karena dibelakang sini, aku akan selalu mendoakanmu."

          Such a beautiful way to show your pure love for someone, right?

                                                                             * * *

The More Informed You Are, the Less Arrogant and Aggressive You Are

22 Desember 2018
10.23 PM

Pikiran ini kembali menjalar kemana-mana. Uang dan si fulan ramai menjejali otak gue. Alhamdulillah gue gak lagi emosi seperti seminggu kemarin. Gue bisa berpikir dengan lebih tenang dan terbuka.

Uang. Jujur saja gue paling gak suka dan gak menikmati ketika melakukan/mengerjakan sesuatu dengan tujuan uang. Gak pernah bertahan lama, gak pernah pakai hati. Gue bukan tipe yang bisa bekerja dengan optimal jika tujuan utamanya hanyalah uang. Sialnya, uang itu kebutuhan. Sialnya, gue butuh uang dan uang menjadi sumbangsih dalam kalutnya pikiran gue. Gue gak mau marah-marah dan mengeluh. Gue hanya berpikir, gimana caranya, di saat gue butuh uang sekarang ini, gue bisa enjoy mencari uang tanpa benar-benar sadar kalo gue tuh lagi nyasar uang. Maksud gue, gue tuh gak bisa yang kayak sengaja nyari projekan demi mendapat uang. Gue lebih suka mengerjakan sesuatu yang gue suka, dan uang adalah bonusnya. Tapi hidup gak seidealis itu. Gue hanya harus bisa menerima bahwa hidup tidak bisa selalu idealis lalu kemudian benar-benar menggerakkan diri gue untuk mencari bongkahan uang tersebut. Sebenarnya, kalau baca-baca akun instagram jouska, dapat uang 10juta itu terasa kecil. Gue hanya harus mengembangkan pikiran dan jalur gue agar omongan gue tadi itu terasa benar adanya. Gue percaya kok akan hal itu.

Kedua. Si fulan. Sebenarnya gue gak suka ngomongin orang di blog pake nama samaran kayak gini. Tapi gue bener-bener lagi berpikir keras tentang orang ini, apa sih yang dia pikirkan dan bagaimana dia memandang gue sampai-sampai keadaan gue sama dia bisa seperti sekarang ini? Gue ingin melihat dari sudut pandang dia, supaya gue mengerti. Jujur aja, saat ini gue mungkin belum 100% mengerti, dan ketidakmengertian juga ketidaktahuan bisa menggiring kepada perasangka, buruk atau baik. Yang gak enak, adalah perasangka buruk. Gue menyadari hal itu. Perasangka buruk parahnya lagi bisa menggiring pada emosi yang menimbulkan sikap yang tidak seperlunya ada. Dan itu semua menjadi hal yang merugikan secara fisik dan mental. Gue ingin sekali menghindari ini.

"The more informed you are, the less arrogant and aggressive you are." -Nelson Mandela


Gue percaya sekali akan hal ini. Setiap gue emosi, gue mengasumsikan kalau gue hanya tidak begitu paham posisi yang sebenarnya, atau ada informasi yang gue belum tahu. Atas dasar ketidaktahuan itu, gue mungkin hanya sedang menyimpulkan hal yang sebenernya aja gue gak tahu, dan itu menggiring gue ke emosi. Harapannya, gue bisa meredam emosi gue itu. Tapi praktiknya gak semudah itu, sodara. Mengendalikan emosi, bagi saya ini, bukan perkara gampang, saya masih perlu banyak belajar. Walau petuah Nelson Mandela tadi cukup membantu ketika saya emosi, membuat saya selalu mulai membahas permasalahan dengan pertanyaan, bukan dengan pernyataan tuduhan yang menyudutkan. Kadang masih kelepasan, saya masih perlu waktu untuk belajar.

Masalahnya untuk si fulan ini, beliau nampak menghindar. Saya pun tidak tahu kenapa. Sebenarnya itu hanya 'sepertinya'. Belum tentu dia menghindar, mungkin dia ada urusan yang gue gak paham, sehingga tidak sempat membalas whatsapp gue selama 12 jam. Yah, apa salahnya mikir positif..

Mungkin gue juga yyang terlalu terkesan 'ngegas' ketika bicara sama dia, makanya menimbulkan perasaan yang gak menyenangkan ke dia.

Inti dari maksud gue sebenarnya cuma, gue cuma ingin bicara, gue ingin mengerti sudut pandangnya, supaya prasangka gue gak menjadi-jadi dan gue bisa beraktivitas sehari-hari tanpa beban emosi yang bikin kinerja hancur. Gue lebih nyaman dengan bicara secara personal, pendekatan individual. Bisa dibilang, gue mengejar informasi dari fulan supaya gue ngerti dan ggue gak emosi lagi, so I can get back my inner peace again. That's it.

Tapi emang ya, ada aja kejadian di kehidupan yang bikin lo belajar biar tambah dewasa. Entah itu lewat orang, lewat finansial lo, lewat keluarga, atau apapun. Yah.. mikir positif aja. Siapa tahu besok-besok lo jadi Jack Ma dan kesulitan lo hari ini jadi bahan cerita lucu nan memorable yang bisa lo bicarain ketika lo diundang jadi narasumber di talkshow-talkshow suatu hari nanti, hahaha. Aamiin.

Nonton Suzzanna: Bernapas Dalam Kubur


          Oke oke oke entah kenapa gue seneng banget abis nonton film horror sendirian wahahahaha rasanya pengen ketawa ngikik kaya Luna Maya di film tadi iiiihihiihihihihihihihihihih.

          Gue gak akan cerita tentang isi film ini tapi gue akan menceritakan betapa sukanya gue sama film ini!!! Kenapa? karena memang sesuai ekspektasi, dan emang Suzzanna banget, dari segi pemain, alur cerita, isi film, semua mua muanya Suzzanna banget!!

          Buat kalian yang suka sama Suzzanna si Ratu Horror dan ngikutin film-filmnya di era 70-80an, kalian pasti hapal banget gayanya Suzzanna di setiap filmnya, trus cerita-cerita filmnya kayak apa, dan gimana cara Suzzanna menakut-nakuti walau cuma dengan natap pake tatapan kosong. Suzzanna yang sering banget berperan jadi hantu sundel bolong, trus gayanya yang nakal semasa jadi manusia di filmnya, tapi berubah jadi bener-bener serem ketika udah jadi hantu, semua bener-bener punya kekhasan tersendiri.

          Cerita di setiap filmnya juga yang banyak menceritakan soal kehidupan sehari-hari, tentang sebuah keluarga yang dihancurkan oleh komplotan penjahat, lalu si wanita meninggal dan berupaya balas dendam. Dan entah kenapa gue selalu suka dengan konsep balas dendam dan ketika si tokoh-tokoh jahat di film itu hancur oleh pembalasan dendam hantu Suzzanna, gue ikut puasss (jangan-jangan pengaruh karakter scorpio; suka dendaman wkwk).

           Nah, dalam film terbaru yang diperankan oleh Luna Maya ini, ceritanya juga gak jauh dari kehidupan sehari-hari. Ada tokoh suami istri bernama Suzzanna dan Satria (diperankan Luna Maya dan Herjunot Ali) yang sedang berbahagia karena Suzzanna baru aja hamil. Mereka tinggal dengan tiga pembantunya dan hidup sejahtera, sampai ada komplotan penjahat yang membunuh Suzzanna hingga menghancurkan kehidupannya juga suaminya, Satria.

         Walaupun horror, filmnya juga ada bumbu-bumbu komedinya. Sama seperti film-filmnya dulu, yang biasanya bumbu komedinya dimunculin dengan kehadiran Dorman dan Bokir, di film ini juga hampir sama. Tiga tokoh pembantu, Mia, Tohir, dan Rojali, turut andil memberikan kelucuan di tengah-tengah seremnya mimik muka Luna Maya.

          Ohya, pembalasan dendam hantu sundel bolong pada para tokoh jahat juga mirip dengan film Suzzanna yang dulu. Para tokoh jahat mati dengan cara yang mengenaskan dan bisa dibilang, sadis. Bagi orang seperti gue, melihat dendam terbalas, orang-orang jahat hancur, padahal cuma film, rasanya puas gitu, dan senang, hahaha. Bagi sebagian orang mungkin bakal bergidik ngeri liat darah-darah yang bercucuran terutama di akhir-akhir film ini.

           Soal akting Luna Maya, bisa gue bilang doi total banget. Yaa namanya juga dua orang yang berbeda, tentu aja gak akan 100% sama, tapi gue bisa lihat dan ngerasain kalo Luna bener-bener totalitas berusaha semirip mungkin dengan mendiang Suzzanna, dan itu keren!

           Terakhir, latar yang diceritain di tahun 1989, adanya scene Suzzanna main piano dan nyanyi lagu Vina Panduwinata, alur cerita yang sederhana, menurut gue sangat pas porsinya untuk mengingat kembali Ratu Horror Suzzanna dan film-filmnya yang dulu. Singkatnya, film ini udah Suzzanna banget deh. Dapet.

            So, untuk Anda yang belum nonton, monggooo mumpung masih ada di bioskop!

* * *

            Jadi, kenapa gue bisa nonton Suzzanna sendirian? horror, malem-malem pulak. Inilah bukti ke-hardcore-an gue sama mendiang Suzzanna dan film-filmnya. Yah, gimana. Gak ada satupun yang mau nemenin gue nonton Suzzanna, jangankan buat nemenin nonton, nemenin di kala sedih aja gak ada siapapun tuh di samping gue *ehsalahwkwk.

             Gue ini tipenya emang suka yang jadul jadul, Suzzanna lah, Michael Jackson lah, dan kejadulan-kejadulan lainnya. Tapi kenapa gue bisa suka Suzzanna? tahu dari mana? awalnya itu karena, ANTV suka muter-muterin film hantu Suzzanna terutama era 80-an tengah malem, dan gue mulai nonton dari situ. Gue merhatiin filmnya kocak, horror sih, tapi gak serem-serem amat sampe yang bikin gue jadi kepikiran dan kebayang bayang setan. Gue lebih ke mendapatkan pesan moral, hiburan, dan juga kepuasan melihat dendam yang terbalas. Perbedaan situasi kondisi di zaman itu dan zaman sekarang (dari segi berbicara, berpakaian, dan gaya hidup) juga sering bikin gue terhibur dan tertawa.

           Gue suka juga sama akting mendiang Suzzanna yang keren dan emang selalu serem. Kecantikannya dan gayanya yang khas yang paling bikin gue suka. Kayaknya gue selalu suka sama orang yang punya karakter khas deh. Hahaha.

          Film-film Suzzanna 80-an mayoritas udah gue tonton, mulai dari favorit gue Telaga Angker, Malam Satu Suro, Malam Jumat Kliwon, Sundelbolong, Ratu Ilmu Hitam, Ratu Buaya Putih, Nyi Ageng Ratu Pemikat, dan lainnya. Yang gue sebut ini sih yang paling sering gue tonton dan gue hapal alur ceritanya. Saking sukanya, gue suka promo-promoin suruh orang nonton kalo di antv lagi tayang, kan pernah tuh seminggu lebih tiap malem Suzzanna terus di antv. Trus gue juga presentasi soal 3 film Suzzanna favorit gue pas lagi praktek public speaking di DJArie School, hahaha. Gue ceritain dah tuh alurnya ampe dialog-dialognya sampe durasi buat gue ngomong abis. Alhasil temen-temen gue jadi tahu kalo saya ini Suzzanna hardcore fan wkwkwk.

         Btw abis nonton filmnya tadi mood gue naik abis daaann jadi pengen maraton film Suzzanna! Sebelum menempuh kembali dunia perkantoran yang sedang membetekan besok, baiknya saya me time dulu dengan film-film horror Suzzanna yaa! Byeeee

Satu Hari Putih Biru

          Sambil menangis dan hidung yang tak berhenti meler, aku menggas motorku menembus hujan gerimis di Jalan Ganesa. Jalanan yang di sekelilingnya dipenuhi pohon-pohon besar membuat suasana sedihku di sore itu sempurna. Aku menangis cukup lama dan dalam, namun suaranya mungkin tak terdengar. Hujan gerimis membantuku menyembunyikannya dengan elegan. Jadi kalau ada yang memergokiku menangis dan bertanya kenapa, bilang saja "ini mah air hujan".

          Kenapa aku menangis? alasan klasik, merasa sendirian. Saat itu aku sedang merasa bahwa aku adalah tipe orang yang loyal dan tulus untuk orang-orang yang aku tahu pantas menerimanya. Tapi disaat aku butuh sandaran dan teman ngobrol, yang bahkan bukan untuk aku curhati, tapi hanya untuk mengalihkan isi pikiranku yang mumet, tiada seorangpun. Aku bukannya mengharapkan timbal balik atau imbalan dari ketulusanku untuk orang lain, tapi, kenyataan bahwa sebenarnya tidak ada seseorang yang benar-benar peduli kepada satu sama lainnya, membuatku merasa sedih.

          Sedang kalut dengan pikiranku sendiri, aku melihat wajah yang tampak tidak asing sedang berjalan di trotoar sebelah kiriku. Laki-laki berwajah kalem dengan kemeja biru polo sedang berbincang dan tersenyum pada teman disebelahnya. Aku spontan menyebut namanya.

          "*sensor*!"

          Aku benar-benar shock sekaligus senang karena kupikir tidak akan pernah melihat dia lagi. Laki-laki yang pertama kali membuat aku kepikiran tentangnya siang dan malam tanpa tahu mengapa. Laki-laki yang membuatku hampir melabrak egoku sendiri karena ingin membuat dia tahu kalau aku menyukainya. Saat itu aku hampir menyatakan cintaku pada laki-laki itu. Setiap malam aku galau, berpikir keras sambil menatap dan membaca ribuan kali sejumlah teks yang sudah kutulis di SMS, hanya tinggal menekan tombol 'kirim' maka terbongkarlah semua rasaku saat itu.

          Tapi batal, aku batal melakukannya. Aku tahu dia tidak akan menerimaku. Bukan karena dia punya pacar atau apa, dia bukan laki-laki yang seperti itu. Dia bukan laki-laki yang mau pacaran. Sementara aku juga tidak ingin berbohong dengan menyatakan perasaanku tanpa mengatakan bahwa aku ingin dia menjadi pacarku. Aku tidak ingin membuatnya tidak nyaman dan terjebak dengan situasiku. Aku se-sayang itu padanya.

          Bahkan ketika aku sudah menghapus tentang semua laki-laki yang pernah ada di hatiku dan membuang mereka mentah-mentah, hanya dia. Hanya kepada dialah aku tetap menaruh respek, walau mungkin perasaan sebagai perempuan ke laki-laki sudah hilang dimakan waktu. Hanya kepada dia, seandainya aku punya kesempatan, aku akan berani mengakui kalau dulu aku pernah suka padanya sampai memikirkannya setiap malam dan berniat menyatakan perasaan. Karena aku tahu dia orang yang pantas, orang baik. Orang yang tidak akan menganggap rendah perasaan orang lain walau ia tidak memiliki perasaan yang sama.

          Ah, rasanya ingin sekali menyapanya dan mengobrol panjang dengannya. Ketika aku melihatnya di trotoar tadi, ingin aku bertanya apakah dia mengingatku? apakah dia ingat saat-saat di kelas waktu itu? Duh, aku mendadak rindu suasana kelas siang itu.

          Tangisanku berhenti. Ada perasaan sedikit senang yang muncul di hatiku, yang anehnya walaupun sedikit, tapi kesedihanku seperti hilang seluruhnya. Kulanjutkan perjalananku, menembus hujan yang seperti mendukung pikiranku untuk kembali ke masa lalu. Ke masa dimana aku tidak sadar bahwa yang kulalui hari itu adalah hari yang akan ku ingat hingga aku bertemu kembali dengannya, hari ini. Satu hari di mana dia dan aku masih memakai baju yang sama setiap hari, baju putih biru.